Kamis, 21 Mei 2020

Sampah, Kemanakah Kau Harus Pergi?

| Kamis, 21 Mei 2020

Sampah, Kemanakah Kau Harus Pergi?
Posted by ana_susan, 21 Mei 2020

Foto: pexels.com

“Jika saja sampah dapat bersuara, mungkin dia akan mengatakan mengapa aku harus dibuang? Atau mungkin juga dia bisa bertanya bukankah manusia sebagai penyebabnya?”
***
            Apa yang terbayang oleh kita, manakala mendengar kata sampah? Jijik, kotor, bau dan masih banyak sebutan buruk yang disematkan padanya. Kita juga akan marah jika seseorang mengatakan kita sampah? Mengapa? Yah, karena pandangan semua manusia mengatakan bahwa sampah itu sesuatu yang buruk.
            Aku ingat saat masih kecil dulu. Waktu itu mama menyuruhku untuk membuang sampah di dekat rumah. Aku selalu menolaknya dengan alasan karena pada jarak hampir dua meter dari tempat sampah, bau tidak enak telah tercium di hidungku.
            Belum lagi banyak lalat yang mengerubunginya, ditambah bercampurnya segala macam jenis sampah seperti sampah anorganik (tidak terurai) : plastik, kaleng, besi dan sampah organik (terurai) : dedaunan, rumput kering, kertas dan masih banyak lagi.
            Jika tempat pembuangan sampah itu terkena hujan, dan belum sempat untuk dibakar, maka bertambahlah bau ke mana-mana. Namun, pada saat dibakar, muncul masalah baru, yaitu asap yang bisa melekat ke baju saat dijemur, iritasi mata, bahkan terhirup.
            Itulah sekelumit sampah yang kukenang di masa lalu. Namun sekarang aku sadar, ternyata selama ini aku salah dalam menanganinya. Aku tidak mendengar dia menjerit-jerit setiap kubuang dengan bercampur baur. Aku tidak merasakan tangisannya yang memanggil-manggil aku untuk diolah. Padahal dia telah berkata dan selalu berkata “Aku (sampah) ini tidak muncul jika tidak ada sisa proses konsumsi dari kamu (manusia)?” 
            Mengapa sampah berani berkata demikian? Yah, betul. Sampah tidak akan pernah disebut dengan sampah selama belum dikonsumsi. Misalkan saja air minum kemasan atau makanan ringan potatoes. Setelah kita minum atau makan yang tersisa adalah kemasan kosong. Setelah kosong, pasti larinya ke tempat sampah.
            Kita mengira masalah kita telah selesai. Padahal kenyataannya plastik makanan atau minuman tadi tidak hilang dan akan terurai selama ratusan tahun. Dia hanya berpindah tempat saja. Kalaupun di rumah kita ada yang memungut sampah-sampah tersebut dan selanjutnya dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Sampah), maka itu sama saja. Bedanya hanya berpindah tempat.
            Jadi, kemanakah seharusnya sampah itu pergi? Sadarkah kita, seharusnya sampah itu hidup berdampingan dengan mahluk hidup lain, bukan malah menyakiti. Terlalu banyak manusia menyalahgunakan keberadaan sampah itu. Misalnya saja terjadinya longsor di TPA Leuwigajah, sebagai bencana nasional yang menelan ratusan korban jiwa, menimbun kampung dan lahan Pertanian.
            Belum lagi jika hujan turun, sampah yang berada di TPA akan bermuara ke lautan. Sampai di laut, sampah itu akan menyakiti biota-biota laut. Bahkan jika ada burung-burung yang akan memangsa ikan misalnya, pasti secara tidak langsung ikan yang mengkonsumsi sampah-sampah ikut termakan oleh burung. Seiring dengan waktu, burung itu akan menemukan ajalnya. Jadi jangan heran saat burung telah menjadi bangkai, maka akan ditemukan berbagai jenis sampah di dalam perutnya.
            Miris memang melihat proses sampah yang telah menjelajah begitu jauhnya. Padahal jika sampah itu kita awali dari rumah kita sendiri tentunya tidak akan sampai terjadi demikian.
            Kita memang tidak bisa menjadi selevel Lauren Singer yang hanya menghasilkan satu stoples sampah dalam kurun waktu dua tahun tapi setidaknya kita bisa memulainya dengan cara bertahap. Tahapan itu bisa berupa langkah-langkah pasti yang memotivasi kita untuk terus bergerak menjadikan sampah yang bermanfaat. Langkah apakah itu?
1. Mencegah, Memilah dan Mengolah
Apa yang dicegah? Yaitu barang-barang yang masuk ke rumah kita. Misal saat kita belanja ke pasar, selama ini yang kita tahu pasti banyak mengumpulkan plastik. Mulai dari beli bawang merah pakai plastik, sayur, ayam, bumbu dapur lainnya yang semuanya memakai plastik. Itu terhitung untuk satu kali belanja. Bagaimana jika seminggu ada tiga sampai empat kali belanja dengan pola yang sama. Kebayang kan berapa jumlah plastik yang dihasilkan di rumah kita.
Itu baru plastik sebagai sampah anorganik, belum lagi sampah organik dari sisa-sisa dapur. Seperti sisa potongan sayur, kulit buah, kulit bawang, yang semuanya bisa diolah menjadi pupuk organik baik yang padat maupun cair.
Mencegah sampah plastik dengan membawa tas belanja yang bisa dicuci ulang, mengumpulkan sampah organik sisa di dapur untuk dijadikan pupuk merupakan tindakan yang tepat untuk memberikan jalan terbaik bagi si sampah agar dia tidak kehilangan arahnya.

