[Resensi Novel S. Gegge Mappangewa] Kisah Remaja Tangguh dari Kampung Allakkuang


Blog Competition

Published on 03/25/2021 by ana susan




“Luka, duka, derita, tak menunggu orang dewasa dulu untuk kemudian ditimpanya. Semua kepahitan itulah yang akan menempa kedewasaan”

(Hikayat tiga S. Gegge Mappangewa).


Kebahagiaan hanya bisa diraih dengan kesabaran. Kalimat ini terbukti benar lewat untaian kata yang tersaji dalam Novel Ayah Aku Rindu anggitan  S. Gegge Mappangewa.

Bukan hanya sekedar teori, sebab lakon yang dituturkan dalam novel ini seolah nyata adanya. Bahkan mungkin kita pernah mendengarnya dalam kehidupan sehari-hari. Cerita tentang kerasnya penekanan hidup Rudi, seorang remaja asal Allakkuang, yang akan membuat pembacanya penasaran ingin cepat-cepat menghabiskan lembaran bukunya. Belum lagi rasa sedih dan tekanan yang berkepanjangan tanpa jeda.

Pembaca juga akan diajak menyelam di lautan kepedihan yang tergurat rapi di setiap  halaman. Cobaan demi cobaan telah menerpa Rudi sejak dia masih butuh pegangan. Apalagi usia remajanya yang cendrung labil. Bahkan satu-satunya sosok ayah setelah ibunya wafat diharapkan sebagai figur pun tidak ada. Hanya Pak Sadli yang berprofesi sebagai guru sekaligus tetangga dianggapnya panutan. Namun beliau juga dengan Rudi hampir seperti adik dan kakak, karena usia mereka terpaut tidak begitu jauh.




Rudi tinggal bersama ayahnya di rumah almarhum Nenek Rudi. Ayah Rudi tidak ingin tinggal di rumahnya yang cukup besar. Dengan alasan banyak kenangan indah di sana. Selain tinggal di rumah almarhum nenek, Ayah Rudi mengalami penurunan mental. Penurunan mental ini semakin hari semakin menjadi-jadi. Sampai suatu hari Rudi hampir saja dibunuh oleh sang ayah.

Dalam hal percintaan, Rudi selalu di wanti-wanti oleh almarhum ibunya agar tidak pernah mendekati Ririn. Ririn adalah adik Pak Sadli. Ibu tidak pernah menjelaskan alasannya mengapa. Hanya satu kalimat yang diucapkan untuk menutup pembicaraan Rudi tentang hal tersebut. Yaitu sebuah kalimat ....di rumah kita banyak cinta (halaman 47).

Rudi adalah sosok remaja yang cerdas. Suatu hari saat di sekolah, guru Matematikanya yang bernama Pak Mukarram yang dikenal dengan guru yang galak, memerintahkan Rudi untuk mengerjakan soal matematika di papan tulis. Saat itu Rudi sedang memikirkan kondisi mental ayahnya yang memburuk. Sontak Rudi langsung ke depan dan mengerjakan yang diperintahkan. Namun, herannya Pak Mukarram salut dengan kebenaran dari jawaban Rudi.

Rudi juga dikenal sebagai sosok yang jujur. Pada saat pihak sekolah mengumumkan pemenang fotografi jatuh dengan nama Rudi dan mendapat uang senilai sepuluh juta rupiah. Awalnya dia bangga dan senang. Berita itu akan disampaikan ke ayahnya, namun diurungkan niatnya setelah terngiang dengan nasehat almarhum ibunya dan cerita tentang Nenek Mallomo oleh Pak Sadli mengenai kejujuran. Akhirnya dia putuskan untuk mengembalikan semua uang dengan alasan foto yang dikirimkan olehnya merupakan hasil jepretan ayah Rudi di masa silam.

Didikan lembut ibunya dan disiplin dari ayahnya mampu mempertahankan Rudi di tengah cobaan. Lisan ibunya bak mutiara yang tidak pernah kehabisan kata-kata. Ajakan disiplin dan nasehat ayahnya terus terngiang berharap ingin membalas semua sekarang setelah dulunya sering dilanggar oleh Rudi.

