Tuesday, February 18, 2020

Menilik Hutan Sagu Papua Yang Mulai Rembas Sebagai Pangan Alternatif



Menilik Hutan Sagu Papua Yang Mulai Rembas Sebagai Pangan Alternatif





“Jika dipanen, sejuta hektar hutan sagu mampu memenuhi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia. Indonesia pun tidak perlu menunggu impor beras dan gula karena sagu tersedia secara gratis”

            Kebakaran hutan  hampir setiap tahun terjadi di Indonesia. Memasuki musim kering awal bulan Juli 2019, kebakaran lebih banyak terjadi di sejumlah wilayah terutama daerah Sumatera dan Kalimantan. Apalagi di musim kering ekstrim (El nino) seperti sekarang ini.  

Pentingnya Hutan Indonesia
            Hutan adalah kawasan luas yang ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan baik tumbuhan kayu maupun non kayu. Penyebarannya dapat ditemukan di daerah tropis, beriklim dingin, dataran rendah dan dataran tinggi. Atau dapat dikatakan bahwa hutan dapat ditemukan di pulau-pulau kecil maupun di benua yang besar.
            Indonesia merupakan negara yang dianugerahi hutan yang sangat luas dan beraneka ragam jenisnya. Hutan ini sendiri merupakan satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU No.41 tahun 1999).
            Ekosistem hutan memiliki hubungan yang sangat kompleks. Hutan dibutuhkan oleh para hewan yang ada di dalamnya. Layaknya rantai makanan yang tidak pernah putus. Faktor iklim, tanah dan air akan menentukan jenis kehidupan hewan maupun tumbuhan yang ada di hutan.
            Sebagai hutan ketiga terluas di dunia, Indonesia memegang peranan penting. Apalagi sebagian besar hutannya berasal dari Kalimanatan dan Papua.  Menurut data Forest Wacth Indonesia (FWI), sekitar 82 hektar daratan Indonesia masih tertutup hutan.
            Hal ini adalah sebuah prestasi yang membanggakan, karena peran hutan adalah sebagai penyeimbang alam. Potensi energi mikrobiologinya sangat dibutuhkan oleh dunia. Senior Advisor for Terresterial Policy The Nature Conservancy, Wahjudi Wardoyo mengatakan, menambahkan bahwa energi mikrobiologi ini hanya ditemukan di hutan tropis dengan keanekaragaman hayatinya.

Nasib Hutan Sagu di Papua
            Berdasarkan data yang dirilis oleh Gilberd Yakwart, pelaksana harian kepala Biro dan Protokol Setda Papua mengungkapkan Meranti sebagai daerah penghasil sagu nasional berkualitas premium. Pasalnya, pengolahan sagu di Meranti sudah sangat baik. Padahal bahan baku terbesar terletak di Papua.
            Gilberd juga menambahkan jika hasil bumi seperti sagu ini dikembangkan tanpa kreasi dan kreativitas, maka akan terlihat biasa saja. Namun, jika dikemas dengan inovasi tinggi, dia yakin banyak konsumen menilik sagu sebagai produk unggulan atau pangan dari hutan.
Kemungkinan besar lainnya, Indonesia tidak perlu ada impor beras, karena sagu telah tersedia secara gratis sebagai pangan alternatif pengganti beras. Penanamannya juga mudah, tanpa harus membersihkan lahan, memupuk, atau memberantas hama.
Pada kawasan sentra sagu di Riau atau Papua, 100 pohon siap panen per hektar per tahun. Setiap pohon menghasilkan 200-400 kg tepung sagu sehingga produktivitas setiap hektar lahan 20-40 ton tepung sagu. Potensi sagu dari luasan 5.5 juta hektar itu mencapai 110-220 juta ton tepung sagu. Kebayangkan jika penghasilan ini dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia?

