Kamis, 23 Mei 2019

Tradisi Mudik Yang Selalu Ngangenin





Tradisi Mudik Yang Selalu Ngangenin
Posted by ana_susan I May 24, 2019





Mengulas tentang mudik seolah mengingatkanku akan moment terindah tiga tahun yang lalu (2016). Linangan air mata membasahi pipiku saat bertemu sanak saudara di Bandara Sultan Iskandar Muda. Wajah-wajah mereka terasa asing bagiku. Yah, wajar, karena aku baru bertemu mereka setelah 9 tahun kemudian.
***

Bagi sebagian besar orang pasti melakukan tradisi mudik setiap tahunnya. Tak peduli seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk menuju kampung halaman. Tak peduli secapek apapun perjalanan yang panjang dan melelahkan. Tak peduli sesingkat apapun pertemuan yang akan berlangsung.

Keinginan kuat untuk bertemu sanak keluarga, mengalahkan rasa lelah dan biaya yang besar itu. Bercengkerama dengan mereka, mengingat nostalgia kita saat kecil di rumah yang telah kita tinggalkan. Moment terindah itu akan menjadi kenangan setiap tahunnya.

Tidak Bisa Mudik

Jujur, untuk bercerita tentang pengalaman mudik bagiku agak berat. Tahun- tahun itu harus dengan menahan air mata tidak bertemu dengan keluarga. Jarak tempuh kampung halamanku harus menyeberangi lautan. Melewati darat bisa sampai 4-5 hari dengan biaya yang hampir sama jika aku menempuhnya melalui udara.

Sebenarnya bukan masalah dari biayanya sih. Cuma aku ingin membuktikan bahwa aku akan pulang jika aku telah memiliki pekerjaan yang tetap dengan adanya usaha sekolahan sekarang ini.

Usaha sekolah yang dirintis oleh suami mulai dari nol hingga Alhamdulillah hampir mencapai 20 siswa untuk sekarang. Bukanlah jumlah yang banyak untuk berbagai siswa dan siswi dengan karakter unik. Namun menurut kami itu adalah jumlah yang luar biasa.

Bersama dengan perkembangan itulah, di awalnya kami menahan untuk tidak mudik sama sekali. Kami hanya menelpon untuk melepas kerinduan.


Mudik yang Haru Biru
  
Tahun 2016, tepatnya setelah 11 tahun tsunami. Aku beserta suami dan anak-anakku menginjak kembali bumi Aceh lon sayang. Bumi kelahiranku. Bumi tempat aku dibesarkan bersama mama dan papa. Tapi harus kutinggalkan untuk ikut suami ke pulau seberang.

Sepanjang perjalanan menuju Bandara Sukarno Hatta, bibirku tak berhenti bertasbih dan bertahmid. Memuji kebesaran Nya dan ke Maha BaikanNya pada kami. Sekian tahun yang cukup lama menahan rasa rindu itu.

Aku merasa tidak percaya, sampai-sampai menepuk-nepuk pipiku yang mulai basah dengan linangan air mata. Menatapi gedung-gedung pencakar langit di seputaran Jakarta. Sambil berkata “Apakah aku benar akan menaiki pesawat itu untuk menuju kampung halaman?” ku cubit-cubit lagi pipiku sambil berkata, apa aku mimpi Ya Rabb. Aku pun mengucapkan terima kasih pada suami yang telah mengizinkan dan memudahkan untuk bertemu mereka yang sangat aku cintai.

Pesawat udara siap-siap terbang menuju tanah rencong. Sepanjang jalan melewati cerahnya langit seolah menghiasi cerahnya suasana hatiku saat itu. Dalam pesawat aku tidak tidur sekejappun. Kupandangi wajah suami dan anak-anakku yang capai sepanjang perjalanan. Apalagi suami yang harus memegang tas putriku yang bungsu yang berisi pakaiannya.

Pesawat mulai landing, kulihat sekitarnya masih ada bukit-bukit barisan yang masih hijau. Berbeda dengan Jakarta yang telah dipenuhi gedung-gedung. Sampai-sampai untuk menikmati burung berterbangan saja tidak pernah kulihat sama sekali.

Keluarga aku kabari saat kami naik pesawat dari Jakarta. Niatnya sih ingin memberi kejutan tanpa mengabari mereka. Tapi kami takut jika mereka shock dengan kehadiran kami secara tiba-tiba. Akhirnya saat kami kabari, mereka telah menunggu beberapa jam sebelum pesawat landing.

Dulu sebelum berangkat ke pulau seberang kami masih berempat, anak pertamaku baru berusia 2 tahun sedangkan yang kedua baru 6 bulan. Namun saat kami mudik setelah bertahun-tahun, kami telah berlima. Dimana anak pertamaku telah berusia 11 tahun, yang kedua 9 tahun dan yang ketiga baru 5 tahun.

Mereka telah menunggu kami. Dari kejauhan, pandanganku mulai kabur dengan suasana yang asing. Adik bungsuku menghampiriku sambil memelukku. Sebelum menikah hingga sekarang aku masih sayang padanya. Dia sangat dekat padaku. Waktu aku menikah dia sangat sedih karena kehilanganku. Ditambah aku harus pergi jauh.

Beberapa saat kemudian, mama menyampiriku. Memelukku dan berkata, Alhamdulillah ya nak kita bertemu lagi dan kalian sudah sampai. Kemudian papa yang memelukku erat. Aku sangat dekat dengan papa. Kata mereka aku adalah anak kesayangan mereka. Allah Maha adil, Allah menjauhkan aku dari mereka setelah menikah, agar tidak ada rasa kecemburuan di antaraku dan saudaraku.

Beberapa langkah ku berjalan, adikku yang laki-laki juga menghampiriku. Semua sosok-sosok itu telah berubah. Dia telah menjadi laki-laki dewasa dengan sikapnya yang bersahaja. Berbeda dengan yang dulu. Rambutnya yang panjang masih mengikuti trend remaja saat itu.

Demikian papa dan mama, wajahnya yang dulu masih kenyal, sekarang mulai keriput. Rambutnya juga mulai beruban. Mereka menciumi cucu-cucu mereka sambil memeluk dan menangis karena haru. Rasa syukur tak henti kupanjatkan pada Rabbku yang Maha Baik.

Mudik Sekarang

Tahun ini, aku tidak tahu pasti, apakah aku sekeluarga bisa mudik atau tidak. Mengingat kami harus mengawasi bangunan sekolah untuk pertambahan siswa tahun berikutnya.

Aku tidak begitu berharap untuk pulang, meskipun mama dan papa sudah menyiapkan dana untukku. Namun aku menolaknya, karena aku telah berjanji untuk tidak menyusahkan mereka lagi. Jika pun kami harus mudik, kami akan berangkat bersama-sama.

Semoga Allah memudahkan kami mampu mudik setiap tahunnya. Doakan ya teman-teman. 😊

#Day_18
#30HariKebaikanBPN


Mohon komentarnya ya 😍. Terima Kasih
EmoticonEmoticon