Emosi pembaca diaduk-aduk, ketika sang ayah terus melakukan aksi pembunuhan terhadap Rudi. Ditambah lagi percobaan pembunuhan pada Pak Sadli. Ayah Rudi mengaku dirinya bukan ayah Rudi, akan tetapi dia adalah Nenek Mallomo. Yakni sang legendaris dari gunung Batu, sebuah daerah berbatu yang memanjang di pinggiran kampung Allakkuang.

Niat Rudi untuk mengembalikan posisi ayahnya di rumah sangatlah besar. Hal ini dibuktikan saat salah seorang temannya pernah melabelkan sesuatu yang buruk terhadap ayahnya. Namun kesabaran Rudi selalu dikedepankan.

Jiwa bahagia dan keyakinannya tercipta ketika ribuan cobaan menerpa. Pesan inilah yang tersaji nyata pada novel ini, khususnya setelah pembaca merampungkan keseluruhan dari buku. Karena memang pembaca selalu dibuat salah duga oleh penulisnya.

Cerita kepedihan dan kesakitan yang awalnya pekat, lambat laun berubah menjadi buah kebahagiaan yang melegakan. Manisnya rasa ini kemudian berlangsung hingga titik terakhir kelar dibaca.

 

Mengapa Harus Membaca Ayah Aku Rindu?

Menurut opini saya pribadi, ada lima alasan mengapa Novel Ayah Aku Rindu patut menambah deretan koleksi novel kalian. Silakan cermati beberapa poin berikut ini.



Pertama, Ayah Aku Rindu adalah novel yang dilematik, inspiratif sekaligus memberi motivasi. Kisahnya akan melekat erat di hati pembaca, sekaligus menjadi pematik api semangat bagi yang gemar motivasi lewat sajian tulisan.

Dalam novel ini, banyak momen yang akan menumpahkan air mata pembaca. Beberapa di antaranya adalah saat Rudi kehilangan ibunya, disusul kehilangan sosok ayahnya. Padahal secara lahiriah ayahnya terpampang nyata di depan mata.

Sebaliknya, pembaca juga akan terinspirasi dengan kisah kejujuran Rudi saat menerima uang sepuluh juta rupiah yang bukan merupakan haknya. Uang sebanyak itu bagi usia remajanya sangatlah menggoda. Namun karena Rudi ingat pesan almarhum ibu dan cerita Nenek Mallomo oleh Pak Sadli, maka niat untuk memilikinya diurungkan.

Novel ini juga menyelipkan kalimat-kalimat motivasi. Salah satunya : Allah sebaik-baik penolong dan tempat meminta, Rud! (halaman 123).

Kedua, alur cerita yang plot twist. Alur cerita yang membuat pembacanya salah duga. Penulis S. Gegge Mappangewa dengan cerdas menggunakan alur ini. Awalnya pembaca menduga ceritanya seperti dalam pikiran pembaca, padahal di akhir cerita tidaklah demikian.

Sejak membuka halaman pertama, saya enggan langsung menutup buku lantaran rasa penasaran yang tinggi di halaman berikutnya. Apalagi pada bab awal dimulai dengan judul kuburan dekat lapangan. Saya berani menjamin, pembaca sanggup menyelesaikan Ayah Aku Rindu setebal 192 halaman dalam waktu beberapa jam saja tanpa merasa terbebani.

Ketiga, teknik pelataran yang kental dengan lokalitas. Pembaca akan terbawa penasaran pada daerah Allakkuang yang terletak di jalan provinsi antara kabupaten Sidenreng Rappang dengan kabupaten Soppeng di kota Makasar provinsi Sulawesi Selatan.  Apalagi di sepanjang pinggiran kampung Allakkuang dipenuhi batu sehingga disebut Gunung Batu. Gunung Batu ini adalah tempat cerita yang melegenda dari Nenek Mallomo. Pembaca pasti penasaran untuk mencarinya di Google Map seperti saya.

Dari sisi suasana, budaya Bugis sangat kental mewarnai novel ini. Banyak hikayat yang dihubungkan dengan cerita di setiap babnya. Kadang istilah Bugis terangkum dalam cerita. Seperti Labuesso yang artinya senja, atau Lego-lego yang artinya serambi depan rumah panggung.

Namun demikian, bukan berarti novel ini tidak bisa dinikmati oleh pembaca non Bugis. Tanpa terkesan menggurui, dengan gesit S. Gegge Mappangewa menuturkan makna dari setiap kata berbahasa Bugis itu pada catatan kaki.

