Senin, 26 November 2018

Keikhlasannya Menjadikan Keluarga kami Selalu Bahagia

Bagai buluh perindu, kucoba menulis sepucuk surat. Pada seorang wanita yang telah melahirkanku. Susah payah selama Sembilan bulan mengandungku. Tak pernah dia merasakan lelah atau kecewa. Yang ada selalu kata-kata cinta sambil terus mengelusku yang masih berada di dalam perut.
Tepat Sembilan bulan sepuluh hari, suara teriakan yang memecah sebuah ruangan. Rasa haru bercampur bahagia ditumpahkan oleh ayah pada ibu. Senyuman yang lebar sambil memelukku dan mengumandangkan azan di telingaku. Rasa sakit yang datang terus menerus dalam durasi yang cepat sembuh seketika, seolah ibu tak pernah merasakan sakit yang sebelumnya terjadi. Kebesaran Allah jua yang melupakan rasa sakit itu.
Tangisanku mulai menjadi-jadi. Rasa haus yang begitu mendesakku. Ibu tetap tenang meskipun saluran air susunya belum sempurna bahkan masih tersendat-sendat, hingga berdarah-darah. Tapi kau tetap tenang, hingga akhirnya aku pun bisa merasakan ketenangan itu.
Tahun berganti tahun seiring dengan pertumbuhanku. Dari tengkurap, lalu duduk, kemudian merangkak. Perlahan aku mulai belajar berdiri tapi jatuh lagi hingga aku menangis. Namun kau tetap tenang bahkan hanya mengatakan, “sabar ya sayang kamu pasti bisa”. Kalimat lembutnya, senyumannya, masih kurasakan sampai aku telah menjadi seorang ibu.
Saat aku mulai berumah tangga, perlahan engkau sering menangis, karena engkau masih tidak ingin jauh dariku. Padahal aku telah memastikan bahwa aku tidak akan kenapa-kenapa. Engkau masih ingin selalu dekat denganku, berbagi cerita denganku bahkan sering curhat tentang apa saja. Ku nasehati dirinya tanpa menggurui. Aku hanya ingin dia tetap tenang seperti dulu.
Hari itu, dimana aku jauh di rantau dan tidak pernah bisa kembali untuk beberapa waktu. Dia mulai panik dengan semua situasi kami. Satu sisi aku harus mematuhi suamiku, tapi di sisi lain aku tidak ingin menyakitinya. Saat itulah stress dan beralih ke depresi di alami olehnya. Kadang dia duduk menyendiri, sering menangis dan tidak pernah mau bicara denganku hingga bertahun-tahun lamanya.
Rabb, apakah aku anak durhaka? Aku hanya bisa mendoakan agar Engkau menjaganya, memberi kesehatan padanya dan melindungi dia di mana pun dia berada. Aku yang tidak berdaya berada di posisi yang serba salah. Hanya bisa meratap dari jauh. Rabb kembalikan ibuku seperti dulu. Ibuku yang selalu tenang dan selalu kuat.
Keadaan kami saat itu selalu saja beruntun ujian demi ujian, sampai kami pernah berpikir mungkinkah ibu belum ridho dengan kepergianku yang terlalu jauh. Usaha apa saja yang kami lakukan tidak berjalan lancar. Alhamdulillah, perlahan tapi pasti. Semakin ku yakinkan bahwa aku bisa mandiri di pulau yang berbeda, semakin yakin pula serta ikhlas dirinya melepaskanku pada suamiku. Dia pun mulai sembuh dari depresinya. Sujud syukur yang kupanjatkan, semoga Allah menjaganya. Engkaulah pemilik hatinya dan menjaga keistiqomahannya. Keihlasannya melepaskanku menjadikan keluargaku selalu berada dalam kebahagiaan. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon komentarnya ya 😍. Terima Kasih