Monday, January 14, 2019

Tersenyumlah Untuk Sebuah Kebahagiaan


Tersenyumlah Untuk Sebuah Kebahagiaan
Perjalanan hidup manusia berbeda-beda. Pada saat dia menginginkan sesuatu, kadang keinginan itu benar terjadi. Tapi kebanyakan malah sebaliknya. Keinginan tidak sesuai harapan, membuat manusia ingin merubahnya sendiri dengan berbagai cara. Bahkan mengorbankan orang-orang yang dicintai. Namun demikian, saat titik kelemahan jatuh pada waktu tertentu, membuat dia sadar bahwa semua ketetapan itu telah digariskan oleh sang pencipta.
Adakalanya Dia mengabulkan keinginan-keinginan kita, karena Dia percaya bahwa kita telah mampu menyandangnya. Namun tidak sedikit permintaan kita tidak dipenuhi oleh Nya. Kita menunggu sampai bertahun-tahun lamanya. Hingga tibalah saat yang tepat, Dia memberikan pada kita dengan bertubi-tubi bahkan ditambah dan terus bertambah karunia dari Nya. Adapula permintaan kita tidak dipenuhi sama sekali oleh Nya. Mungkin Dia ingin kita sesalu dekat dengan Nya. Selalu memohon dalam sholat malam yang panjang bersama Nya. Sampai tibalah satu masa, Dia pasti akan mengabulkannya. Kapankah itu? Yah, saat kita telah benar-benar siap untuk menerima semua resiko yang akan ada dihadapan. Benarlah apa yang pernah kudengar. Bahwa perjuangan mencapai sesuatu yang buruk amatlah mudah, namun saat mencapai sebuah kebaikan itu penuh dengan duri. Kita akan terus diuji dan diuji sampai kita kebal dengan semua ujian, sampai kita mampu mengatasi duri-duri itu dengan sikap yang lembut. Perasaan bahagia, positif thingking adalah sebuah benteng pertahanan diri kita menuju keinginan. Tanpa itu, kita bukanlah siapa-siapa.
* * *

Aku tidak menyangka, keputusan yang kuambil awal tahun 2018 merupakan sebuah keputusan yang membuat diriku untuk terus mencoba. Mencoba semua yang kuamati, kurasakan bahkan kutulis pada lembar demi lembar kertas. Hebatnya, semua itu selalu berhubungan dengan satu sama lainnya.
Aku tinggal di lingkungan sekolahan yang dipenuhi dengan anak-anak yang super hebat. Tingkah lakunya luar biasa. Sikapnya yang cuek, tutur katanya semua membuat aku terus belajar dengan mereka. Bahkan salah satu dari mereka memiliki temperamen yang sangat tinggi. Awalnya aku kaget dengan semuanya, namun lama kelamaan aku terbiasa mempelajari tingkah polahnya. Mungkin Allah menitip semuanya kepadaku Karena Dia percaya aku mampu mendidik mereka. Sejenak bulir-bulir air mata ini jatuh tanpa aku sadari. Hanya Dia yang bisa membimbingku untuk mendidik mereka menjadi pengusaha sukses yang berakhlak mulia.
Pernah satu hari, tepat di hari guru, mereka memberikan sesuatu kepadaku. Betapa terkejutnya aku hingga salah satu dari mereka mewakilinya.
“Bu…ini dari kami buat Ibu,” kata Hiro.
“Apa ini, Hiro?” tanyaku.
“Buka aja, Bu. Ada surat di dalamnya,” jawab Hiro
Perlahan kubuka bungkusan coklat bermotif batik yang berisi sebuah pashmina berwarna coklat susu. Warna kesukaanku. Hatiku berbunga-bunga. Mengapa mereka bisa tau warna itu adalah warna kesukaanku?, gumamku. Dalam lipatan pashmina ada selembar kertas putih berisikan beberapa kalimat yang isinya kurang lebih seperti ini.