Hutan Sagu  Yang tertidur
            Berbagai lembaga riset mengatakan, data varietas sagu di Indonesia belum terkumpul secara detail. Hal ini sangat berbeda dengan varietas padi unggul yang banyak variasinya. Malah yang terakhir terdengar adalah sagu Meranti asal kepulauan Meranti propinsi Riau.
            Di Papua ada pohon sagu bernama “para”. Pohon sagu ini mampu menghasilkan 975 kg pati per batang. Seorang peneliti Jepang takjub melihat sagu para. Pasalnya di negara asalnya, petani sulit menaklukkan tanah. Untuk menanamnya pun hanya di musim panas.
            Di Indonesia, sagu dari hutan produksi ini terbengkalai sia-sia. Padahal sagunya tinggal di panen saja. Peneliti Jepang tersebut sangat yakin, pasti masih banyak varietas unggul pohon sagu yang tersembunyi. Itupun  jika lahannya tidak dialihfungsikan ke pembangunan sekolah, pemerintah, atau pun hunian baru.

Pohon Sagu Si Pengalah Yang Telah Ada Sejak Dahulu
            Pohon sagu adalah pohon yang sangat pengalah. Dia tumbuh di rawa atau daerah pasang surut serta mudah dijangkau.
            Sangat disayangkan, jika pemerintah malah menganggap rendah pangan non beras ini. Pangan ini sering diidentikkan dengan kemiskinan. Padahal sejarah membuktikan bahwa sagu adalah pangan asli tanah air.
            Coba kalian kunjungi Candi Borobudur, tidak ada relief berkisah tanaman padi, jagung apalagi kentang. Yang terukir di sana justru tanaman palma seperti sagu, aren, kelapa atau nipah.


Gambar Relief Tanaman Palma 

Sagu dan Proses Pembentukannya Menjadi Tepung Sagu
            Negara Indonesia terletak di garis khatulistiwa. Letak inilah yang menyebabkan hutan Indonesia selalu lembab sepanjang tahun. Keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya sangat tinggi. Hal ini menjadi potensi sumber daya alam tersendiri bagi Indonesia. Salah satunya adalah hutan non kayu.
            Potensi hutan non kayu ini tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan hutan kayu.  Beberapa hasil hutan non kayu adalah madu, buah-buahan, jamur, damar, rotan, sagu, dan lainnya.
            Sagu misalnya, adalah jenis tanaman yang berfunsi sebagai makanan pokok bagi penduduk Papua. Tanaman sagu didapat dari hutan sagu yang tersebar luas di hampir semua wilayah Papua.
            Menurut KBBI, sagu adalah pohon yang hati batangnya dapat dibuat menjadi tepung (kebanyakan jenis Metroxylon).
            Proses pembentukan tepung sagu diawali dari pemilihan batang sagu yang terbaik. Batang sagu ini digiling menggunakan penggiling sagu hingga menghasilkan ampas sagu. Ampas sagu disiram dan diremas-remas berkali-kali sambil disaring. Hasil remasan dibiarkan mengendap. Pati hasil remasan diambil untuk dijadikan tepung sagu yang akhirnya diolah menjadi aneka makanan.
           
Mengapa Harus Sagu?
Potensi sagu di Indonesia mencapai lebih kurang 50 % dari sagu dunia. Secara alami sagu tersebar di kepulauan Indonesia. Luasan terbesar berpusat di Papua dengan kualitas terbaik. Sedangkan sagu semi budidaya terdapat di Maluku, Sulawesi, kalimantan dan Sumatera.
Sagu merupakan sumber karbohidrat masyarakat Indonesia di Papua. Sagu mencapai empat juta hektar. Kini, penegembangannya diperluas ke seluruh wilayah Indonesia . Salah satunya Riau. Dengan potensi ini tidak ayal jika Indonesia menjadi salah satu pemasok sagu terbesar di dunia.
Sagu  adalah tanaman pangan lokal yang memiliki segudang potensi. Karbohidrat yang dihasilkan juga tinggi sekitar 357 kalori, relatif sama dengan jagung 360 kalori atau beras giling 366 kalori. Adalah wajar jika sagu bisa kita jadikan sebagai pangan alternatif karena menghasilkan energi bagi tubuh.
Seratus gram sagu kering setara dengan 94 karbohidrat, 0.2 gram protein, 0.5 gram serta, 10 mg kalsium, 1.2 mg besi serta lemak, karoten, tiamin dan asam askorbat dalam jumlah yang sangat kecil.
            Sagu dapat digunakan sebagai bahan pembuatan mie, roti, biskuit, kue, sinoli manis, sagu gula, ongol-ongol, kerupuk sagu dan minuman berfruktuosa tinggi. Ada juga olahan sagu yang non pangan. Salah satunya sagu mutiara.
            Selain sebagai sumber energi, sagu juga memiliki segudang manfaat. Diantaranya sebagai bahan baku pembuatan etanol, melancarkan pencernaan, baik untuk sendi dan tulang, mengatasi hipertensi, mengatasi suhu tubuh agar tetap dingin saat demam, sebagai masker dan masih banyak lagi.

