Sunday, March 31, 2019

Lima Hal Terindah yang Ada Dalam FLP


Lima Hal Terindah yang Ada dalam FLP
By ana_susan, posted March 31, 2019, 10:11 PM


Foto Bersama Anggota FLP Bogor Angkatan 10


Aku pasti membelinya lagi dengan sisa uang saku yang diberikan mama padaku pada terbitan berikutnya. Pasti seru ceritanya!
***
Itulah sekilas dialog dengan diriku sendiri sekitar lima belas tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih di bangku kuliah. Aku jatuh cinta dengan cerita bersambung dari majalah Annida yang berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi”. Cerita ini membuatku meneteskan air mata untuk pertama kalinya. Betapa tidak, seumur-umur belum pernah baca majalah yang bisa membuatku menangis plus penasaran.

Aku adalah tipe pembaca pemilih. Tidak semua buku atau majalah aku sukai. Pasti yang kulihat adalah judul, daftar isi dan cerita sekilas di dalamnya. Jika menurutku menarik, pasti aku akan membelinya meskipun mahal.

Pada majalah Annida, yang lebih dikenal dengan majalah islami, berisi tetang seputar masalah remaja dan cerita-ceritanya. Salah satu penulis yang sering kutunggu karyanya adalah Helvi Tiana Rossa. 

Aku tidak begitu mengenal dengan sosok penulis Helvi Tiana Rossa. Ntah mengapa, untuk penulis yang satu ini selalu memberi semangat ibadahku, saat itu. Karya-karyanya telah memenuhi rak bukuku di rumah, sehingga aku bisa menjadikan majalah yang ada karyanya menjadi bundelan. Namun sayangnya bundelan majalah tersebut hilang karena tsunami .
***

            “Kak, aku mau dong bisa nulis kayak kakak. Ajarin dong kak”.
            “O, boleh banget, Dek! Ikut Forum Lingkar Pena saja!” saran Si Kakak sambil ngiklan.
            “Di Aceh?” kataku kaget.
            “Jangan! di Bogor saja. FLP itu ada di mana-mana kok Dek”.

Atas rekomendasi dari sang kakak kelas, aku pun mengikuti kelas menulis. Rasanya hampir tidak percaya. Kok ada ya belajar menulis. Bukankah sejak kecil kita sudah bisa menulis? Bukan, bukan itu kawan. Ilmu menulis yang aku dapatkan di FLP bukan sembarang menulis. Bukan pula sembarang materi yang diajarkan oleh kakak-kakak mentornya. Banyak hal terindah yang aku dapatkan dalam FLP ini, lima diantaranya adalah:

1.      Rasa Penasaranku Terjawab
Kalian pasti tahu bagaimana penasaran pada sesuatu hal. Aku sendiri sangat penasaran sama FLP dan hal apa saja yang dikerjakan di dalamnya. Ternyata, taraaa….di sana diajarkan bagaimana menulis reportase, review buku, membuat cerita fiksi dan non fiksi dan masih banyak lagi. Semua itu adalah hal yang paling dasar dalam tulis menulis.

FLP Sumber Inspirasi Setiap Kegiatan

Psttt, ada yang paling aku sukai dari yang diajarkan. Yaitu ngeblog. Bagiku, ngeblog ini seru, soalnya kita bebas menuangkan cerita apa saja di dalamnya.

2.      Inspirasiku
Melalui FLP, bermuncullah banyak inspirasi bagiku. Aku ingin semua bisa. Dengan ilmu yang telah kudapatkan, aku ingin mempraktekkannya semua. Maka, mulailah kuikuti lomba-lomba cerpen, lomba blog, lomba dongeng dan mengikuti beberapa challenge. Alhamdulillah dari beberapa lomba cerpen dan dongeng yang telah kuikuti ada beberapa yang menang, sehingga menghasilkan buku antologi cerpen dan dongeng. Meskipun aku bukan juara pertama, aku senang bisa menjadi salah satu nama yang ada di dalamnya.

3.      Konsisten dalam menulis
Kalian tahu, ternyata dengan aku mengikuti lomba, challenge menulis dalam sebulan ternyata memotivasi diriku untuk tetap konsisten dalam menulis. Sejatinya seorang penulis itu membaca, membaca, membaca, lalu menulis dan teruslah menulis.


Sertifikat Challange 30 Hari Menulis dari Blogger Perempuan


4.      Memperluas jaringan menulis
Kekonsistenan dalam menulis berlanjut terus untuk memperluas jaringan menulis. Aku terus mencari layaknya pemburu yang mencari mangsa. Mulai dari facebook dengan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), sampai Instagram dengan Blogger Perempuannya, Joeragan Artikel (JA) dan Kumpulan Emak Blogger (KEB). Semua itu tidak membuat semangatku menurun, justru di sanalah kutemukan energi yang sama sepertiku. Yaitu sama-sama berjuang melalui tulisan.

5.      Bersinergi dengan pemerintah
Adanya hubungan sinergi antara FLP dengan pemerintah, memudahkan masyarakat untuk lebih dekat dengan literasi (selaras dengan milad FLP yang ke-22 baru-baru ini). Di zaman millennial yang lebih mengutakan gawai memungkinkan para generasi terbuai dengannya, sehingga budaya untuk membaca dan menulis pasti terlupakan. Namun yang aku sukai, FLP justru telah bersinergi dengan pemerintah, bahkan menjadikan dirinya sebagai bioindikator sehingga FLP lebih produktif dalam karya tulisan. Untuk info lengkapnya bisa dilihat melalui http://flp.or.id.

FLP Selalu Bersinergi dengan Pemerintah dalam Literasi



Itulah lima hal terindah diriku bersama FLP. Aku berharap, ke depan akan muncul generasi-generasi yang cinta membaca dan menulis. Tidak terbuai dengan tekhnologi yang ada. Kalau pun dia ingin mengikuti tekhnologi tidaklah mengapa, tapi setidaknya tekhnologi mempermudah dirinya untuk terus menebar kebaikan melalui tulisan.

“Dengan membaca, manusia akan mengelilingi dunia, sedangkan dengan menulis manusia akan dikenal oleh dunia”.

“Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba blog dari Blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22 Th”

Saturday, March 23, 2019

Yakin Masih Ragu Dengan Asus Vivo Book Pro F570? The Mainstream Performance Laptop, Asus AMD dan NVIDIA Dalam Satu Laptop


Yakin Masih Ragu Dengan Asus Vivo Book Pro F570? The Mainstream Performance Laptop, Asus AMD dan NVIDIA Dalam Satu Laptop
Posted by ana_susan, Maret 23, 2019, 1:20 AM

“Belum habis rasa penasaran diri ini dengan Asus ZeenBook 13/14/15 “ pada kompetisi blog yang diadakan bulan lalu. Eh, sudah nongol lagi keluaran baru dari Asus. Sepertinya Asus memang selalu mengedepankan inovasi baru. Apalagi keluaran produk sekarang adalah The Mainstream Performance Laptop”


***

Tidak dapat dipungkiri, kita adalah generasi millennial. Yaitu generasi muda masa kini yang lahir di antara tahun 1980 an sampai 2000 an. Mau usia kita muda atau tuakah, kita telah terperosok di dalamnya. Jadi mau tidak mau atau suka tidak suka, kita harus menghadapinya.

Pada masa millennial ini kita juga harus bangga, disamping tingkat kehati-hatian yang juga tinggi. Mengapa? Karena kita telah menjadi perbincangan di manapun kita berada. Kadang kita merasa masih seperti yang dulu. Padahal zaman telah berubah. Nah untuk mengetahui apakah kita tergolong manusia millennial atau bukan, nih saya kasih tau ya ciri-cirinya. Ayo di cek benar nggak kita generasi millennial itu?





Dengan melihat beberapa poin di atas ternyata benar, bahwa kitalah manusia millennial itu. Salah satu misalnya, kita suka bosan dengan barang yang dibeli.

Meskipun barang saya (laptop) yang saya gunakan sekarang masih bisa dipakai, namun karena kinerjanya sudah mulai lelah, dengan batere yang sering low hanya beberapa jam penggunaan. Membuat dunia posting dan sharing yang saya lakukan terhambat. Ditambah lagi saat mengedit foto maupun video yang tidak mendukung. Apalagi saat lelah menyapa, pingin mendengarkan murathal quran maupun lagu suaranya kurang mendukung. Jadilah semangat menyelesaikan konten tulisan menjadi kendor.

Sebagai mompreneur yang memiliki anak bungsu yang masih kecil, saya harus menyelesaikan tulisan di malam hari. Dengan suasana lampu yang kurang mendukung membuat hasil ketikan banyak salahnya. Belum lagi jika anak saya pingin memainkan game yang bersifat edukatif di laptop yang berfungsi untuk melatih motoriknya. Meskipun laptop tidak diwajibkan, akan tetapi setidaknya mereka tidak gagap tekhnologi di zamannya. Adalah kewajiban bagi kita dalam mengontrol waktu yang mereka gunakan.

Jadi 2019 ini saya harus memiliki laptop baru yang mumpuni dalam segala hal. Dunia blogger yang saya geluti sekarang tidak hanya membutuhkan isi tulisan saja, akan tetapi konten juga harus kreatif dengan tampilan visual yang cukup menarik. Baik melalui foto, video, infografis dan sejenisnya.
Biasanya konten-konten tersebut dipublikasi setelah melalui proses editing gambar yang baik dan menyisipkan video agar lebih menarik perhatian pembaca. Intinya untuk menghasilkan suatu konten yang kreatif, harus didukung oleh laptop yang mumpuni.

Kalian tau laptop apakah yang saya idamkan?

Yah Betul. Dia adalah Asus VivoBook Pro F570.
  
Setelah sekian lama mempelajari keunikan dan keunggulan dari Asus VivoBook Pro F570, ternyata saya tidak salah pilih. Inilah laptop yang saya cari selama ini. 

Sejarah Asus
“Tak kenal maka tak sayang”. Itulah salah satu pepatah lama mengatakan. Demikian juga dengan Asus. Untuk mengenalnya, kita mesti memperdalam asal usul Asus itu sendiri.

Asus berdiri pada tahun 1989 oleh empat insinyur komputer Wayne Hseih, Ted Hsu, MT Liou dan TH Tung. Keempatnya memiliki visi dan misi yang sama, yakni memajukan industri TI di Taiwan.
Nama Asus sendiri diambil dari nama makhluk Mitologi Yunani yaitu “Pegasus”. Perkembangan perusahaan ini diawali dengan membuat dan menjual motherboard untuk prosesor latel 486 pada decade 80-an. Kemudian go public, dimana motherboard Asus terpasang di 29,2 % komputer desktop di dunia.

Tahun 2007, Asus membagi dirinya menjadi tiga perusahaan yaitu Pegatron, Unihan dan Asus itu sendiri. Nah, Asus ini fokus pada notebook dan sistem komputer utuh. Atas dasar pembuatan motherboard inilah, membuat perusahaan ini sukses besar.

Sejak tahun 2014, Asus meraih lebih dari 721 penghargaan untuk seri Zenfone. Asus juga memenangkan 4.511 penghargaan dari organisasi dan media IT sedunia pada tahun 2016 dan berhasil mendapatkan revenue sebesar 13 miliar dolar AS di tahun 2017.

Tahun 2018, Asus kembali menunjukkan pertumbuhan yang positif, dimana pangsa retail tradisional chanel mencapai angka 40,8 persen. Nilai ini meningkat dibandingkan akhir tahun 2017 yang berada di angka 39,8 persen.

Masih banyak prestasi yang di raih oleh Asus yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Pada segmen notebook ultrathin misalnya, Asus juga terus mengalami peningkatan market share di Indonesia dari 7 persen menjadi 22,6 % . Nilai ini menunjukkan bahwa laptop seri Asus ZenBook ataupun Vivo Book sudah semakin menarik perhatian pengguna di seluruh Indonesia.

“Oleh karena itulah, awal tahun 2019 Asus menghadirkan lini produk ultrabook premium high end. Selang beberapa waktu kemudian tepatnya pada 14 Februari 2019, oleh produsen asal Taiwan, Jimmy Lin merilis varian terbarunya yang ditujukan untuk segmen mainstream tapi tetap mengedepankan performa. Asus tersebut adalah Asus VivoBook Pro F570.”



Laptop mainstream dengan performa tinggi


Apa yang membuat VivoBook Pro F570 mainstream dengan performa tinggi?

