Kamis, 30 April 2020

Bercermin Pada Anak Dalam Menebar Kebaikan

Bercermin Pada Anak Dalam Menebar Kebaikan

Bercermin Pada Anak Dalam 
Menebar Kebaikan
Posted by ana_susan 30 April 2020


“Umi, ada uang kertas tidak?” tanya Aisyah suatu hari.
“Untuk apa sayang?” jawabku singkat.
“Untuk dimasukkan dalam kencleng yang akan didonasikan ke orang Palestina,” jelasnya sambil memperlihatkan kotak persegi yang bergambar anak Palestina.



Aku pun tersentak dengan teguran santunnya. Telah lama kotak itu berada di kamarku. Namun beberapa waktu lalu aku harus menata ruang rumah dan kencleng itu entah berada di mana karena pindahan. Aku pun jadi lupa untuk mengisinya setiap hari.

Aisyah menyimpan kencleng itu di atas lemari bajunya sendiri. Ternyata uang jajan yang sering aku berikan padanya, sebagian dimasukkan ke dalam kencleng tersebut. Jika uang jajannya habis, dia akan minta lagi di hari berikutnya serta menyisihkan uang kertas seperti biasa.

Kencleng tersebut disebarkan oleh teman suami pada sekolah suamiku. Hal ini dilakukan agar para anak didik dibentuk untuk ingat pada orang lain yang sedang membutuhkan.

Setelah donasi semua peserta didik dirasa penuh, baru kemudian dikirim olehnya ke Palestina. Sebuah bentuk kebaikan rutin yang sederhana yang bisa dilakukan untuk orang lain.

Belajar Dari Petani



Foto : Dokumen Pribadi. Padi yang telah menguning sebagai hasil kebaikan dari petani

Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan sawah yang siap dituai padinya oleh sang penuai. Rasa lelah yang terakumulasi membuat sosok bertopi dan memegang pacul itu memberi senyuman pada hasil tuaiannya.

Betapa tidak, padi yang berawal dari benih. Lalu dirawat dengan cara memberi pupuk maupun menyiramnya dengan aliran air. Setelah itu, pekerjaannya belum selesai. Dia harus menunggu dan mengawasi beberapa minggu kemudian. Saat padi mulai menguning, tak dibiarkan seekor burung pun menghampiri tanaman padi.

Lantas, apa yang didapatkan setelah itu? Yah HASIL PANEN. Hasil panen inilah yang akan dia dapatkan dan akan dirasakan pula oleh orang banyak. Kita hanya menikmati hasilnya saja, namun mereka menikmati hasil panen dengan perjuangan yang amat panjang serta melelahkan.

Itulah kebaikan yang telah dilakukan oleh para petani. Kebaikan apapun yang dia lakukan, sejatinya adalah untuk dirinya sendiri (yaitu mendapatkan hasil panen yang memuaskan).

Menebar Kebaikan di Mana Saja

"Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri..".(QS Al-Isra':7)

Ayat di atas memberi penjelasan pada kita, bahwasanya kebaikan itu merupakan amalan soleh kita. Amalan yang dicontohkan oleh Rasulullh SAW beserta sahabatnya.

Amalan itu bisa dalam bentuk apa saja. Asalkan kita melakukannya dengan hati yang ikhlas tanpa mengharap imbalan apapun. Begitu luasnya ladang kebaikan yang Allah sediakan pada kita. Seluas langit dan bumi. Hanya saja kita buta dalam pelaksanaannya.


Foto: Dokumen Pribadi, desain pribadi di Canva


Bercermin dari Aisyah dengan segala kepolosannya, kadang membuat aku serasa ditampar tidak langsung. Keantusiasannya dalam memberi makan kelinci, menyayangi kucing dan memberi makan ikan adalah bentuk dari empatinya yang murni.

Belum lagi ucapan cinta, yang kadang aku sebagai orang tua lupa. Lupa disebabkan keegoanku yang berada di depan. Padahal bentuk kesederhanaan itulah yang menjadi tambahan kebaikan bagi kita.


Masih Bingung Cara Menebar Kebaikan ?

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (QS Al-Zalzalah:7).

Dalam situasi pandemi Covid-19, kadang kita berpikir bingung untuk melakukan kebaikan. Mengingat tidak bisa memberi langsung pada orang yang membutuhkan disebabkan pemberlakuan social distance.

Namun, jika berangkat dari ayat di atas, kita tidak perlu bingung. Mengapa? Karena kita telah dibekali ragam nikmat.

Ada tangan yang bisa digunakan untuk membantu atau bersedekah dan berzakat. Dimana dengan bersedekah dan berzakat itu kita telah memberi sebagian ruang kebahagiaan untuk orang lain.

Ada mulut dan lidah yang bisa digunakan untuk tilawah dan berbagi ilmu pengetahuan pada orang lain. Dan masih banyak lagi.

 Lalu kesulitan apalagi yang kita keluhkan?

Zakat Sebagai Bentuk Kebaikan Pada Sesama

“Umi, zakat itu apa?” tiba-tiba Aisyah membuyarkan lamunanku yang sedang menikmati suasana Gunung Salak.

Zakat itu adalah salah satu rukun Islam. Secara bahasa artinya bersih, suci, berkah dan berkembang. Dinamakan zakat karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan. Semua diberikan pada orang yang benar-benar membutuhkan,” jelasku.
.
“Umi sudah zakat?” tanyanya lagi.

Lagi-lagi anak gadisku mengingatkanku pada kebaikan.

Aku sangat bersyukur memiliki anak yang sering mengingatku pada kebaikan. Usianya yang muda tidak menjadikan aku kesal atau bersikap acuh, namun sebagai teguran dari Allah atas kealpaanku. Meski tindakan kebaikan itu selanjutnya adalah suami sebagai kepala keluarga yang akan menyalurkan zakatnya.

Mudahnya Penyaluran Zakat Melalui Dompet Dhuafa


Foto : desain pribadi di Canva

Suamiku biasanya menyalurkan zakat pada kepala RW. Kemudian kepala RW mendistribusikannya ke masyarakat yang membutuhkan. Tapi kadang kala di beberapa daerah lain terjadi penyalahgunaan dana zakat. Sehingga dana tersebut tidak pernah sampai ke penerima zakat.

Ada sebuah lembaga yang telah berdiri sejak 25 tahun yang lalu tepatnya  pada 4 September 1994. Lembaga ini bernama dompet dhuafa. Ada sekitar 130 program pemberdayaan umat di sana. Diantaranya mencakup di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial budaya dan dakwah.


Foto : dompetdhuafa.org, desain by pribadi di canva


Semuanya bergerak untuk memberdayakan umat manusia di bidangnya masing-masing. Amir, misalnya seorang pecandu narkoba yang berubah 180 derajat menjadi berdaya dan bermanfaat. Semua karena Allah dan juga zakat dari donatur yang berdonasi di dompetdhuafa.org.