Olahan Sagu
            Ada 10 makanan lezat olahan sagu yang rasanya khas Indonesia banget. Sepuluh makanan tersebut adalah Laupek Sage, Bagea, bubur sagu ambon, kue rangi, papeda, ongol-ongol sagu,  sagu lempeng, kue lompong sagu, sagon dan kapurung.

Resep Leupek Sage
            Karena aku berasal dari aceh, aku lebih memilih Laupek Sage untuk kuperkenalkan pada kalian. Kebetulan Laupek Sage berasal dari daerah Aceh.

Leupek Sage dari Aceh 
Bahan :
Tepung sagu secukupnya
Pisang lembek
Isinya
Kelapa parut
Gula
Garam
Caranya :
Campurkan tepung sagu dan pisang dalam satu wadah, diaduk sampai kalis. Kelapa, gula dan garam digongseng sampai coklat. Pipihkan adonan sagu, lalu masukkan inti (kelapa parut yang telah berwarna coklat) ke dalamnya. Bentuk pipih dan dibungkus dengan daun pisang. Selanjutnya dikukus hingga matang.

Papeda
Resep kedua adalah Papeda. Papeda ini adalah makanan khas orang Papua.

Papeda dari Papua
Bahan :
¼ tepung sagu
2 siung bawang putih
4 gelas air
Kaldu ayam secukupnya
Caranya :
Didihkan air. Campurkan bawang putih, tepung sagu air dan kaldu lalu diblender hingga halus. Masukkan air yang telah mendidih tadi kedalamnya secara perlahan hingga mengental. Jadi deh papedanya di rumah kamu tanpa harus ke Papua.
Leupek sage dan papeda merupakan sebagian kecil makanan tradisional yang wajib kita lestarikan. Selain tetap menjamin bahan baku agar tetap ada, kita juga telah melestarikan makanan tradisional yang hampir di dominasi dengan makanan yang serba instan.

10 Rekomendasi Tepung sagu yang baik
            Agar olahan yang dihasilkan menjadi olahan yang berkualitas, ada baiknya kita mencari tepung sagu yang berkualitas juga. Sepuluh tepung sagu yang sangat rekomen di antaranya bermerk : Merbabu, Alini, Pondok Daun, Api Abadi, Kunci Kembar, Sentani Meer, Healthy Choice, Merapi, Javara dan KebonQta (Sumber : https://bacaterus.com/merk-tepung-sagu-yang-bagus/)

Selamatkan Hutan Sagu Bersama WALHI
            Melihat potensi sagu yang sangat tinggi, maka perlu usaha pembudidayaan hutan sagu ini. Dengan menyelamatkan hutan sagu, berarti kita telah menyelamatkan kebutuhan pangan alternatif bagi bangsa Indonesia. Untuk mempermudah hal tersebut, kita bisa bekerjasama dengan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia).
            WALHI ini telah berdiri sejak tahun 1980. Kinerjanya sangat aktif, di antaranya adalah mendorong upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungan di Indonesia. Sesuai denga visinya yaitu : “ Terwujudnya suatu tatanan sosial, ekonomi dan politik yang adil dan demokratis yang dapat menjamin hak-hak rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan”.
            Mari kita dukung gerakan-gerakannya ya. Untuk info lebih lanjut, kalian bisa mengunjungi official websitenya.

Referensi dari internet


Terima kasih atas kunjungannya. Silahkan tinggalkan pesan atau saran seputar tema pembahasan :).
EmoticonEmoticon