Pertama, Cover dan desain Asus VivoBook Pro F570 eye cathing look. Jonas Chen, Notebook Country Product Manager Asus Indonesia, pada acara launching Asus VivoBook F570 di Jakarta, mengatakan bahwa Asus kali ini memiliki eye cathing look yang oke.
Cover Asus memberikan brushed finished yang di desain seperti Asus lini TUF Gaming. Asus seri TUF FX504 ini peraih juara Reddot Award pada tahun 2018. Warna hijau logo ASUS membuat laptop ini terkesan garang meskipun tidak segarang warna merah khas ROG.
Berbeda halnya dengan Asus VivoBook Pro F570. Untuk mempertegas penampilannya, logo ASUS diberi warna biru elektrik yang kontras dengan warna hitam yang membalut seluruh body laptop tapi senada dengan aksen lis di sekeliling layarnya.

Asus VivoBook Pro F570 selain diciptakan dengan performa tinggi, tipis dan ringan, juga tampil cantik. Jadi tidak hanya kaum adam saja bisa menggunakannya, kaum hawa juga bisa. Pasalnya dengan finishing Reaper Black yang gagah, juga menampilkan aksen lightning blue di bagian tepiannya. Hal ini membawa kesan bagi si pengguna agar tetap tampil modis dengan laptop berkelas performa.

Asus VivoBook Pro F570 adalah tipis dan ringan. Dimensinya hanya 21, 9 milimeter dengan bobot 1,9 kilogram. Makanya tidak salah kan kalau laptop ini mainstream performance yang paling ringan dikelasnya. Apalagi jika dibawa kemana-mana. Mengetik, mengedit video di taman atau café yang ada wifi nya juga jadi tambah pede. He he. Apalagi yang bawanya juga cantik. Ai ai…

Kedua, Asus VivoBook Pro F570 didukung oleh prosesor AMD Ryzen 5 atau Ryzen 7. Prosesor Ryzen ini adalah prosesor andalan AMD. Saat digabungkan dengan kartu grafis besutan Nvidia Ge Force GTX 1050 4 GB, menjadikan kinerja atau performa Asus ini sangat mengagumkan dalam pekerjaan sehari-hari, multitasking, video terlihat jernih, detail dan realistis. Atau dengan kata lain Asus VivoBook Pro F570 sangat Amazing Performance

Ketiga, Audio Sonic Master Asus vivoBook Pro F570 yang didukung oleh prosesor AMD maupun Nvidia sangat berpotensi untuk multimedia. Audio ini dikembangkan oleh tim Asus Golden Ear dengan menerapkan teknologi sonic master. Dengan teknologi sonic master inilah akan menghasilkan suara yang jernih. Perpaduan khusus perangkat keras dan lunak yang inovatif dirancang untuk memberi kontrol audio pada film, musik dan game yang ada di laptop Asus VivoBook Pro F570.


Apa Kelebihan Atau Kualitas Yang Dimiliki Oleh Asus VivoBook Pro F570 ?

Untuk menetapkan laptop yang berkualitas di kelasnya. Asus selalu menetapkan spesifikasi terhadap produk yang diciptakan. Spesifikasi tersebut adalah spesifikasi teknis yang menjamin kualitas maupun harganya.

Saya sendiri sangat tertarik dengan kualitas maupun harga yang ditawarkan. Karena kualitasnya yang sangat oke, tapi harganya tidak mahal.




Untuk menemani berbagai kegiatan penggunanya, kita perlu menggunakan konektivitas yang lengkap, Asus VivoBook Pro F570 menyediakan port eksternal yang terdiri atas slot microSD, USB 3.1 Type-C, HDMI size full, USB 3.0, RJ45 LAN, USB 2.0 dan microphone-in/Headphone-out jack.

Dengan adanya port eksternal ini, para pengguna Asus VivoBook Pro F570 tidak perlu khawatir jika ingin memasang perangkat input atau output lain pada laptop tanpa harus mengorbankan atau melepas perangkat lain yang sedang terhubung.

Sementara itu untuk koneksi nirkabel mengandalkan Bluetooth 4.1 dan WiFi 802.11 ac 2×2 dual band. Kecepatan koneksi WiFi terbaru itu juga diyakini enam kali lebih cepat dibanding versi terdahulu 802.11 n.
Saat berpergian, saya tidak perlu khawatir untuk mencari colokan jika mendadak pingin nulis tapi baterenya telah habis. Soalnya pada Asus VivoBook Pro F570 ini ketahanan batere bertahan hingga 9 jam. Yang menarik lagi, jika batere habis dan pingin di cas lagi, hanya butuh waktu 49 menit saja untuk kapasitas batere 60 %. Jadi gampang kan?

Kalian tau apa yang diidamkan oleh kebanyakan orang tua? Yap betul menguasai media televisi yang menyediakan konten beraneka ragam agar bisa terkontrol. Namun hal tersebut adalah tidak mungkin kita lakukan, mengingat kesibukan kita yang tanpa batas. Ada solusi lain yang bisa kita lakukan yaitu memilih media yang tepat untuk kita berikan kepada anak-anak kita. Salah satunya laptop.

Dalam laptop konten yang akan kita isi tergantung dari diri kita sendiri yang bisa dinikmati oleh anak-anak kita. Nah, untuk Asus VivoBook Pro F570 ternyata mendukung sekali. Dimana dengan performa CPU dan GPU yang tinggi, para pengguna seperti saya bisa memanfaatkannya sebagai pusat multimedia baik dari sisi hardware maupun software.

Fitur yang dgunakan untuk melengkapi hal tersebut adalah fitur Asus splendid software tuning untuk memastikan warna yang diampilkan konsisten dan akurat. Untuk kemudahan konfigurasinya fitur ini memiliki empat mode yang telh tersedia untuk optimalisasi yang berbeda. Jika kurang pas kita bisa menggunakan mode manual untuk menyesuaikan pengaturan tampilan sesuai kebutuhan.

Fitur yang kedua adalah fitur Asus Tru2Life Video yang mampu meningkatkan tampilan warna sama seperti yang dimiliki pesawat tv kelas atas bahkan hingga 150 persen kontrasnya. Untuk mengoptimalkan ketajaman dan kontras tiap frame video sehingga video terlihat jernih, detail dan realistis, fitur ini memakai algoritma software cerdas.

Fitur yang ketiga adalah fitur audio. Fitur yang dikembangkan oleh tim Asus Golden Ear  sangat mumpuni dari asus Sonic Master. Kualitas suaranya juga sangat baik dengan range frekwensi yang lebih luas, vocal lebih jelas serta bass yang lebih dalam. Sonic master sendiri berasal dari hardware dan software superior yang di desain untuk mengontrol si pemakai baik dalam hal menonton film, mendengarkan musik maupun bermain game.