Tenang saja, jangan takut dengan lembaga ini. Karena lembaga ini telah dikukuhkan sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) oleh Kementrian Agama sejak 2001. Levelnya juga bertaraf nasional. Artinya siapapun dan di mana pun orang berada bisa menyalurkan zakatnya di dompet dhuafa.

Pilihan cara membayar zakatnya pun terbilang lengkap. Dapat melalui antarbank, online, bahkan jika kita sibuk, zakat juga bisa dijemput oleh mereka ke tempat kita.

Selain itu, mereka juga menyediakan fitur kalkulator zakat di laman resminya. Fitur ini sangat membantu kita untuk menghitung kewajiban zakat yang harus dikeluarkan secara tepat.

Jadi, mudahkan! Masih menganggap sulit untuk berzakat sebagai salah satu kebaikan berbagi? No, semua kebaikan jelas melimpah dan ada di mana-mana. Tak terhitung jumlahnya dan pastinya, waktu 24 jam dalam sehari adalah masa yang cukup sebagai bentuk kebaikan berbagi kita pada sesama.

Jangan pernah takut untuk menebar kebaikan apapun, meskipun hanya bercermin pada seorang anak kecil. Yakinlah apapun yang ada di alam ini sebabagi fenomena untuk lebih memperhatikan antar sesama.

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya (HR.Muslim)”

Bagaimana pendapat teman-teman? Silahkan tulis pengalaman kalian ya selama berzakat dan menebar kebaikan di kolom komentar.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Rabu, 29 April 2020

5 Hal yang Akan dilakukan Jika Covid-19 Berakhir

5 Hal yang Akan dilakukan Jika Covid-19 Berakhir

5 Hal yang Akan dilakukan Jika Covid-19 Berakhir
Posted by ana_susan, 29 April 2020




“Umi, kapan kita bisa pergi ke Botani lagi? Aisyah pingin baca-baca buku yang baru,” kata Aisyah suatu pagi. Wajahnya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam terhadap Covid-19 yang belum berakhir”

Hati ibunda mana yang tidak sedih saat sang anak mengeluh akan sesuatu hal yang dia sendiri belum tahu jawabannya ada di mana. Sikap yang santun dan bijak ibu pada anak, mampu membuat sang anak mengerti akan situasi yang sedang terjadi sekarang.

Kasus korona seolah tidak pernah berakhir. Melihat situasi yang tidak bisa ke mana-mana. Suasana mencekam diliputi rasa takut. Ditambah lagi harus tetap di rumah saja.

Menurut berita online kompas pada (Rabu, 15/4/2020), kasus korona di dunia mendekati angka 2 juta kasus. Angka ini dikutip dari Wordometers. Virus tersebut telah menginfeksi 1.997.906 orang.

Angka tersebut mendekati dua juta. Akankah pandemi Covid-19 ini berakhir?

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang wajar. Apalagi bagi seorang anak kecil seperti Aisyah. Untuk menjawabnya butuh kata-kata yang mudah dimengerti olehnya. Apalagi dengan usia anak-anak seperti dia masih menginginkan eksplorasi yang tinggi.

Para Pakar di sejumlah institusi di Indonesia telah memprediksi berakhirnya Covid-19 dengan model perhitungan yang berbeda-beda.

Ahli statistik dan alumni FMIPA UGM (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada) memprediksi pandemi Covid-19 berhenti pada 29 Mei 2020 di Indonesia.

Ahli dari P2MS ITB (Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung) memprediksi pandemi Covid-19 akan berakhir pada April 2020

Badan Intelijen Nasional (BIN) memprediksi puncak dari pandemi Covid-19 adalah tanggal 22 Mei 2020.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany memprediksi pandemi Covid-19 akan selesai pada Mei 2020.

Semua prediksi tersebut tidak lepas dari kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga jarak dan tidak ada kontak tatap muka. Sutanto (Ilmuwan Matematika Universitas Sebelas) menambahkan bahwa kasus Covid-19 bisa berakhir bergantung pada kebijakan pemerintah.

Namun demikian, bagi aku pribadi tentunya harapan berakhirnya Covid-19 sangat diharapkan. Tujuannya agar kehidupan kembali normal seperti sedia kala.

Ada 5 hal yang akan aku lakukan bersama keluarga jika Covid-19 ini berakhir:

1. Ke Toko Buku


Foto : pexels.com, Toko Buku


Buku adalah jendela dunia. Ungkapan itu telah sering kita dengar atau sangat familiar. Benar adanya, bahwa buku menjadikan kita bisa melihat dunia. Meskipun uang yang kita miliki tidak cukup untuk sampai ke sana. Tapi setidaknya kita memiliki gambaran tentang semua belahan dunia.

Bagiku pribadi pergi ke toko buku sebulan sekali bersama keluarga sangat penting. Mengingat banyaknya terbitan buku baru lagi dan lagi. Hal tersebut sangat disukai oleh salah satu anak bungsuku bernama Aisyah. Kalau sudah ke toko buku, pasti yang akan dilihatnya adalah buku-buku Kecil-Kecil Punya Karya, atau buku dengan cover princess.

2. Jogging


Dokumen Pribadi : Jogging di sekitar pelataran sawah dan kebun penduduk


Rutinitas jogging sering aku lakukan bersama anak-anak setiap sabtu. Udara yang segar, menikmati pelataran sawah yang membentang, melihat kerbau yang sedang membajak sawah atau sekedar membeli jajanan saat setelah joggingnya sampai pasar.

Kebetulan tempat tinggalku dekat dengan pasar. Daerahnya sekitar pegunungan. Lokasinya diapit oleh dua gunung, yaitu gunung Salak dan gunung Pangrango.

Sebenarnya tidak masalah sih jika aku dan anak-anak tidak jogging juga. Namun, nilai yang diperoleh akibat jogging sangat berbeda. Aku bisa olah raga sambil belajar dengan anak-anak. Dan itu sangat disukai oleh mereka. Apalagi setelah pulang menangkap ikan kecil yang ada di sekitar perairan sawah.

3. Jalan-jalan di Beberapa Tempat Wisata


Dokumen Pribadi : Aisyah sedang memberi makan seekor kelinci di "The Runch"


Tempat wisata memang diperuntukkan bagi para pengunjung untuk melepaskan rutinitas kerja selama seminggu. Kegiatan ini akan mempererat hubungan antar anggota keluarga.

Bagiku pribadi, jalan-jalan di beberapa tempat wisata biasanya kulakukan sebulan sekali. Yah, ini disebabkan baru gajian. He he. Menikmati berbagai suguhan makanan dan arena permainan dan spot yang disajikan membuat anak-anak sangat senang dan ingin kembali lagi.

