Rabu, 09 Desember 2020

Memoar Persalinan Kedua yang Sulit ditebak. Pernahkah Anda Mengalaminya?

| Rabu, 09 Desember 2020

Memoar Kehamilan Kedua yang Sulit ditebak. 

Pernahkah Anda Mengalaminya?

by ana_susan posted 09 Desember 2020




Pic by pixabay.com


Hampir setiap pagi aku merasakan mual. Rutinitas ini adalah hal yang wajar, mengingat terlalu lelahnya diriku menjelang sidang tesis beberapa waktu ke depan. Aku tidak merasakan bahwa aku hamil, karena usia anakku yang pertama baru sembilan bulan. Belum lagi menstruasi yang tidak pernah ku catat setiap bulannya. Ku pikir kesibukan mengejar sidang tesis jauh lebih penting dibandingkan kondisi kesehatanku.

Jika dilihat dari riwayat kesehatan sebelum menikah dulu, aku sering mengalami gangguan mag. Yah, begitulah mahasiswa yang sering telat makan, kejar deadline praktikum, ke perpustakaan dan aktifitas lain yang begitu padat. Jadilah pikiranku saat itu bahwa mual dan pusing disebabkan oleh terlalu capek hingga tidak memikirkan disiplin waktu makan.

Dua bulan waktu berlalu, tibalah saatnya sidang tesis diadakan. Alhamdulillah aku tampil dengan baik dengan hasil yang memuaskan. Hanya saja setelah sidang selesai, aku merasakan sedikit pusing dan mual. Sekali lagi semua kurasakan bahwa itu karena mag.

Sebulan setelah ujian tesis, hatiku sedikit lebih tenang. Aku lebih banyak mengasuh anak pertamaku. Sedangkan suami yang sering menggantikan pengasuhan si kecil pun mulai dengan rutinitas normal. Usia pernikahan kami memang masih tergolong muda. Jadi masih banyak suka dan duka yang kami lalui bersama. Mulai dari suami yang harus rela mengatur jadwal mengajar yang disesuaikan dengan jadwal kuliahku sampai mengasuh anak pertama.



Suami siap-siap berangkat kerja setelah mengasuh anak pertama. Foto pribadi


Aku pun mulai was-was dengan jadwal haidku di bulan ketiga yang belum muncul. Suami membelikan test pack. Saat diuji, garis dua yang berwarna merah tidak muncul. Pusing dan mual masih kurasakan setiap pagi. Menyusui pun untuk si kecil masih berlangsung. Padahal konon katanya jika memang aku hamil anak kedua pada kondisi menyusui, pasti anak pertama menolak untuk minum asi lagi. Jadi aku semakin yakin kalau aku tidak hamil. Namun rasa penasaran di hati tak bisa diajak kompromi.

Keesokan harinya aku dan suami pergi ke bidan tempat persalinanku yang pertama. Aku berharap, test pack yang dilakukan di sana akan benar menunjukkan bahwa aku sedang hamil. Namun, sangat disayangkan, hasilnya tetap negatif. Kata sang bidan, kemungkinan besar karena aku sangat lelah di kuliahan. Apalagi tempat kuliahku berada di lantai lima serta jarak pintu masuk ke tempat fakultas yang ku tuju sekitar 500 meter. Semua itu membuat haidku terganggu ditambah lagi aku juga menyusui katanya.

“Oke semua dalam keadaan baik-baik saja” gumamku sembari kulepaskan senyuman kecil pada suamiku.

Beberapa hari kemudian, akupun kembali ke tanah rencong bersama ayahku yang kebetulan dinas di Jakarta untuk sementara waktu.  Kata ayah, mama kangen sama aku dan cucu pertama mereka. Akhirnya kuputuskan untuk pulang sebentar setelah mendapat izin dari suami. Sedangkan suami masih di pulau seberang yang dibatasi oleh Selat Sunda.

Sampai di sana, kunikmati pertemuan dengan keluarga yang telah dua tahun tidak bertemu. Mamaku sangat memahami kondisi aku, meskipun aku telah menikah. Wajar dong, kan anaknya yang telah bersamanya cukup lama.  Suatu hari, beliau mengatakan perutku membesar saat aku berdiri menyamping tepat di depan cermin yang ukurunnya setinggi tubuhku. Kata mama, aku hamil. Namun aku bersikeras kalau aku tidak hamil berdasarkan hasil test pack yang berulang-ulang.