Kapasitas yang disediakan oleh Asus VivoBook Pro F570 ini sebesar 256 GB SSDM.2 SATA3 pada versi AMD Ryzen7 dengan kapasitas ekstra hardisk ITBnya sebesar 5400 rpm. Sedangkan versi Ryzen 5 hanya dilengkapi dengan hardisk ITB saja.

Layar Asus VivoBook Pro F570 yang berukuran 15,6 inci ini memiliki resolusi full HD dengan rasio 16:9 atau 1920x1080 pixel.  

Pingin nyaman saat mengetik  dalam waktu yang lama, Asus VivoBook Pro F570 pilihannya. Mengapa? Karena keyboard yang dimiliki Asus VivoBook Pro F570 ini cukup nyaman saat ditekan dengan travel distance hingga 1,4 milimeter sehingga tidak terlalu dalam pada backlit. Plus tersedia fitur backlit pada keyboard chicklet full size yang dipakai.

Ambient light controlnya didukung oleh backlit key sehingga saya bisa mendapatkan tingkat kecerahan yang berbeda-beda tergantung kebutuhan atau tingkat pencahayaan di sekelilingnya. Tingkat kecerahan layarnya pada 200 nits yang menggunakan panel anti glare.

Untuk pembuangan hawa panasnya berada di bagian belakang laptop, sehingga saat mouse digunakan baik dari sisi kiri atau kanannya tidak mengganggu si pemakai oleh hembusan hawa panasnya. Untuk menghirup udara dingin, Asus VivoBook Pro F570 ini menempatkan cooling grill di bagian atas keyboard. Posisi ini membantu masuknya udara dingin ke dalam laptop.

Hal ini terbukti, saat digunakan full load (redering image 3D yang memaksa core prose sorbe) bekerja pada kecepatan 100 %. Prosesor AMD Ryzen 5 bekerja pada suhu yang terjaga di 60-65oC. pada kondisi ideal, suhu ini dapat ditekan 35-39oC.

Pstt ada lagi yang membuat laptop ini nyaman untuk saya, yaitu saat menikmati konten multimedia atau bekerja, Asus VivoBook Pro F570 menyematkan fitur teknologi Asus Eye Care Technology yang bisa mengurangi pancaran sinar warna biru hingga 33 persen. Jadi mata ini serasa di manja-manja gimana gitu. Hi hi.

Asus VivoBook Pro F570 dilengkapi dengan fingerprint sensor touchpad atau sensor sidik jari yang telah di support oleh Windows Hello. Windows Hello ini pun telah di preinstall windows asli dan seperti laptop ASUS lainnya sudah dilengkapi dengan fingerprint sehingga membuat login lebih cepat dan aman.

Windows hello adalah fitur yang memudahkan penggunaannya untuk login ke dalam windows dengan cukup menggunakan deteksi wajah dan sidik jari tanpa perlu mengetik password. Windows hello dirilis bersamaan dengan peluncuran windows 10 pada 29 juli 2015 lalu.

Saat dicoba, sensor mampu mendeteksi jari yang telah direkam secara responsif. Sebelum satu detik, sensor telah mengenal sidik jari penggunanya dan langsung di kirim ke desktop sistem operasi windows 10 Home 64-bit.

Hal yang membuat saya tambah yakin dengan Asus VivoBook Pro F570 adalah, performanya telah teruji. Pengujiannya dengan menggunakan berbagai software benchmark yang umum digunakan terhadap prosesor maupun grafis. Nah untuk pengukuran prosesor dilakukan dalam 3 tahap yaitu pengujian rendering 3D dengan software Cinebench R15 untuk mengukur performa CPU, pengujian software GeeBench untuk mengukur performa prosesor secara single core atau multicore dan pengujian PCMark 10 untuk mengukur performa secara keseluruhan.

Sedangkan untuk pengukuran grafis dilakukan dalam pengujian 3DMark Fire Strike untuk mengukur performa grafis sintetik dan pengujian Unigine Heaven untuk mengukur simulasi game
Hasil yang didapat saat rendering 3D, performa total Ryzen 5 mencapai 617 poin dengan single corenya pada poin 142. Hal ini lebih cepat dibandingkan dengan prosesor intel Core i7 (generasi ketiga IvyBridge).

Saat diukur dengan Geekbenc, performa single corenya 3551 poin dan multi corenya 9706 poin. Hal ini menunjukkan performanya melampaui intel Core i5 seri Broadwell (generasi ke-5).

Secara lengkap spesifikasi teknis Asus Vivo Book Pro F570 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Main Spec.
ASUS VivoBook Pro F570ZD
CPU
AMD Quad Core R5-2500U Processor, 2.0 GHz (2M Cache, up to 3.6 GHz)
Operating System
Windows 10 Home 64-bit
Memory
8GB DDR4 2400MHz SDRAM (onboard) with SO-DIMM socket up to 16GB
Storage
SATA 1TB 5400RPM 2.5′ HDD
Display
15.6” Full HD 1920x1080p 16:9, Anti-glare, ultra slim 200nits with 45% NTSC
Graphics
Nvidia GeForce GTX 1050 with 4GB GDDR5 VRAM           
Input/Output
1x Type-C USB3.1 port, 1x USB 3.1, 2x USB 2.0, 1x audio combo jack, 1x HDMI,  1x MicroSD Card Reader, 1x RJ-45 LAN
Camera
HD Web Camera
Connectivity
Dual-band 802.11ac Wi-Fi, Bluetooth 4.2
Audio
ASUS SonicMaster stereo audio system with surround-sound,
Array microphone with Cortana voice-recognition support
Battery
3 -Cell 48 Wh Battery
Dimension
37.4 x 25.6 x 2.19 cm (WxDxH)
Weight
1.96 kg with battery
Colors
Reaper Black with Lightening Blue edges
Price
Start from Rp11.799.000
Warranty
2 tahun garansi global

Untuk pasar Indonesia, ASUS VivoBook Pro F570 tersedia dalam dua pilihan prosesor yaitu Ryzen 7 dan Ryzen 5. Berikut detail spesifikasi yang ditawarkan.
o    AMD Ryzen 7 2700U | 8 GB RAM | GeForce GTX 1050 4 GB GDDR5 | 256 GB SSD | 1 TB HDD | Windows 10
o    AMD Ryzen 5 2500U | 8 GB RAM | GeForce GTX 1050 4 GB GDDR5 | 1 TB HDD | Windows 10