Tempat wisata yang sering ku kujungi adalah “The Runch”. Tempat ini berolakasi di Jalan Raya Puncak Bogor. Lumayan bisa mengajarkan anak memanah, berkuda seperti yang disunahkan oleh Rasulullah SAW. Atau sekedar memberi makan kelinci.

4. Berkumpul Bersama Teman-teman


Dokumen Pribadi : Kumpul bersama teman-teman



Kegiatan yang satu ini, jarang sih aku lakukan. Soalnya tempat yang diadakan seringnya jauh dari rumahku. Untuk melewatinya harus melalui kemacetan jalan di beberapa tempat.

Namun, kadang aku memanfaatkan momen pertemuan dengan mereka jika aku pergi bersama keluarga. Tentunya dengan izin suami juga. Aapakah beliau bersedia atau tidak meskipun sesaat.
Kadang juga aku bertemu dengan sesama grup kepenulisan. Untuk yang satu ini juga lama. Kadang tiga bulan sekali atau enam bulan sekali. Kalau untuk pengajian, biasanya aku berkumpul dengan teman-teman seminggu sekali dan itu jaraknya dekat.

Kegiatan ini penting menurutku, karena dengan bertemu teman-teman, aku bisa mengetahui banyak hal. Seperti curhatannya, kesuksesannya, saling memberi masukan, dan masih banyak lagi.

5. Makan Bareng Keluarga


Dokumen Pribadi : Aku bersama keluarga makan bersama


Hal terakhir yang ingin aku lakukan jika Covid-19 berakhir adalah makan bareng keluarga. Destinasi yang kami kunjungi biasanya mall yang telah menyediakan buku, belanjaan keperluan dapur dan jajanan anak-anak. Hal ini aku lakukan agar menekan pengeluaran tidak terlalu banyak.

Selain di mall, aku dan keluarga makan di restoran arab untuk menikmati nasi kebuli. Kebetulan suami dan anak-anak pencinta nasi kebuli. Tempat yang kami kunjungi juga berada di seputar jalan Raya Puncak Bogor.

Itulah lima hal yang akan aku lakukan jika Covid-19 berakhir. Bagaimana dengan kamu. Kegiatan apa saja yang akan kamu lakukan? Isi dikolom komentar ya. Biar tambah seru.

#ChallangeBPN2020_07

 Sumber :
 https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/15/102900765/hampir-2-juta-kasus-kapan-pandemi-virus-corona-akan-berakhir-

https://www.sehatq.com/artikel/kapan-pandemi-virus-corona-akan-berakhir-cek-prediksi-ahli

Selasa, 28 April 2020

Pentingnya Masker Antara Sebelum dan Sesudah Covid-19

Pentingnya Masker Antara Sebelum dan Sesudah Covid-19

Pentingnya Masker Antara Sebelum dan Sesudah Covid-19
Posted by ana_susan, 28 April 2020


Foto : pexels.com




“Jas putih berlengan pendek yang dipakai sampai sebatas lutut, menyelimuti bagian terluar dari gamisku. Sarung tangan yang tersedia di dalam kantong jas serta masker mulut yang terpasang di sebagian wajah. Aku pun siap memasuki ruang laboratorium.”

 Itulah rutinitas yang kulakukan setiap kali aku memasuki tempat yang dipenuhi bahan-bahan kimia. Jika salah satu saja tidak ada, maka aku tidak diperkenankan untuk masuk. Tidak itu saja, sepatu yang tebal harus dikenakan mengingat bisa saja bahan kimia tersenggol atau tumpah tanpa disengaja dan akan mengenai kaki.

Hal yang paling rentan mempengaruhi tubuh adalah bagian mulut. Jika ada bahan kimia tertentu yang terhirup tanpa sengaja dan itu tergolong bahan kimia berbahaya, maka secara tidak langsung akan mengganggu organ-organ tubuh.

Untuk itulah penggunaan masker yang tepat dapat mengurangi bahkan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Lantas, sebenarnya masker itu apa?

Menurut KBBI, masker adalah kain penutup mulut dan hidung (seperti yang dipakai oleh dokter dan perawat di rumah sakit).

Penggunaan Masker Sebelum Covid-19

Seperti telah disebutkan di atas, penggunaan masker sebelum covid-19 masih tertuju pada manfaat tertentu saja. Bisa digunakan di laboratorium, di rumah sakit atau saat terserang flu, atau untuk menghindari polusi udara yang kian bertambah.

Jenis masker yang digunakan juga beragam. Mulai dari masker medis, masker kain, masker karakter dan masih banyak lagi. Pada penggunaan masker untuk orang yang sehat, tidak diharuskan. 

Bahkan kadang yang sakit pun (terutama flu) tidak memiliki inisiatif untuk memakai masker. Ada yang berkata ribetlah, susah bernafaslah dan masih banyak alasan lain untuk menghindari.

Jika ditinjau lebih lanjut, penggunaan masker bagi seseorang yang sakit flu sangatlah penting. Tujuannya agar tidak menjangkiti orang di sekitarnya. Baik yang memiliki imunitas tinggi atau tidak.

Penggunaan Masker Sesudah Covid-19

Berbeda halnya dengan penggunaan masker setelah Covid-19. Di mana, masker bukanlah sebuah benda yang asing dan merepotkan lagi. Dia dicari oleh banyak orang. Bahkan stok yang tersedia pun kadang habis di pasaran. Dengan penimbunan dari pihak tertentu, atau penggunaan yang sekali pakai.

Jadi sekarang masker telah menjadi benda rebutan semua orang. Ditunggu dan dicari. Bagiku pribadi, penggunaan masker sangat penting. Saat harus terpaksa keluar sekedar berbelanja atau bertemu tamu. Karena aku tinggal di kawasan sekolah.

Sesuai dengan pernyataan WHO, anjuran memakai masker tidak hanya ditetapkan pada orang yang sakit. Akan tetapi, orang yang sehat pun harus menggunakan masker. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghambat penyebaran Covid-19.

Pemakaian masker pun dilakukan selama beberapa waktu ke depan. Sejumlah pakar menekankan pemakaian masker sampai satu tahun ke depan. Setidaknya sampai vaksin Covid-19 ditemukan. Untuk mengantisipasi hal yang buruk, ada baiknya memakai masker selama keluar rumah. 

Sebegitu pentingkah masker untuk sekarang? YA. Masker sangat penting dan selalu diburu dan dinanti.

Jadi, jenis masker seperti apa yang harus kita pakai?

Tentunya jenis masker yang bisa melindungi kita dari berbagai penyakit. Tidak sepenuhnya sih, namun setidaknya memperkecil tertularnya penyakit khususnya Covid-19 yang sedang marak sekarang ini.

Ada tiga jenis masker yang disarankan untuk masyarakat. Yaitu masker kain, masker medis dan masker N95. Ketiganya memiliki fungsi tersendiri.