Keempat, kaya akan hikayat. Hikayat yang ditulis oleh penulis pada setiap awalan babnya merupakan perwakilan dari isi di setiap bab yang bisa dipetik hikmahnya. Namun demikian pembaca masih dibuat penasaran bagaimana isi dari hikmah hikayat tersebut.

Kelima, adanya prolog dan epilog. Prolog dan epilog sering  ditemui dalam karya sastra terutama drama. Namun, tidak menutup kemungkinan digunakan juga pada karya sastra seperti novel. Menariknya, pada Novel Ayah Aku Rindu menampilkan prolog dan epilog. Adanya prolog membuat pembaca penasaran untuk melanjutkan membaca, meskipun pembaca tahu gambaran umumnya seperti apa walaupun pada akhirnya bisa salah duga.

Pada bagian epilog, pembaca akan mendapatkan sebuah kejutan di akhir cerita setelah melewati bab akhir. Tapi saya sarankan, lebih baik baca keseluruhannya, karena sayang dilewatkan cerita penulis S. Gegge Mappangewa yang kaya akan diksi ini.

Pada akhir novel ini terdapat opini Dokter Afif yang menangani kondisi mental ayah Rudi. Semua berhubungan dengan cincin sisik naga yang dipakai oleh Pak Sadli setelah berpindah tangan dari almarhum ayah Pak sadli. Hubungan cincin sisik naga dan ketidaksukaan ayah Rudi pada Rudi maupun Pak Sadli dipastikan akan membuat pembaca semakin penasaran.

 

Kritik dan saran untuk Ayah Aku Rindu

Seperti sebuah pepatah mengatakan ‘Tiada gading yang tak retak’ yang artinya tiada satu pun yang sempurna. Demikian juga dengan cerita Ayah Aku Rindu. Walaupun kisahnya sungguh apik dan menguras emosi, di mata saya ada dua kelemahan.



Yang pertama itu ketidakkonsistenan penulis menggunakan kata aku dan saya sebagai sudut pandang dari Rudi. Seperti pada kalimat :

Tatapan Pak Sadli berpindah ke arahku, tapi saya hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan pernyataan barusan (halaman 5).

Gawangku kebobolan. Saya harus fokus (halaman 20).

Dan masih ada di beberapa halaman lain, yang menurut saya itu sangatlah mengganggu saat membaca cerita yang seru.

Yang kedua ada beberapa typo di beberapa halaman, seperti :

Senum (halaman 120), seharusnya senyum

Pelepas (halaman 143), seharusnya pelepah

Ketemui (halaman 164), seharusnya ketemuan

Mengingat dua kelemahan ini, maka saya menyarankan agar novel ini diedit kembali pada cetakan selanjutnya. Apalagi novel ini juga sebagai novel pemenang juara 1 kompetisi menulis novel remaja indiva 2019. Tujuannya agar pembaca lebih nyaman di  mata dan bangga memiliki buku sang juara. Sayang sekali bila substansi novel yang sungguh memikat ini, harus ternodai gara-gara dua kelemahan yang sangat sepele.

Akhir kata, semoga Mas S. Gegge Mappangewa bisa menerima kritik membangun ini dengan lapang dada. Tiada maksud saya selain untuk meningkatkan kualitas literasi bagi negeri Indonesia tercinta ini.


Kesimpulan

Ada satu pelajaran berharga yang bisa dipetik dari Novel Ayah Aku Rindu, yaitu sifat Rudi yang tegar dan sabar. Padahal usia remajanya rentan akan ketidakstabilan emosi. Semangat ini pantas ditiru oleh generasi Z yakni generasi yang lahir dalam rentang tahun 2010 sampai kini. Untuk meraih kebahagiaan dan ketegaran agar lebih mendewasa. Oleh karenanya Ayah Aku Rindu, pantas dibaca oleh siapa saja yang memerlukan motivasi terhadap kehilangan orang-orang terdekat yang dicintai.



***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Resensi Indiva 2020 yang diselenggarakan oleh Penerbit Indiva Media Kreasi.

 

 

 


Tidak ada komentar

Terima kasih atas kunjungannya. Silahkan tinggalkan pesan atau saran seputar tema pembahasan :).