Harga jual Asus VivoBook Pro F570 Ryzen 5 dibandrol Rp. 11.799.000,- dan bisa di dapatkan dengan bebas di toko komputer seluruh Indonesia atau dijual eksklusif di JD.ID. Demikian pula dengan Asus VivoBook Pro F570 Ryzen 7 yang juga dijual eksklusif di JD.ID, melalui mobile site di https://m.jd.id/camp/asus-f570zd-r7591t-316210179.html atau desktop site di https://www.jd.id/campaign/asus-f570zd-r7591t-3162.html

Setelah VivoBook Pro F570, Asus bakal mengeluarkan produk notebook seperti apa lagi ya? Yang pasti setiap Asus mengeluarkan produk baru, soft launchingnya sering ditunggu oleh banyak blogger seperti saya. Vlogger juga demikian.
Semua spesifikasi tersebut membuat lini Asus VivoBook Pro F570 ini sangat unggul digunakan sebagai laptop sehari-hari yang multitasking dan multimedia .
Dengan melihat desain dan kualitas dalam kedua hal tersebut, Asus VivoBook Pro F570 menonjolkan konsep mainstream dengan performa tinggi yang dihadirkan oleh pemakai setianya, mompreneur seperti saya. Perpaduan keduannya membuat saya yakin untuk
#2019PakaiAsusVivoBookProF570 #AsusAMDNvidia#AsusAja

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisis lomba blog Asus dan Borneo. 



Saturday, March 9, 2019

Perpustakaan Unsyiah Melebihi Ekspektasi, Ini Faktanya


Perpustakaan Unsyiah Melebihi Ekspektasi, Ini Faktanya
Posted by ana_susan, Marc 9, 2019, 5:39 AM, Blog Competition



doc : http://modernislamnews.blogspot.com

“Sejenak aku menggulirkan ujung jari telunjuk di atas adroidku. Seperti biasa, untuk mengisi ruang menulisku, aku mengasahnya dengan berbagai perlombaan. Salah satunya ngeblog. Saat aku mencari informasi lomba blog di salah satu akun Instagram, aku menemukan kompetisi blog yang diadakan oleh Perpustakaan Unsyiah. Masih setengah percaya sih. Aku mulai penasaran. Apakah ini benar yang diadakan oleh Perpustakaan Unsyiah?...Hmm. Dengan rasa kepo tingkat dewa kubukalah akun tersebut. Dan taraaa….ternyata benar”.

Memori Perpustakaan Unsyiah Dulu
Otakku seakan dipaksa untuk berpikir dengan mengingat-ingat keadaan Perpustakaan Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) zaman aku kuliah dulu.  Sebuah perpustakaan yang sangat sederhana dengan rak-rak yang dipenuhi buku. Saat memasuki ruangan perpustakaan aku harus melalui lobi (tempat menunggu). Fungsinya untuk menghindari antrian yang panjang saat memasuki ruang pustaka.

Seperti layaknya perpustakaan pada umumnya suasana dalam keadaan hening (tidak boleh berisik) dan bete pastinya. Karena harus menunda makan atau ngemil yang tidak diperbolehkan bawa masuk ke dalam. Sementara perut sudah keroncongan serta literatur tugas-tugas kuliahan menunggu di depan mata. Tak jarang banyak mahasiswa yang mengalami sakit yang sama seperti aku saat itu. Yaitu magh.

Di bagian lantai satu terdapat buku-buku umum, di lantai dua bagian buku kuliahan, sedangkan di lantai tiga buku-buku majalah dan jurnal. Dalam meminjam buku dibatasi hanya 3 buku. Buku yang dipinjamkan harus dikembalikan pada tanggal yang telah ditetapkan. Jika melewati tanggal maka akan dikenai denda dengan membayar uang cash.

Jika waktu sholat tiba, aku menggunakan ruang sholat yang menyatu antara laki-laki dan perempuan di lantai satu dekat kamar mandi. Ruang sholat dan kamar mandi berada di luar pintu masuk pustaka Unsyiah.

Jadwal peminjaman dan pengembalian buku saat itu dimulai dari jam 8.00 sampai jam 5.00 sore. Itu pun kadang hanya sedikit waktu yang bisa kupakai untuk ke perpustakaan. Selebihnya aku harus kuliah. Jarak tempat kuliahku dengan perpustakaan juga lumayan jauh. Kadang malas untuk bolak-balik setelah selesai jam kuliah. Jadi mau tidak mau, aku ke sana saat jam kuliahku sedikit.

Untuk kebutuhan bahan kuliah, kadang aku harus fotokopi. Apalagi jika buku yang kubutuhkan tidak boleh untuk dipinjam. Untungnya di sana disediakan mesin fotokopi. Dan harganya lebih mahal dibandingkan fotokopi di tempat lain. Mungkin ini wajar, untuk menyisihkan income dari perpustakaan Unsyiah tersebut saat itu.

Tidak itu saja, Perpustakaan Unsyiah juga menyedikan tempat bagi berbagai universitas untuk melaksanakan workshop. Jurusanku Kimia saat itu sering mengadakan acara tersebut. Lumayan berkesan deh pokoknya, karena lebih bersih dan rapi.

Buku-buku yang disediakan saat itu juga lumayan lengkap. Jadi aku tidak perlu capek-capek harus ke perpustakaan lain.

Dari semua uraian yang kusampaikan membuat masa-masa sibuk dulu sangatlah berkesan. Beruntung, karena bahan-bahan yang kucari lengkap tersedia di dalamnnya. Meskipun aku harus bercapek-capek dan menahan lapar guna menuntaskan tugas yang ada. Namun semua terjawab dengan sebuah hasil yang sangat didambakan kedua orangtua siapa saja. Yaitu wisuda.

Perpustakaanku Hijrah Ke Tempat Lain
Dengan bermodal beasiswa yang ada, aku menjejaki Bogor guna melanjutkan studiku. Belajar, mencari tau, meneliti adalah kesukaanku. Hal ini membutuhkan buku yang tidak sedikit. Baik itu dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Semuanya terus menemani hari-hariku. Masih dalam situasi yang sama dengan perpustakaan Unsyiah. Alhamdulillah aku telah melewati semua perjuangan dalam mencari buku. Meski harus mengorbankan si sulung yang baru berusia 6 bulan di buaian sang ayah, tidak menyulutkan semangatku untuk terus mencari ilmu. Aku bergantian dengan suami dalam pengasuhannya.