Masker Kain

Masker jenis ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang keluar rumah dengan hanya belanja bulanan atau sekedar pertemuan penting dan sesaat. Jika penggunaan masker kain secara benar, maka akan tetap mampu mengurangi penyebaran Covid-19 di masyarakat.


Masker Medis

Masker medis atau surgical mask, adalah jenis masker yang sekali pakai. Biasanya digunakan oleh pekerja yang berada di rumah sakit. Masker ini terdiri atas tiga lapisan. Lapisan luar yang anti air, lapisan tengah yang menfilter kuman dan lapisan dalam yang menyerap cairan yang keluar dari mulut.

Jenis masker ini sangat disarankan bagi orang sakit.


Masker N95

Masker ini digunakan oleh tim medis yang kontak langsung dengan penderita Covid-19. Seperti dokter dan perawat yang bekerja di ruang isolasi khusus Covid-19 atau IGD.

Desainnya yang terlalu ketat dan sulit untuk bernafas tidak disarankan oleh masyarakat umum. Apalagi untuk anak-anak. Harganya juga mahal.


Masih Tetap Pakai Masker?

Masker tetap kita pakai. Dalam sebuah penelitian di Pusat Epidemiologi WHO di Hong Kong mengatakan masker medis terbukti secara signifikan mengurangi jumlah virus yang terdeteksi dalam partikel yang dilepaskan saat bernafas dan batuk.

Dengan menggunakan masker secara rutin berarti kita telah mengikuti saran pemerintah dan WHO untuk memperlambat penularan Covid-19. Semoga Covid-19 ini segera berakhir dan semoga kita selalu dalam keadaan sehat.

#ChallangeBPN2020_06 

Sumber : 
https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4225778/alasan-masker-harus-tetap-dipakai-meski-pandemi-corona-covid-19-nanti-berakhir# https://www.alodokter.com/inilah-pilihan-masker-untuk-virus-corona 

https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/08/163200523/masker-terbukti-efektif-kurangi-penyebaran-corona-ini-penjelasannya?page=1

Senin, 27 April 2020

 Mengapa Harus Social Distance?

Mengapa Harus Social Distance?

Mengapa Harus Social Distance?
Posted by ana_susan, 27 April 2020

Social distance atau social distancing merupakan salah satu cara untuk memerangi Covid-19”


Foto : pexels.com


Pernyataan tersebut sering terngiang-ngiang di telinga kita akhir-akhir ini. Seiring merebaknya wabah pandemi Covid-19 yang mendunia. Tapi mengapa harus social distance? Sebenarnya apa sih social distance itu?

Pengertian Social Distance atau Social Distancing

Social distance atau social distancing adalah jarak sosial. Atau pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah. Dulu sebelum pandemi ada, memutuskan suatu hal harus dengan musyawarah dan diadakan di tempat terbuka atau tertutup dalam suatu wilayah dengan peserta yang banyak.

Demikian juga dengan seminar, kuliah, kegiatan belajar mengajar dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan agar penyampaian pemateri dengan pendengar ada interaksi langsung dan lebih leluasa dalam bertanya maupun memahami serangkaian peraga yang disampaikan.

Namun setelah pandemi Covid-19, kita harus mengurangi bahkan tidak melakukan pertemuan sosial tertentu. Kegiatan hanya dilakukan secara online dengan mengisi quota internet yang cukup. Bahkan aplikasi Zoom yang lagi ngetren sekarang menjadi prioritas utama.

Pentingkah Social Distance?

Iya, social distance itu sangat penting. Mengingat penularan Covid-19 sangat rentan pada orang-orang yang sering berdekatan. Apalagi salah satu di antara mereka terjangkit Covid-19.

Ibarat sebatang korek api yang berkumpul sesamanya, maka jika satu batang korek api terbakar dan mendekati yang lain, maka dia akan membakar korek api yang berada di dekatnya.

Nah, bagaimana caranya jika korek api yang tidak terbakar tadi tidak akan kena percikan korek api yang sendiri? Pastinya mereka harus menjauh kan?

Penerapan Social Distance di Beberapa Negara
  Sebenarnya, Social distance bukanlah sebuah istilah baru. Sejak zaman dahulu, di mana pernah mewabahnya penyakit kolera. Orang-orang yang terjangkit penyakit tersebut diisolasi atau dipisahkan dari orang-orang yang sehat agar tidak menular. Demikian juga flu biasa yang kita rasakan. Jika seseorang terkena flu, maka dia wajib memakai masker agar tidak menulari orang lain dengan penyakit yang sama seperti dirinya.

Jadi penyakit apapun yang kita alami, agar mengurangi penularan ke orang lain, wajib untuk mengisolasi diri atau tidak melakukan kegiatan tertentu dengan orang banyak (social distance).

Cina, Korea Selatan, Thailand dan Filiphina merupakan negara yang telah lama melakukan social distance, jauh sebelum penularan Covid-19 kian melebar. Seperti antrian yang tidak berdekatan, saat makan di restoran dengan istilah “one man one table”, adanya police line saat peribadatan berlangsung dan terdapat stiker aturan berdiri saat di lift.

Semua itu dilakukan dalam rangka penerapan social distance untuk memerangi Covid-19.

Adakah Jarak Social Distance?

Sebagai kepala keluarga yang harus memenuhi kebutuhan anggota keluarganya misalnya. Di waktu tertentu mutlak dilakukan. Apalagi jika stok makanan di rumah telah habis.

Mau tidak mau, dia harus keluar dan bertemu orang-orang. Akhirnya pelanggaran social distance dibatalkan sesaat. Namun, jangan sedih, ada satu hal yang harus dia terapkan sebelum beranjak pergi. Yaitu menjaga jarak setelah menggunakan masker tentunya.

Jarak berdiri antar dirinya dengan sekumpulan orang disekitar adalah sekitar lebih dari 1 meter. Ukuran ini telah ditetapkan oleh WHO. Bahkan pakar kesehatan menyarankan jaraknya setidaknya 6 kaki atau 2 meter dengan orang lain.

Mengapa Harus Social Distance?

  Bagi orang-orang terbiasa berkumpul atau bertemu dengan orang ramai, atau sekedar berbelanja ke mall dan pasar, kegiatan social distance sangatlah menyiksa. Hidup tiada arti rasanya.

Namun, mau tidak mau dan suka ataupun tidak suka hal itu harus dilakukan. Karena Covid-19 ini terbilang virus yang sangat serius. Buktinya, seluruh dunia merasakannya dalam waktu yang singkat. Kematian juga tercatat meningkat setiap hari.

Jadi haruskah social distance? Jawabannya HARUS.

Alasan Harus Social Distance
  
Social distance HARUS dilakukan. Mengapa? Seumpama korek api di atas tadi. Jika satu telah tertular maka akan banyak korban berjatuhan lainnya. Separah itu kah? IYA.