          “Mama yakin kamu hamil! Sore kita ke dokter kandungan ya!” kata mama mantap seolah perkataannya pasti tidak meleset.

Ikatan batin seorang ibu dan anaknya memang sangat kuat. Hal ini terbukti jika aku ingin berkomunikasi dengannya, saat itu pula selalu dia yang mendahuluiku. Padahal posisiku saat itu jauh di pulau seberang. Hal yang sama juga terjadi pada kehamilanku ini. Dia punya firasat yang sangat jitu. Hingga semua kegundahan yang kualami terjawab sudah di dokter kandungan.

Yah, aku dinyatakan hamil dengan usia kandungan lima bulan. What! Aku terkejut dan beristighfar bukan karena kehamilanku, tapi karena aku tidak menjaga amanah yang diberikan Allah padaku. Aku lalai dengan kondisi psikis yang jauh dari suami dan lalai juga dalam memperhatikan nutrisi untuknya.

          “Maafkan Umi ya, Nak, Aku tidak tahu kalau kamu ada di dalam rahimku”, lirihku dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus perutku.

Kehamilan kedua ini sangat unik, menurut dokter, saat dideteksi dengan test pack tidak memunculkan tanda dua garis merah. Namun saat menggunakan alat USG (Ultrasonography) lebih terlihat. Hal ini disebabkan hormon hCG (human Chorionic Gonadotropin) atau hormon kehamilan di dalam urinku saat di tes dengan test pack tidak terdeteksi. Kemungkinan besar kata dokter karena jumlah hCG dalam urinku sangat kecil.

Kabar gembira kusampaikan pada suami. Aku ingin kembali ke pulau seberang, tapi aku malu untuk meminta uang pada mama dan papa karena aku telah menikah. Akhirnya kuurungkan niatku untuk kembali dan suami pun menyetujui sampai persalinan selesai. Kondisi yang jauh dari suami dan rasa bersalah karena membiarkan suami terlalu lama di sana tanpa ada yang mengurusnya membuat aku selalu merasa bersalah. Aku selalu menangis. Padahal hal itu sangat tidak baik untuk sang bayi.

Saat usia kandunganku tujuh bulan, terjadi kelainan dalam kandungan. Mungkin ini disebabkan kesedihanku yang berkepanjangan. Seharusnya ibu hamil itu selalu berada pada kondisi gembira dan senang agar bayinya selalu sehat. Kata dokter, plasenta yang biasanya menyebar di dalam rahim, malah menutupi jalan lahir. Kondisi seperti ini memungkinkan untuk persalinan secara caesar nantinya.

Aku pun mulai panik, bukan karena biaya besar yang harus dikeluarkan, tapi lebih kepada efek yang ditimbulkan akibat melahirkan caesar yang kuketahui dari beberapa temanku. Aku beralih ke dokter kandungan yang lain. Berharap tidak menunjukkan hasil yang sama. Namun ternyata, pernyataan itu terulang kembali. Aku tidak menyerah. Kulanjutkan untuk bulan berikutnya pindah ke dokter kandungan yang lain. Ternyata hasilnya tetap sama. Aku pun pasrah dengan semua takdir ini.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 sore. Saat itu usia kandunganku baru delapan bulan. aku merasakan rebesan air ketuban yang tidak biasa. Yah, aku merasakan si kecil ingin menatap dunia. Sebelumnya aku sering mengeluh pada mama, kalau air ketuban sering merembes sedikit. Mungkin karena aku sering menggendong si kakak yang rewel. Mama membawaku ke dokter kandungan yang berbeda dari sebelumnya. Jadi bisa dikatakan aku memiliki lima dokter kandungan dalam mengontrol kehamilan yang luar biasa ini.

Sampai di sana, entah mengapa jantungku berdegup dengan kencang. Pikiranku mulai tidak tenang. Saat pemeriksaan ketuban dinyatakan kalau aku harus melahirkan malam itu juga. Alasannya air ketubanku mulai mengering. Takutnya sang bayi beresiko kematian di dalam kandungan.

          “Ibu harus operasi caesar, mengingat air ketuban mulai kering, saya akan berikan surat rujukan operasi caesar ke tempat rumah sakit yang saya pegang persalinannya”, dokter menulis dengan keyakinan penuh bahwa keputusannya sangat tepat.