Perpustakaan Unsyiah Sekarang
“Dengan perasaan terkejut plus kagum. Sepertinya hampir tidak percaya, kalau berita-berita yang dilayangkan di media sosial tentang UPT Perpustakaan Unsyiah. Mulai dari gedungnya, kemudian kegiatan yang ada di dalamnya, sampai dikenal di Asia Tenggara bahkan terakreditasi A”

Waaah, sebuah prestasi yang sangat mumpuni. Aku yang ketinggalan informasi dengan semua yang telah diberitakan. Malah baru tau sekarang setelah mengikuti kompetisi blog “Unsyiah Library Fiesta 2019”.

Betapa malunya diri ini. Baru tersadar sekarang, bahwa Perpustakaan yang berasal dari daerah kelahiranku punya prestasi yang cemerlang. Maafkan aku yang telah melupakan jasamu. Bukan aku tidak perduli, tapi karena aku telah lama tidak pulang ke kampung halaman sejak 2007 hingga 2016. Aku juga jarang up date statusmu. Namun ternyata engkau telah berkembang mengukir prestasi yang banyak.

Banyak perubahan yang telah terjadi padamu. Mulai dari pintu masuk perpustakaan hingga interior yang ada di dalamnya. Dulu pada bagian informasi corner terdapat mesin fotokopi dan tempat menjual alat tulis. Kemudian tidak ada tiang pembatas. Saat memasuki ruangan harus melewati pintu sensor. Fungsinya menghindari buku yang belum terdeteksi oleh komputer. Tas juga tidak diizinkan membawa ke dalam pustaka.



Universitas  merupakan tempat para mahasiswa mendapatkan banyak hal dan merupakan tempat yang sempurna untuk merangsang dan menumbuhkan minat baca. Oleh sebab itu adalah penting bagi universitas memiliki sebuah perpustakaan. Namun ternyata, membangun perpustakaan bukan suatu hal yang mudah.

Ada beberapa ciri dan karakter yang harus dimiliki agar perpustakaan tersebut layak atau ideal. Ciri-cirinya antara lain up to date, rapi, bersih, nyaman dan sejuk serta memiliki fasilitas lengkap. Sedangkan karakteristiknya adalah memiliki struktur lembaga yang kuat, desain ruang yang menarik, koleksi buku variatif, peningkatan kualitas dan kuantitas pustakawan serta memiliki layanan yang berkualitas.

Ciri dan karakter tersebut di atas ternyata dipenuhi semuanya oleh UPT Perpustakaan Unsyiah. Perpustakaan Unsyiah diawali dengan hanya menggunakan gedung fakultas Ekonomi sebagai fasilitasnya (1970) bertahap menjadi Perpustakaan berstatus sebagai Unit Pelayanan Teknis (UPT) pada tahun 1980 sampai berubah menjadi Perpustakaan memiliki gedung sendiri yang didirikan berdampingan dengan Kantor Pusat Administrasi (KPA) Unsyiah (1994). Sejak April 1994, dengan Surat Keputusan Rektor No. 060 tahun 1994, pendayagunaan UPT Perpustakaan Unsyiah ditingkatkan, yaitu dengan menyatukan semua perpustakaan yang ada di lingkungan Unsyiah di dalam satu wadah UPT Perpustakaan.

Demikian rasa bangga yang membuncah, seolah aku iri dengan keadaannya sekarang.

Iri karena aku tidak di sana menikmati kelebihan perpustakaan Unsyiah yang sekarang. Bahkan salah satu negara Asia Tenggara kagum dengan keberadaan Perpustakaan Unsyiah tersebut”.

Kelengkapan fasilitas dari sebuah universitas memang menjadi daya tarik sendiri untuk menjadi bahan pertimbangan kita. Bagi Unsyiah sendiri, sebagai universitas yang telah eksis selama kurang lebih 55 tahun, pastinya telah dan terus mengupayakan fasilitas-fasilitas terbaik untuk mahasiswanya. Salah satu fasilitas yang terus diperbaiki kualitasnya adalah perpustakaan.

Dan memang faktanya, kualitas yang dimiliki Perpustakaan Unsyiah melebihi ekspektasi tanpa aku sadari. Fakta-fakta tersebut adalah:
1. Pembayaran Denda Melalui Aplikasi smartphone
Perpustakaan Unsyiah sekarang merupakan perwujudan dari digital library. Yaitu menggunakan barcode pada KTM di pintu masuk, meminjam dan mengembalikan buku secara otomatis, memperpanjang masa peminjaman melalui aplikasi pada smartphone, hingga denda yang dibayarkan melalui kartu debit.



2. Pustaka Unsyiah Berada Di Genggaman
Sejak digunakan aplikasi UILIS Mobile App sebagai  sebuah mesin pencarian yang memudahkan mahasiswa untuk menemukan buku apa saja yang hendak dicarinya.  Perpustakaan Unsyiah  seolah berada di genggaman para mahasiswa. Hal tersebut juga bisa mengurangi jumlah antrian.

Aplikasi UILIS mobile perpustakaan Unsyiah. Dok.  http://library.unsyiah.ac.id

Sejak tanggal 24 November 2016. Aplikasi ini sudah di unduh oleh pengguna IOS (Indonesian One Search). Tidak hanya itu saja, di UILIS Mobile ini sudah tersedia fitur baru. Yaitu bisa memperpanjang masa peminjaman buku selama 2 minggu. Hal ini sangat memudahkan karena tidak perlu harus ke pustaka.

Saat ini, Perpustakaan Unsyiah memiliki koleksi sebanyak 75.114 judul atau 136.925 eksemplar. Koleksi tersebut tersebar dalam berbagai jenis, meliputi buku teks, terbitan berkala (jurnal), laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, buku referensi, laporan penelitian, CD-ROM dan dokumentasi. Koleksi pada perpustakaan juga tidak hanya terbatas pada koleksi tercetak saja, namun perpustakaan juga telah melanggan e-book dan e-journal pada beberapa penerbit internasional.
3. Baca Buku Sambil Ngopi
Dulu, kalau ngantuk ya tidur aja pas di perpustakaan. Apalagi kalau tidak ada minuman buat penyemangat diri seperti di rumah. Nah, untuk menghindari ngantuk pasti kebanyakan orang-orang mencari minuman kopi. Tujuannya supaya mata tetap terbuka lebar dan buku pun tuntas terbaca.
Di UPT Perpustakaan Unsyiah sekarang telah menyediakan wadah yang bernama” Libri Cafe”. Cafe ini menyediakan kopi bagi pengunjung perustakaan. Ide ini muncul dari pimpinan Universitas Syiah Kuala yang melatarbelakangi mahasiswa agar tidak membuang waktunya dengan duduk di warung kopi. Tapi memanfaatkan baca buku dan mengerjakan tugas sambil minum kopi.