2. Menghitung Pola Konsumsi Keluarga
Pola konsumsi keluarga sangat menentukan seberapa besar sampah itu dihasilkan. Semakin banyak kebutuhan makanan atau minuman, maka akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.
Untuk meminimalisir jumlah sampah yang banyak, kita dapat melakukan tantangan penimbangan sampah. Baik sampah organik maupun anorganik yang telah kita pilah Tujuannya adalah untuk mengerem konsumsi yang berlebihan pada kemasan.
Jika hal ini dilakukan secara rutin, maka kita akan sangat hati-hati, jika sampah yang tidak  mudah terurai seperti plastik, botol kaca untuk bertengger di rumah kita.
3. Melakukan Gerakan 5R Atau 5M
Bea Johnson, pencetus zero waste home dengan konsep 5R telah menerapkan konsep ini dimulai dari rumahnhya. Hal ini telah dilakukannya sejak tahun 2008. Yaitu Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot atau 5M yaitu Menolak, Mengurangi, Menggunakan kembali, Mendaur ulang, Membusukkan.
Apa itu? Menolak semua kemasan plastik, botol, sterofoam atau apapun yang tidak bisa terurai. Mengurangi jenis sampah yang akan masuk ke rumah. Jika telah masuk dan tidak mungkin untuk dibuang apalagi dibakar, maka akan dipakai lagi dengan cara menggunakan kembali barang tersebut menjadi barang yang bermanfaat seperti dijadikan pot bunga atau hiasan craft sebagai tindakan daur ulang. Untuk sampah yang bisa terurai bisa diakukan dengan cara dibusukkan.
4. Kerjasama dengan Semua Anggota Keluarga
Ibarat dalam sebuah perusahaan, jika kita berkerja sendirian, maka kerjaan kita akan menumpuk dan tidak sesuai deadline. Ujung-ujungnya kesehatan terganggu, mudah stres bahkan depresi hasilnya tidak memuaskan. Demikian juga dalam penanganan sampah.
Jika apa yang kita impikan, kita kerjakan sendiri, maka apapun itu kita akan capek, lelah. Yang ada hanya omelan sana sini seputar rumah. Padahal adanya imbauan untuk membuang sampah sesuai tempatnya dan tiga poin di atas, maka kita tidak akan lelah. Bahkan lingkungan sekitar tempat tinggal kita akan selalu dalam keadaan sehat.
            Itulah beberapa langkah yang kulakukan untuk mengarahkan sampah itu agar dia tidak terombang ambing atau kehilangan arahnya. Percayalah, sampah itu akan mengucapkan terima kasih pada kita, manakala dia diperlakukan dengan baik dan ditangani dengan bijak.
Hasilnya, dia akan berkata “Lihatlah tanaman yang subur ini adalah hasil dari tanah yang kau lakukan dari dari pengolahan sampah organik yang terurai menjadi pupuk atau lihatlah craft ini hasil dari sampah anorganik (plastik) hasil kreativitasmu terhadap aku”.
Jadi yakinlah apapun yang kita lakukan akan kembali kepada kita baik itu berupa kebaikan maupun keburukan.

  


Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya. Silahkan tinggalkan pesan atau saran seputar tema pembahasan :).