“Assalamu’alaikum Bu…Selamat Hari Guru ya Bu. Maafkan kami jika selama Ibu mengajar kami tidak patuh dan ngeselin. Dari kami (Hiro, Rafi, Ariq, Labib, Lingga, Faruq, Shan, Caca, Dzaki, Yuna, Kemi, Keysha, Bilal)
Aku terharu membaca isi surat itu. Spontan kuucapkan terima kasih banyak pada mereka. Dalam hati kecilku berkata.
Rabb, betapa kerdilnya diriku. Kadang sempat terbersit mereka anak-anak yang tidak sopan. Namun ternyata mereka memiliki hati yang sangat mulia. Maafkan diri ini yang terlanjur menyimpulkan sendiri tentang semua yang terlihat olehku. Padahal dibalik diri mereka yang polos tersimpan hati bagaikan mutiara. Bukan karena hadiah yang mereka berikan padaku. Tapi perhatian mereka yang besar bahkan cendrung spontan tanpa aku sadari. Semoga aku kuat pada jalan ini.
* * *
Perhatianku berpindah pada lingkungan sekitar tempat tinggalku. Tempat tinggal di pegunungan yang sejuk (Puncak, Bogor) dengan cahaya matahari yang tidak begitu panas dibandingkan di tempat kelahiranku (Aceh). Adalah wajar jika aku mandi hanya sehari sekali. Kadang badan pun tidak berpeluh seharian. Padahal aktivitas gerakku lumayan banyak.
Di sekolah yang dikelilingi oleh rumput-rumput yang digunakan untuk makanan kambing adalah sebuah pemandangan yang tidak asing bagiku. Rumput-rumput ini selalu disiangi oleh pengembala kambing setiap pagi untuk diberikan pada kambing-kambing penghasil susu di peternakan yang berada satu lokasi dengan sekolah. 
Susu-susu tersebut diperah dan disalurkan ke pelanggan sekitar Jabodetabek setiap harinya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku saat itu. Yakni pembuangan limbah kotoran kambing yang tidak tertata dengan baik. Hingga membuat diriku ingin mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Akhirnya hatiku jatuh pada pengolahan kotoran ternak menjadi biogas. Beberapa buku telah kubeli dan kupelajari. Namun karena basic kuliahanku tidak berhubungan dengan semua itu sepertinya begitu sulit untuk kujalani sendiri. Ditambah lagi limbah dapur dari masakan anak-anak sekolahan dan keluargaku. Yaitu pengolahan limbah dapur menjadi pupuk organik padat dan cair. Nantinya kedua pupuk ini dapat digunakan multifungsi. Baik itu tanaman dengan menggunakan media tanah, maupun tanpa tanah atau lebih dikenal dengan tanaman hidroponik.
Semoga di tahun 2019, aku bisa mencari solusi yang tepat untuk mengolah kotoran atau limbah-limbah tersebut. Mengingat juga global warming akhir-akhir ini semakin meningkat tajam. Salah satu buktinya daun yang cepat berwarna coklat karena paparan sinar matahari terus menerus. Padahal tempat tinggalku di pegunungan. Bagaimana jika tanaman itu di pesisir pantai. Alangkah naifnya bukan.
Aku pernah membandaingkan ab mix dan poc (pupuk organic cair) untuk nutrisi hidroponik. Jika ditinjau dari segi harga, poc lebih murah dibanding dengan ab mix. Selain kita bisa memproduksinya sendiri, kita juga tidak harus membelinya di pasaran. Berbeda dengan ab mix. Namun jika dilihat dari pertumbuhannya, hidroponik yang menggunakan ab mix lebih baik daripada poc. Padahal penelitian yang dilakukan oleh orang-orang sebelumku mengatakan bagus-bagus saja dengan menggunakan poc. Bahkan cendrung sama. Mungkin ini disebabkan keterbatasn ilmu yang aku miliki. Aku berharap di tahun 2019 aku mampu mengatasi semua itu.