Libri Cafe ini sesuai dengan fungsi dari keberadaan Perpustakaan Unsyiah itu sendiri. Yaitu rekreasi, sesuai dengan lifestyle mahasiswa yang hobi nongkrong di cafe-cafe.

Selain itu juga, Libri Cafe mendatangkan manfaat berupa dana tambahan bagi pustaka Unsyiah. Tujuannya agar pustaka Unsyiah lebih mandiri dari sisi pembiayaan. Hadirnya Limbri Cofe ini menjadi gebrakan baru bagi perpustakaan Aceh ainnya.

Selain menyediakan tempat pembelian minuman, UPT Perpustakaan Unsyiah juga menyediakan tempat pembelian makanan. Jadi ndak bakalan perut kita keroncongan.

Buat pendatang yang mengunjungi pustaka Unsyiah, mereka juga bisa menikmati cendera mata yang disediakan khusus agar bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Semua fasilitas tersebut juga sebagai tambahan dana bagi perpustakaan Unsyiah seperti halnya dengan Libri Cofe.

4. Tersedianya Sarana Olahraga
Selain menyediakan fasilitas belajar mengajar, UPT. Perpustakaan kini juga menyediakan fasilitas olahraga. Fasilitas olahraga berupa tenis meja yang berada di lantai satu gedung perpustakaan ini dapat digunakan oleh seluruh pengunjung perpustakaan. Hanya dengan melapor ke bagian sirkulasi, pengunjung sudah dapat menggunakan fasilitas tersebut.

 
Doc: http://library.unsyiah.ac.id/upt-perpustakaan-unsyiah-sediakan-ruangan-tenis-meja-bagi-pengunjung/
5. Peminjaman Buku Hingga 7 
Dulu untuk peminjaman buku ada minimalnya. Yakni sebanyak 3 buku. Beruntungnya sekarang boleh meminjam 7 buah buku. Wah enaknyaaa. Jadi Bisa borong banyak buku buat dibawa ke rumah. Hi Hi Hi.

6. Tempat Sholat Khusus Wanita
Sesuai dengan perintah agama Islam, laki-laki diwajibkan sholat berjamaah di masjid, sedangkan wanita di rumah. Demikian halnya di Aceh. Dan ini juga berlaku di perpustakaan Unsyiah, dimana tempat sholat hanya diperuntukkan bagi kaum hawa. Sedangkan kaum adam wajib sholat di masjid. Duhhh makinn cinta aja ama Aceh.



7. Durasi Pelayanan Perpustakaan Lebih Lama
Kalau dulu Perpustakaan Unsyiah dibatasi pelayanan dari pagi hingga sore, sekarang tidak lagi. Durasi pelayanannya semakin bertambah hingga pukul 23.00 malam. Waah pasti seru tuh. Bisa memanfaatkan waktu yang ada juga menghibur diri bagi pencinta buku.

doc: http://www.instagimg.com/user/upt_perpustakaan_unsyiah/2906502639

Dangan bergerak perlahan tapi pasti, untuk tahun 2019 ini, UPT Perpustakaan Unsyiah mengusung tema blog yang “Beyond Exspectation”. Konon katanya sesuai dengan keadaan perpustakaan tersebut saat ini. Untuk itulah, bagi aku pribadi, berharap dulunya perpustakaan itu memudahkan bagi peminjam, tidak membosankan berlama-lama di dalamnya dan bisa menjadi ajang mencari kegiatan sampingan. Dan ternyata semua itu jauh melebihi ekspektasi yang telah UPT Perpustakaan Unsyiah lakukan sekarang.

Atas ketujuh fakta tersebut, menjadikan UPT Perpustakaan Unsyiah dilirik oleh negara Asia Tenggara bahkan dunia.
   
Perpustakaan Unsyiah sangat dikagumi oleh negara di Asia Tenggara

Pada tanggal 24/5/2017 lalu, Profesor Thailand (Surin Maisrikrod)  mengunjungi perpustakaan Unsyiah di sela-sela kegiatan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triagle University Network (IMT-GT UNINET) di gedung AAC Dayan Dawood Banda Aceh. Kunjungan ini membuat dia terkagum-kagum karena pengunjung perpustakaan di Thailand tidak seramai di UPT Unsyiah. Yakni sekitar 411 ribu orang dengan target peminjaman buku mencapai 100 ribu  dalam setahun.

doc : http://library.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2017/09/Librisyana-Ed.-6-Preview-File.pdf


Hal inilah sesuai dengan visi dari UPT Perpustakaan Unsyiah itu sendiri yaitu : Menjadi Pusat Informasi Ilmiah Terkemuka Dan Berdaya Saing Di Asia Tenggara pada tahun 2008.

Perpustakaan Unsyiah Telah Mampu Menjadi Library 4.0 pada Zaman Revolusi Industri 4.0
Pada era revolusi industry 4.0 ini, kita di tuntut sigap dalam hal teknologi. Demikian juga pada sebuah perpustakaan dalam sebuah universitas. Artinya perpustakaan yang ada tidak hanya berfokus pada koleksi buku saja, akan tetapi membangun teknologi perpustakaan sekaligus menjadikan pelnggan sebagai asset dari perpustakaan itu sendiri.

Artinya, custumer perpustakaan tidak hanya menjadi end customer, akan tetapi juga ikut dalam operasional perpustakaan untuk memajukan perpustakaan. Salah satunya dengn membangun OER (Open Educational Resources).

Bapak Supadi, S.Sos, M.Si, kepala UPT Perpustakaan Mulawarman dalam workshop yang diadakan di Banda Aceh (19 /11/2018), mengatakan bahwa Dr. Taufiq Abdul Gani M.Eng, Sc, Kepala UPT Perpustakaan Unsyiah telah berhasil menjadikan UPT Unsyiah sebagai salah satu kiblatnya perpustakaan Universitas yang ada di Indonesia. Workshop yang bertujuan untuk memberi motivasi terhadap perpustakaan yang belum terdigitalisasi tersebut, dihadiri oleh 50 peserta yang berasal dari perpustakaan universitas beberapa daerah lain. Seperti Samarinda, Tenggarong dan Balikpapan.

ah, ternyata UPT Perpustakaan Unsyiah telah melakukannya sejak 2014. Hal ini disebabkan di perpustakaan tersebut telah memiliki aplikasi yang sudah user generated contents dengan memanfaatkan: data mining, Empowering people melalui program relax and easy, Librisyana dan Makerspace.