Mengapa? Karena Covid-19 ini terbilang virus yang sangat agresif. Hal ini diungkapkan oleh dr. Erni Juwita Nelwan, MD, FACP, FINASIM dalam acara sharing session Fimelahood from Home in Collaboration with the Conversation Indonesia pada Kamis (26/3/20). Beliau juga menambahkan bahwa ada masa inkubasi di mana seseorang yang merasa sehat karena sistem imun tubuh yang baik, namun tetap bisa menularkan orang lain.

Erni juga mengatakan, penularan Covid-19 dapat melalui dua ukuran droplet. Yaitu besar dan kecil. Droplet yang ukuran besar akan memindahkan virus melalui tangan. Seperti saat bersin dan batuk. Sehingga jika orang sakit itu memegang di beberapa benda sekitarnya akan menularkan ke orang lain juga. Droplet besar ini bisa berpindah dalam jarak kurang dari 1 meter.

Droplet kecil menularkan virus dari orang positif Corona ke orang lain secara langsung. Pemindahan droplet kecil bisa berpindah dalam jarak lebih dari 1 meter. Jadi penting sekali untuk menjaga jarak minimal 2 meter dengan orang lain.

Jadi telah jelas kan mengapa harus social distance dilakukan oleh kita sekarang. Yah setidaknya kita telah memutuskan rantai penularan si Covid-19 itu sendiri. Semakin kita terapkan, maka semakin cepat wabah Covid-19 berlalu.

#ChallangeBPN_5 

Sumber :
https://www.liputan6.com/bola/read/4219461/4-alasan-pentingnya-social-distancing-untuk-cegah-virus-corona-covid-19

Minggu, 26 April 2020

Lakukan 5 Hal Ini Untuk Melalau Tertularnya Covid-19

Lakukan 5 Hal Ini Untuk Melalau Tertularnya Covid-19

Lakukan 5 Hal Ini Untuk Melalau Tertularnya Covid-19
Posted by ana_susan 26 April 2020


“Menurut media sosial CNN Jakarta, Jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia pada Sabtu (25/4) 2020 mencapai 8.607 orang, dengan 720 orangnya meninggal dan 1.042 dinyatakan sembuh dari jumlah tersebut. Data ini didapatkan dari pemerintah per Sabtu (25/4) pukul 12.00 WIB ujar Achmad Yurianto.”



Penularan Covid-19 kian hari kian bertambah. Penularan yang cukup tinggi terjadi di pulau Jawa terutama Jakarta. Untuk menekan pertambahan penularan inilah, maka pemerintah mengambil tindakan tegas pada masyarakat agar menghindari beberapa hal di bawah ini.

1. Mengurangi Intensitas Keluar Rumah


  Siapa sih yang betah di rumah saja. Sebetah-betahnya orang rumahan, sesekali dia pasti keluar rumah. Walaupun sekedar menyapa tetangganya.

Bagi orang yang biasa bertemu khalayak ramai atau sekedar kumpul dan berbincang-bincang, tindakan diam diri di rumah merupakan tindakan yang menyiksa. Namun sekarang hal ini harus dilakukan untuk menghindari tertularnya Covid-19.

Kegiatan yang lebih dikenal dengan istilah social distance ini merupakan kegiatan yang dilakukan di seluruh dunia. Hal ini dilakukan agar sang virus yang ingin mencari inang atau tempat untuk berkembangbiak terputus dan cepat habis.

Jadi tetap stay at home sebelum ada pemberitahuan untuk bisa keluar rumah seperti dulu lagi ya.


2. Menggunakan Alat Pelindung Diri


  Jaket, pisau, jas hujan, senter, matras, tenda sleeping bag, kaos kaki dan sarung tangan serta pakaian pengganti merupakan alat pertahanan diri saat kita melakukan pendakian ke gunung.

Persiapan itu dilakukan agar terhindar dari hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi.
Demikian juga saat mewabahnya Covid-19. Kita harus mempersiapkan alat pelindung diri yang stand bay selalu di rumah maupun saat berpergian. Alat pelindung tersebut adalah masker, hand sanitizer dan kaca mata atau pelindung wajah.

Ketiga benda tersebut sangat penting mengingat penularan Covid-19 melalui wajah, mulut, tangan, mata dan hidung.

3. Mencuci Tangan dan Menghindari Sentuhan Wajah



  Jika alat pelindung diri telah disediakan, maka hal yang harus dilakukan adalah sering-seringlah mencuci tangan.

Tangan yang telah menyentuh barang atau benda, diusahakan tidak menyentuh wajah kita. Wajah adalah bagian yang paling rentan tertularnya Covid-19.

4. Perbanyak Asupan Herbal Penambah Daya Tahan Tubuh



  Tanaman herbal jenis jahe, kunyit, sereh, kencur dan sirih merupakan tanaman herbal penambah daya tahan tubuh terhadap virus. Cara mengkonsumsinya merebus kelima jenis herbal tadi dengan campuran air secukupnya dan ditambah madu sebagai pemanis.

Minuman ini sangat baik dilakukan di pagi hari setelah bangun tidur dan malam hari sebelum tidur. Fungsinya selain menambah daya tahan tubuh, juga membuang racun dari dalam tubuh.


5. Membersihkan Diri dan Lingkungan


  Membersihkan diri dan lingkungan mutlak dilakukan oleh seorang muslim. Mengingat dirinya sering beribadah menghadap sang Pencipta. Hal tersebut dapat menambah semangat maupun terhindar dari berbagai penyakit.

Untuk masa pandemi Covid1-19, orang-orang menjadi panik. Karena penularannya yang kian meningkat, sehingga tindakan membersihkan diri dan lingkungan menjadi sebuah kewajiban setiap hari.

Dengan melakukan 5 hal di atas, setidaknya kita telah membantu pemerintah dalam melalau penularan Covid-19 khususnya di Indonesia. Semoga Covid-19 segera berlalu.

#ChallangeBPN2020_day04 

Sumber : 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200425123716-20-497209/update-corona-25-april-8607-kasus-720-wafat-1042-sembuh


3 Kebaikan yang Bisa dilakukan di Rumah Saat Pandemi Covid-19 Bagi Sesama

3 Kebaikan yang Bisa dilakukan di Rumah Saat Pandemi Covid-19 Bagi Sesama

3 Kebaikan yang Bisa dilakukan di Rumah Saat Pandemi Covid-19 Bagi Sesama

Posted by ana_susan 26 April 2020


“Jika kamu berbuat baik, maka kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri... (QS Al Isra’ : 7)."




Itulah salah satu firman Allah dalam Alquran. Disadari atau tidak ternyata Allah telah mengatur kebaikan yang manusia miliki berasal dari kebaikan yang telah dituai sebelumnya. Demikian pula sebaliknya.