* * *
Saat hati ini dirundung rindu yang teramat dalam pada kampung halaman, rindu pada masa kecil yang indah bersama keluarga, rindu akan lingkungan kerja yang pergi pagi pulang sore. Rindu pada teman-teman kuliahan yang semangat mencari ilmu. Aku sesalu mengalihkannya dengan menulis. Tulisan apa saja. Aku tidak memperdulikan aturan baku dari tulisan itu. Yang terpenting hatiku terobati dengan tulisan-tulisan yang telah tertuang. Ibarat sebuah teko yang terisi penuh, pasti menginginkan gelas-gelas yang harus diisi agar tidak tumpah ruah. Demikian pikiranku yang dipenuhi dengan semua beban rindu. Ajaibnya, saat tulisan-tulisan itu telah tertuang, aku merasa bahagia. Seperti sebuah terapi emosi hingga stabillah jiwa ini.
Banyak event-event telah kuikuti dengan tujuan mengasah tulisanku menjadi lebih baik. Kata mentor menulisku. Menulislah engkau selalu dan ikutlah lomba agar engkau tau sejauh mana pantasnya tulisanmu di mata orang lain. Kuikuti sarannya. Awlnya mengikuti lomba, aku sering kalah, namun lama kelamaan alhamdulillah aku merasakan hasilnya. Aku bisa menerbitkan 7 buku antalogi di tahun 2018. Aku bahagia bukan karena hadiah yang kudapatkan. Tapi aku bahagia karena aku bisa memberikan sesuatu pada mereka di luar sana. Mereka mungkin tidak mengenalku, tapi setidaknya mereka percaya bahwa aku ada. Jika aku wafat, maka mereka percaya bahwa aku pernah ada.
* * *
Menjalani proses tulis menulis pasti ada upgradenya. Gunanya untuk meningkatkan kualitas diri agar menjadi lebih baik. Meski kita harus disisihkan dari kelompok intensif sekalipun. Itulah yang kualami di tahun 2018 lalu. Aku tersisihkan dari kelompok tersebut hanya karena salah dalam pengiriman naskah, dimana kerangka karangan yang seharusnya dikirim secara terpisah dengan cerpen, tapi aku mengirimnya dengan cara disatukan. Alhasil tersisihlah aku saat itu. Awalnya aku sedih, karena aku telah berusaha keras saat deadline telah mendekati. Aku memang tidak suka mengerjakan sebuah tugas mepet dengan tanggal yang ditetapkan. Namun saat itu terpaksa aku lakukan, mengingat kondisi safar yang kualami tidak memungkinkan aku untuk mengerjakan sebuah tulisan dalam seminggu. Namun dengan usaha yang keras saat tiba di tempat kediamannku, dengan melawan rasa ngantuk demi sebuah tulisan, kupaksakan menuntaskannya. Alhamdulillah selesai. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Tulisanku tidak diterima hanya sebuah alasan tadi. 
Awalnya aku sedih, namun lama-kelamaan aku menerima semua kenyataan yang ada. Toh seharusnya aku lebih teliti dalam setiap keadaan meskipun saat segenting apapun. Semoga semua menjadi pengalaman hidup ke depan bagiku. Setidaknya aku bisa lebih belajar mengatasi sebuah persoalan.
Aku ingat sebuah nasehat dari guruku. Kesabaran akan membuahkan kebahagiaan. Terimalah semua dengan lapang dada. Tetaplah selalu tersenyum. Tersenyum pada keadaan kita. Tersenyum pada orang-orang yang menyakiti kita. Tersenyum pada diri kita sendiri. Karena senyum itu akan membawa kebahagiaan. Aku yakin tahun 2019, aku bisa meraih semua yang kuinginkan. Tentunya mengharap ridhomu …. Rabbi.

Terima kasih atas kunjungannya. Silahkan tinggalkan pesan atau saran seputar tema pembahasan :).
EmoticonEmoticon