Data mining
Data mining adalah proses menenmukan pengetahuan penting dari kumpulan besar data yang telah disimpan dalam database (Han et al, 2012).
Setiap perpustakaan memiliki data transaksi peminjaman buku. Kebanyakan perpustakaan telah memiliki penyimpanan data penyimpanan buku (database) yang sederhana maupun yang besar. Untuk mendapatkan informasi dari data yang besar, diperlukan analisadengan cara khusus yakni menggunakan tehnik data mining (Supardi, Ratnawati, dan Mahmudi, 2014)

Empowering people melalui program relax and easy
Relax and Easy merupakan kegiatan mingguan yang mewadahi kreatifitas seni mahasiswa. Kegiatan ini diselenggarakan setiap hari Rabu siang oleh Pustaka Unsyiah yang bekerjasama dengan BEM Unsyiah. Dilihat dari kacamata saya, saya jarang sekali melihat ada sebuah perpustakaan yang memotori kegiatan untuk meningkatkan kreatifitas mahasiswa dalam bidang seni. Banyak kegiatan kreatifitas mahasiswa yang ditampilkan, seperti penampilan musik akustik, pertunjukan sulap, teatrikal, talkshow, dan lainnya.

Librisyana
Yaitu sebuah majalah yang berisi informasi terbaru seputar kegiatan perpustakaan Unsyiah dengan online full text dan full acess.

Makerspace
Perpustakaan Unsyiah tidak hanya menjadi tempat untuk membaca, belajar atau meminjam buku saja, tapi juga dijadikan makerspace oleh mahasiswa. Makerspace merupakan tempat para maker untuk menuangkan ide dan mengembangkan produk yang memiliki fasilitas memadai. Hal ini terlihat dari seringnya para mahasiswa melakukan aktifitas lain diluar konteks belajar, seperti merajut, membuat maket, membuat video kreatif, atau kreativitas lainnya di perpustakaan.

Jadi tidaklah heran jika di sana juga di adakan 9 jenis lomba atau lebih dikenal dengan Unsyiah Library Fiesta (ULF)”. Acara ini merupakan acara besar tahunan UPT yang diadakan pada bulan maret. Diantaranya shelving contest, fotografi, vlog, resensi, membaca cepat, mendongeng, akustik, musikalisasi puisi dan blog.

DIsamping itu, pemilihan Duta Baca merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala dan menjadi program rutin UKM Literasi Informasi (Litfor) setiap tahunnya, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca buku terhadap semua orang terutama dikalangan mahasiswa Universitas Syiah Kuala.
Expo dan bazarjuga tidak ketinggalan dalam menghiasi acara puncak penutupan kegiatan ULF yang biasa  dikemas dengan tema “Bullets Over Unsyiah Library Fiesta 2019”.

Kekaguman Mahasiswa Malaysia Terhadap Perpustakaan Unsyiah
Beberapa siswa yang berasal dari Malaysia kagum saat berkunjung study tour dan melihat perpustakaan Unsyiah secara langsung. Mereka tertarik dengan aktivitas dan sistem pelayanan terutama pada sistem peminjaman mandiri yang memudahkan dalam meminjam buku.


https://kangamir.com/2018/03/21/inilah-bukti-jika-perpustakaan-unsyiah-begitu-memotivasi-dan-mengispirasi/

 Perpustakaan Unsyiah Mendunia
Secara geografi masyarakat, pengunjung laman unsyiah.ac.id ternyata tidak hanya berasal dari Indonesia melainkan juga United States, United Kingdom, Netherlands dan Singapore. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia mendominasi kunjungan sebesar 84,7 persen sedangkan United States sebesar 3,3 persen, United Kingdom sebesar 2,6 persen, Netherlands sebesar 2,5 persen dan Singapore sebesar 1,5 persen. 

Sedangkan secara demografi masyarakat, berdasarkan gender pengunjung laman unsyiah.ac.id didominasi oleh kaum laki-laki. Berdasarkan status pendidikan maka mereka yang duduk di bangku kuliah merupakan pengunjung yang setia. Adapun berdasarkan lokasi browsing maka kebanyakan para pengunjung mengakses laman unsyiah.ac.id di rumah dibandingkan di tempat kerja.

Atas data tersebut dan usaha yang telah dilakukan oleh pimpinan UPT Perpustakaan Unsyiah inilah, maka pada tahun 2008, Perpustakaan Unsyiah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008 sebagai perpustakaan dengan pelayanan terbaik. Tak hanya itu saja, pada tahun 2013, Pustaka Unsyiah dinobatkan sebagai perpustakaan berakreditasi A oleh lembaga Perpustakaan Nasional RI.
doc: http://library.unsyiah.ac.id/page/32/
Bagiku, disanalah aku menaruh harapan untuk anak dan cucuku. Jika sekarang aku tidak bisa menikmati segala fasilitas dan kegiatan yang ada di sana. Maka aku sangat berharap semoga anak dan cucuku bisa menikmatinya. Kelak mereka akan lebih mendapatkan wawasan yang luas dari buku-buku yang dilahapnya, tidak merasa bosan untuk berlama-lama di sana juga bisa memberikan kontribusi kebaikan untuk ikut berkreasi dalam menuntut ilmu. Hakekatnya, manusia hidup di dunia adalah untuk menyebarkan kebaikan pada sesama. Karena di situlah kebahagian yang hakiki.


Ket: tulisan diikutsertakan dalam Blogger Competition UnsyiahLibrary Fiesta 2019 “Beyond Expectation”


dok: library.unsyiah.ac.id/ulf-2019-lomba-blogger/

Bagi kalian yang brdomisili di Aceh, bisa langsung kepoin alamatnya di Jl. T.Nyak Arief Kampus Unsyiah, Darussalam Banda Aceh, Atau telp. : 0651-7428616 email : helpdesk.lib[at]unsyiah.ac.id.

Referensi :
Supardi, Ratnawati, D. E., & Mahmudy, W. F. (2014). Pengenalan pola transaksi sirkulasi buku pada database perpustakaan menggunakan algoritma genelized sequential pattern. Jurnal Mahasiswa PTIIK Universitas Brawijaya, 4(11), 1-8.
http://library.unsyiah.ac.id/upt-perpustakaan-unsyiah-sediakan-ruangan-tenis-meja-bagi-pengunjung/
Cat: Penulis ialah Mantan Mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Jurusan Ilmu Kelautan. Kuliah S1 di Unsyiah jurusan Kimia FMIPA.