Lihatlah burung sebagai ciptaanNya. Dia tidak pernah berhenti memberikan manfaat pada alam. Mulai dari membantu penyerbukan pada tanaman, memakan ulat dan serangga yang mengganggu tanaman, kotorannya dapat menyehatkan tanah, bahkan terbangnya pun menjadi inspirasi bagi manusia sehingga terciptalah ide membuat pesawat terbang.

Apakah kita harus kalah dengan burung? Tentu saja tidak. Manusia dijadikan oleh Allah memiliki kecerdasan yang tinggi disebabkan akal yang dimiliki olehnya. Akal itulah yang akan membimbingnya untuk bertindak melakukan sebuah perbuatan.

Di tengah pandemi Covid-19, untuk berbuat baik kadang sangat susah bagi sesama. Kadang berpikir bagaimana membantu sesama, wong sendiri saja susah untuk memenuhi kebutuhan. Ditambah lagi tidak boleh kemana-mana kecuali ada keperluan yang sangat mendesak. Tenang, masih banyak kok yang bisa dilakukan jika hal tersebut terjadi. Anggap saja itu adalah kebaikan yang bisa dilakukan saat pandemi Covid-19 berlangsung.

1. Menyumbangkan Alat Pelindung Diri (APD)




Pertahanan diri harus dimiliki oleh tiap individu untuk menghadapi ancaman yang membahayakan baginya. Fenomena ini berlangsung laksana lebah yang bersengat, mimikri pada bunglon, cicak yang memutuskan ekornya atau landak yang memunculkan duri di badannya. Semua itu dilakukan agar dirinya selamat dari ancaman musuh.

Demikian juga manusia saat ini. Musuh Covid-19 yang tidak terlihat oleh kasat mata, mengharuskan dirinya untuk melakukan pertahanan diri agar tidak diserang olehnya.

Alat pelindung diri tersebut harus mampu menghalangi masuknya virus atau bakteri ke dalam tubuh melalui mulut, hidung, mata atau kulit. Kelompok yang paling rentan berisiko terkena virus ini adalah tim medis. Untuk itu kita dapat melakukan penggalangan dana agar bisa membantu mereka menjalankan tugasnya dengan baik.

Jenis APD yang dibutuhkan oleh mereka adalah masker, pelindung mata, pelindung wajah, gaun dan sarung tangan medis, penutup kepala dan sepatu pelindung.

Donasi bisa dilakukan secara langsung atau pun melalui yayasan yang bergerak dibidang penyaluran dana. Selain tim medis yang harus mendapatkan perhatian, rakyat yang berekonomi lemah pun harus menjadi sorotan utama. Mengingat kebutuhan pokok saja sulit bagi mereka untuk dipenuhi, apalagi kebutuhan APD.

2. Memberi Bantuan Makanan


Selama Covid-19 berlangsung, kita benar-benar diuji oleh Allah. Sejauh mana empati kita dalam membantu sesama. Mulai dari makanan yng ditimbun, buah, rimpang dan rempah, madu dan lainnya membuat kulkas penuh sesak.

Namun di luar sana, masyarakat yang harus berjualan setiap hari demi memenuhi kebutuhan pokoknya tidak bisa melakukan hal yang sama seperti kita. Boro-boro mau nyetok, untuk makan sehari-hari saja harus kerja dulu. Belum lagi uang yang didapatkan oleh mereka adalah perhari.

Salah satunya OJOL atau ojek online. Para OJOL ini akan mendapatkan uang jika ada penumpang yang berhasil mereka tarik. Terjadi perbedaan yang sangat signifikan saat pandemi Covid-19 berlangsung. Uang yang seharusnya bisa memenuhi perut mereka dan keluarganya, akhirnya harus pulang dengan tangan kosong.

Jadi wajar jika sekarang banyak kita saksikan korban berjatuhan bukan karena Covid-19 tapi lebih kepada kelaparan yang melanda. Untuk itu, kita bisa lakukan bantuan makanan secara online, jika kita tidak bisa menemui mereka secara langsung. Caranya dengan memesan makanan dan mengantarkannya pada mereka. Pesanan makanan dapat kita lakukan dengan dua porsi. Satu porsi untuk dirinya sendiri, satu porsi lagi diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Sumbangan makanan ini dilakukan sesuai dengan kemampuan kita sebagai sesama manusia dalam berbuat baik.

3. Membeli Dagangan Tetangga




Selama Covid-19 masih ada, selama itu pula kita tetap harus di rumah saja. Pemenuhan bahan pokok kadang jika harus keluar rumah memberi resiko yang sangat besar. Baik kesehatan bagi yang keluar maupun dampak bagi keluarga yang ditinggalkan. Meskipun itu hanya sebentar.

Untuk meminimalisir hal tersebut, kita dapat memebelinya melalui tetangga yang menjual kebutuhan sehari-hari kita. Mulai dari kebutuhan makanan yang sudah jadi atau pun makanan yang belum diolah.

Tindakan ini, selain mengurangi dampak tersebut, kita juga telah melakukan kebaikan bagi sesama. Jangan pernah takut untuk melakukan kebaikan, apalagi Allah telah menegaskan dalam alquran surat Al Isra’ ayat 7. Semua kebaikan yang kita lakukan akan kembali pada kita, demikian juga sebaliknya. Aset kebaikan yang kita kumpulkan semoga menjadi tambahan amal di akhirat kelak. Ditambah lagi kebaikan yang kita lakukan itu dilakukan di bulan suci ramadan.

#ChallangeBPN2020_day 03

Jumat, 24 April 2020

7 Hal yang Bisa dilakukan Ibu Mengadapi Anak Milenial di Masa Covid-19

7 Hal yang Bisa dilakukan Ibu Mengadapi Anak Milenial di Masa Covid-19


7 Hal yang Bisa dilakukan Ibu Mengadapi Anak Milenial di Masa Covid-19
Posted by ana_susan   24 April 2020


Foto: Pexels.com dan trimbunnews.com. Desain by Canva


“Kita bukan berperang dengan siapa pun, tetapi sedang berperang dengan diri sendiri,” ujar Belva dalam konferensi pers di BNPB Jakarta pada Senin, 23 Maret



Itulah ungkapan yang dilontarkan oleh staf khusus milenial Presiden Republik Indonesia. Menurut beliau, generasi milenial merupakan generasi penularan Covid-19 terbesar. Jadi mereka harus peduli dan membantu pencegahan penularan virus yang telah menjadi pandemi dunia.

Pernyataan ini juga didasari oleh data tes yang berada di Korea Selatan terhadap covid19. Dimana, sebanyak 300 ribu orang dengan beberapa kelompok usia dites Covid-19.Hasilnya menunjukkan 30 % ada pada usia 20-29 tahun (generasi muda milenial). Jumlah ini tiga kali lebih besar dari usia 30-39 tahun.