          “Tapi Dokter, usia kandungan saya baru delapan bulan. Kalau saya melahirkan secara normal apakah bisa dokter?” tanyaku sambil berharap jawabannya bisa.

          “Bisa saja, namun akan terjadi pendarahan dan beresiko bagi ibu maupun anak ibu nantinya”, jawab sang dokter dengan bijak.

Tidak terasa air mataku mulai mengalir hebat sambil memegang surat rujukan operasi caesar. Mama yang menemani, menghiburku agar jangan sedih dan jangan pikirkan uangnya. Kata mama, biar mama yang membayar persalinan operasi caesarnya.

Aku pun menyeka air mataku. Bukan karena tidak ada uang untuk persalinan meskipun uang itu aku pun tidak sanggup membayarnya mengingat pekerjaan suami yang belum mapan. Semua lebih karena aku merasa bukan ibu yang sempurna untuk bisa melahirkan secara normal seperti awal persalinan anak pertama. Ditambah lagi kelahiran sang malaikat kecil dalam keadaan prematur

Oke, kutarik nafasku perlahan, guna menenangkan hatiku yang sedang kalut. Kujernihkan pikiran seiring dengan melajunya kendaraan roda dua bersama mama. 

"Mungkin operasi caesar adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkanmu nak, tapi umi tidak akan menyerah pasti ada cara untuk bisa melahirkan secara normal".

Ada keajaiban yang terjawab saat di ruang dokter kandungan. Jenis kelamin yang awalnya tertutupi, oleh alat USG menunjukkan bahwa anak kedua ku perempuan. Tapi saat bulan persalinan yang lebih awal tiba, jenis kelamin laki-laki muncul di alat USG seiring dengan munculnya testis yang tidak sembunyi lagi. Hal ini membuatku terharu, bahwa Allah menunjukkan padaku, bahwa kamu akan melahirkan anak laki-laki. Kamu harus  kuat untuk melahirkan normal, agar anak laki-laki mu juga kuat menghadapi masa depannya.

Baiklah, aku pun istikharah, mengingat keputusan suami dan keluarga semua diserahkan padaku. Apakah harus melahirkan normal atau caesar. Semua masalah ku adukan pada Allah. Setelah salat magrib, doa kesungguhan muncul dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku harus melahirkan normal. Toh banyak kok yang kasus seperti aku bisa, asalkan yakin. Namun, bukan berarti aku tidak mau melahirkan secara caesar. Aku hanya ingin merasakan kembali apa yang dirasakan oleh mama saat melahirkan aku. 

Tepat sehari setelah suntikan pemercepat kontraksi dilakukan, bayi laki-laki itu pun hadir dengan disertai tangis dan bahagia. Sujud syukurku pada Allah yang telah mempermudah persalinanku. Gema azan berkumandang ditelinga kanannya saat ayahku melatunkan azan pertama dilanjutkan oleh suami melalui telepon sebagai azan kedua. Aku tidak tau harus berkata apalagi pada Nya. Dia telah mempermudah segalanya setelah proses ujian mental kehamilan yang ku alami beberapa bulan belakangan.


Aku bersama mama, anak pertama (usia satu tahun dua bulan) dan anak kedua (usia tiga bulan). Foto pribadi

Semua akan indah pada waktunya. Saat kita memperkuat kesabaran, Allah berjanji memberikan kesudahan yang sangat luar biasa. Kalau saja aku mendalami ilmu tentang resiko kelahiran prematur pada ibu hamil disebabkan faktor psikis sang ibu, mungkin si kecil dapat lahir sesuai waktunya dan tidak mengalami berbagai macam kelainan selama hamil. 

Ibu hamil itu haruslah kuat dan tegar meskipun kondisi di lingkungannya tidak mendukung. Semua yang dirasakan olehnya, pasti dirasakan pula oleh anaknya. Yah, menanti anak kedua bagiku merupakan persalinan yang amat luar biasa. Penuh suka dan duka bahkan tanpa suami yang ada di dekatku dan dirinya. Tetaplah menjadi ibu yang luar biasa, agar melahirkan anak-anak yang luar biasa pula.

Tulisan ini dikutsertakan pada lomba blog yang diadakan oleh "theAsianparent Indonesia".





Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya. Silahkan tinggalkan pesan atau saran seputar tema pembahasan :).