Hal ini juga didasari pada imunitas yang dimiliki kaum muda milenial sangatlah tinggi. Namun demikian bukan berarti mereka tidak tertular. Selain itu, mobilitas para milenial jauh lebih tinggi. Diantaranya, sering kumpul-kumpul, bertemu dengan cipika cipiki, dan masih banyak lagi. Untuk mengurangi angka tersebut, perlu adanya peran seorang ibu di rumah saat masa lockdown dan work from home. Mengingat fungsi seorang ibu dalam keluarga sebagai madrasah utama.

Ada 7 hal yang bisa dilakukan oleh Ibu menghadapi anak milenial di masa Covid-19 ini.

1-Membantu Anak Menyebarkan Berita Covid-19 dengan Cara yang Santun





Kita tahu, bahwa anak milenial sangat mudah untuk memperoleh informasi. Yah, ini dilakukan oleh mereka agar tidak ketinggalan zaman atau tidak gaptek.

Peluang ini seharusnya diarahkan oleh sang ibu untuk membimbing anak milenial untuk ikut serta dalam menyebarkan berita seputar Covid-19 sehingga bisa di akses di berbagai media sosial. Namun demikian, berita yang disebarkan bukanlah berita hoaks, tetapi didasari oleh data yang akurat.

2-Menanamkan Kesadaran Bahaya Covid-19




Seorang ibu yang terlanjur berada di zaman milenial, harus kritis dan memiliki kecerdasan yang lebih oke. Mencari info tentang Covid-19 misalnya. Harus dilakukan mulai dari pengertian apa itu Covid-19, mengapa bisa terjadi, bagaimana penularannya serta mencegah agar tidak terkena olehnya. Untuk itu ibu wajib mencari tahu semuanya dan disampaikan dengan detail pada anaknya.

Segala argumen anak, harus dihadapi dengan tenang dan sabar.

3-Melakukan Social Distance





Social distance atau mengatur jarak pertemuan, yaitu suatu cara menghindari penularan antar manusia terhadap Covid-19. Jika jarak terlalu dekat saat pertemuan yang memang terpaksa harus dilakukan, maka akan mudah tertular bila salah seorang di antaranya mengindap Covid-19.

Kesenangan para anak milenial yang suka berkumpul hanya sekedar berbincang-bincang saja membuat penularan Covid-19 kian tinggi. Untuk itu mereka harus dicegah untuk keluar rumah. Pastikan, jika mereka ingin berbincang, bisa dilakukan melalui video call saja.

4-Tidak Cipika Cipiki




Tindakan ini biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Jika telah bertemu, yang akan dilakukan adalah berjabat tangan, memeluk lalu dilanjutkan dengan cipika cipiki atau bersentuhan antar pipi.
Sentuhan semacam ini saat Covid-19 sangat tidak dianjurkan. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya melarang sang anak untuk tidak bertemu sementara waktu.

5-Menggunakan Masker Saat Flu dan Batuk




Penggunaan masker sangat dianjurkan oleh pemerintah khususnya bagi penderita flu dan batuk. Hal ini dilakukan karena gejala yang dimunculkan mirip dengan Covid-19. Nah, jika ini dilakukan, maka
dia tidak menularkan pada orang lain.

Aturan ini berlaku untuk semua umur tak terkecuali anak milenial.

6-Rajin Mencuci Tangan


Foto :tribunnews.com


Mencuci tangan yang benar juga harus diberitahukan pada anak milenial. Saat mencuci tangan tidak hanya mencuci saja menggunakan air, atau sekedar mencuci tapi tidak memakai sabun antiseptik untuk tangan akan tetapi harus dilakukan dengan beberapa langkah mencuci tangan yang benar menurut standar WHO.

7-Pola Hidup Sehat




Pola hidup sehat adalah pola yang telah lama diterapkan oleh rasulullah SAW. Mulai dari banyak minum air putih, mengkonsumsi madu, kurma dan susu kambing. Belum lagi bekam yang dilakukan setiap bulannya.

Bagi generasi milenial yang hobi dengan makanan serba instan, wajib bagi ibu menjelaskan bahaya yang ditimbulkan untuk beberapa tahun ke depan. Belum lagi malasnya mereka untuk bergerak (melakukan olah raga ringan). Semua waktunya habis dalam bermain Gadget saja.

Tantangan inilah yang harus dilalui seorang ibu untuk menjaga keluarganya agar tetap aman dan sehat selama masa Covid-19 berpandemi. Tidak lupa doa yang dilantunkan agar bisa mengetuk sang Pencipta untuk mencurahkan rahmatnya pada kita. Berharap semoga penularan Covid-19 ini cepat terputus rantainya.

Inilah 7 peran yang dilakukan seorang ibu untuk menguatkan keluarga dan lingkungan sekitar.
Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan blogging yang diadakan oleh IIDN melalui web IIDN https://ibuibudoyannulis.com

#TantanganBlogging 
#TantanganBloggingApril  

Sumber :
https://republika.co.id/berita/q7mwit328/siapa-bilang-milenial-kebal-virus-corona
Cuci Tangan Yang Benar Mengurangi Resiko  Tertular Covid19

Cuci Tangan Yang Benar Mengurangi Resiko Tertular Covid19

Cuci Tangan Yang Benar Mengurangi Resiko
Tertular Covid19


Posted by ana_susan, 24 April 2020


Foto : honestdoc.id


Cuci Tangan Yang Benar Mengurangi Resiko Tertular Covid19 Posted by ana_susan, 24 April 2020
Menjaga kesehatan lahir dan batin sangat penting bagi manusia. Namun, kadang kesibukan yang sering mengisi ruang aktivitas, kadang hanya segelintir orang saja yang biasa melakukannya.

Kebiasaan diri sangat berpengaruh terhadap semua itu. Orang yang telah terbiasa mencuci tangan dari berpergian, sebelum makan baik makananan ringan apalagi berat akan melakukannya. Bahkan jika tidak mereka lakukan kadang ada sesuatu yang hilang saat menyantap makanan tersebut.

Berbeda dengan orang yang terbiasa makan tanpa mencuci tangan, alasannya karena menggunakan sendok dan garpu. Padahal kuman atau makhluk kecil yang tidak terlihat sangat mudah menghampiri sekitar tubuhnya. Kalau saja mata mereka bisa melihat makhluk-makhluk kecil itu, munkin mereka akan takut untuk menghadapinya.

Sejak covid19 merebak, orang-orang sadar akan pentingnya kebersihan terutama kebersihan tubuh. Pasalnya, virus ini memiliki gejala yang mirip dengan orang yang terkena flu. Artinya saat ada yang batuk dan demam harus menjauh atau minimal si sakit menggunakan masker.

Kalau covid19 malah si sakit harus diisolasi, karena saat dia bersin, batuk dan menutup dengan tangannya, maka tangannya yang akan menyentuh benda atau orang lain juga akan ikut tertular. Apalagi jika orang yang ditulari memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

Jadi dapat dikatakan orang-orang mulai takut dan lebih memperhatikan tentang kebersihan diri maupun lingkungannya. Islam sendiri telah lama mengajarkan pada umatnya agar mencuci tangan.

Dalam salah satu hadist Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “...dan jika seseorang dari kalian bangun dari tidurnya maka hendaklah mencuci kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya ke dalam bejana tiga kali, maka sesungguhnya seseorang dari kalian tidak mengetahui ke mana tangannya bermalam.” (HR. Bukhari).

Hal lain yang disunahkan mencuci tangan adalah saat berwudhu sebagai salah satu bagian dari wudhu tersebut, kemudian sebelum dan sesudah makan dan saat tangan kita kotor.

Agar lebih afdhol sehingga mengurangi resiko tertularnya covid19, kita harus mengikuti cara mencuci tangan yang benar menurut standar WHO.

Dengan mengikuti standar mencuci tangan ini, mudah-mudahan kita bisa mengurangi resiko tertular covid19 yang sangat ditakuti.

Sumberhttps://www.honestdocs.id/6-langkah-cuci-tangan-yang-benar
Challange BPN day_2
Covid19 Masih Ada? Di Rumah Saja Ya

Covid19 Masih Ada? Di Rumah Saja Ya

Covid19 Masih Ada? Di Rumah Saja Ya

Posted by ana_susan, 24 April 2020


Foto : pexelsimage.com


“Umi, kenapa sih harus ada Corona? Jadinya kita tidak bisa ke mana-mana, “ kata anak-anakku beberapa kali. Pertanyaan itu sering dilontarkan padaku selama pemerintah memberlakukan lockdown di Indonesia. Sekolah menjadi online, belanja dapur harus diakumulasi dalam satu hari tertentu bahkan mau pesen online pun masih mikir dua kali.

Boro-boro mau ke mall untuk belanja bulanan, keluar pintu pagar saja harus mempersiapkan tameng diri untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Kalau pun harus keluar rumah, setelah pulang pun mesti mensterilkan diri dengan desinfektan, masker dan pakaian langsung direndam dan dicuci plus jemur.

Kalau dipikir-pikir ribet juga sih. Awalnya hanya cuci tangan saja, sekarang malah semua harus bersih dan bersih. Tapi ada sisi positifnya juga bagi anak-anak. Kalau dulu mereka rada susah diingatkan dengan kebersihan, namun sekarang serasa lebih mudah. Dan uminya juga tak perlu berkoar-koar memberi ceramah ini dan itu.

Entah ke berapa kali pertanyaan yang sama keluar dari mulut mereka. “Kenapa harus ada corona umi?” Sebuah pertanyaan sederhana, namun sulit untuk dijelaskan dengan nalar mereka. Hari libur yang biasa digunakan untuk mengisi kebersamaan keluarga tidak bisa dilakukan lagi di luar. Jangan tanya lebaran ini kami mudik atau tidak?. Pastinya dengan jawaban tidak bisa.

“Umi kenapa corona ini jahat banget sama kita?” tanya anakku yang bungsu di sela-sela mengisi kegiatan lockdown di rumah.

“Sebenarnya, corona itu baik banget sama kita, Nak. Dia makhluk Allah yang sama seperti kita. Corona diciptakan oleh Allah untuk menegur manusia tentang kebersihan dirinya dan lingkungannya. Mungkin selama ini manusia telah lalai dengan diri dan lingkungannya. Mereka hanya sibuk mencari nafkah saja. Umi akan jelaskan dengan detail sebenarnya corona itu apa?” kata umi. Anak bungsuku pun memperhatikan dengan seksama.

Siapa Corona?
Di mana-mana, musuh itu pasti terlihat oleh kita. Kalau pun tidak terlihat, lambat laun akan terlihat juga. Berbeda dengan virus Corona ini. Dia adalah musuh yang tidak terlihat oleh mata kita, namun telah menyebabkan kematian dan menginfeksi di beberapa negara.

Sebenarnya Corona ini siapa sih? Yah, dialah virus yang menyebabkan batuk dan pilek (common cold) pada orang-orang. Virus ini telah ditemukan sejak tahun 1960. Dulu itu namanya SARS-CoV2. Akhir Desember 2019 muncul virus corona baru yang telah ditetapkan namanya oleh WHO bernama Covid19 atau coronavirus disease 2019.

Asal Usul Virus Ini?
Jenis Covid19 pertama kali teridentifikasi di kota Wuhan. Sampai saat ini belum diketahui dengan jelas asal muasalnya. Apakah sama dengan SARS yang berasal dari kelelawar atau bukan. Hasil pembacaan genome virus, Covid19 memiliki 88% kemiripan dengan 2 jenis SARS CoV pada kelelawar tapi jauh berbeda dengan MERS-CoV (hanya 50 % tingkat kemiripannya).

Kesimpulannya, kemungkinan berasal dari kelelawar, tapi peneliti belum yakin 100 % karena tingkat kemiripan genomenya masih belum mendekati seratus persen.

“Wah serem dong ya umi kalau misalnya memang berasal dari kelelawar. Trus, kalau penularannya gimana caranya umi?” tanya anak bungsuku dengan wajah serius.

Penularan Covid19
Virus ini sangat mudah menular dari satu orang ke orang lain. Cara menginfeksinya melalui wajah (mata, hidung dan mulut). Saat ada yang bersin atau berjabat tangan langsung, mengusap wajah setelah menyentuh barang yang tertempel virus ini, maka kitalah yang akan menjadi tempat masuknya virus ke dalam tubuh. Mengapa?

Karena virus pada hakekatnya memiliki ukuran yang lebih kecil dari bakteri ini hanya bisa dilihat oleh mikroskop elektron. Organisme parasit mampu bertahan hidup jika ada inangnya. Gunanya untuk bereproduksi. Tanpa menumpang hidup dia tidak akan mampu menggandakan tubuhnya. Jadi terbukti bahwa, benar apa yang dikatakan oleh pemerintah, seharusnya kita tetap di rumah untuk memutuskan penularan dari Covid19 ini.

“Jadi sampai kapan kita harus di rumah terus Umi? Aku bosan,” tanyanya sedih.

“Sampai virus itu benar-benar punah dari muka bumi. Karena jika belum punah dan vaksin (atau zat yang membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit) belum ditemukan, maka kita akan tetap di rumah saja,” jawab umi sambil tersenyum.

Tapi jangan khawatir, Allah sayang sama kita. Allah menguji kita dengan covid19 ini untuk mengangkat derajat takwa kita. Untuk lebih bersyukur maupun bersabar atas semua ketetapanNya.

Akhirnya, si bungsu pun mengerti dengan semua kegabutan dirinya selama ini. Meski di rumah saja dia menikmati kegiatan bersama kakak kandungnya, menghafal quran dan mengulang hafalan yang telah ada. Mudah-mudahan semua akan berakhir saat bertemu ramadan nanti. Aamiin.