Rabu, 30 Januari 2019

Kesenanganku Adalah Kebahagiaan Bagi Ibu

Kesenanganku Adalah Kebahagiaan
 Bagi Ibu
Posted by ana_susan, Bogor, Jan 31, 2019, 12.26 AM

Pic by Jasmine Elektrik

Ibu itu lembut bagaikan salju. Belaiannya masih terasa di rambutku, kasih sayangnya yang tercurah siang maupun malam, tutur katanya yang lembut selalu kunanti saat aku rindu dengannya. Apalagi jika dia mengatakan kata “sayang”.  Seluruh tubuh ini seolah berdesir membangkitkan semangat baru, memberi kekuatan tubuh yang mulai rapuh dengan ujian. Semua terobati dengan satu kata itu.

Adalah wajar jika Allah memuliakan namanya dalam alquran. Hingga ketundukan seorang anak tiga kali lebih banyak pada ibunya kemudian baru ayahnya. Lebih kurang Sembilan bulan sepuluh hari dia berusaha untuk selalu tersenyum dengan perkembanganku. Susahnya dia bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, tidak mudahnya mencicipi makanan yang lezat akibat adanya aku di dalam rahimnya. Saat waktu sholat tiba, sulit baginya untuk bangun, berdiri dan bangun lagi karena aku yang mulai bertambah bobotnya. Namun semua dihadapinya dengan senyum bahagia.

Dia tidak pernah marah, meskipun gerakan-gerakan lincahnya aku menggelitik perutnya. Hanya elusan kasih sayang yang selalu aku rasakan sampai aku terdiam dan lelap di alam mimpi. Saat hadirnya aku ke dunia, Allah melupakan rasa sakit yang sangat luar biasa itu. Takdirnya aku adalah berkat doa dan kasih sayangnya jua. 

Aku terus bertumbuh. Mulai dari tengkurap, duduk, berdiri, jatuh dan berdiri lagi. Dan akan dilepaskannya jika aku benar-benar kuat untuk berjalan. Semua dituntunnya dengan sabar dan nasehat. Namun saat dewasa apakah aku tega melihatnya menderita? Tidak, sekali-kali tidak. Apakah aku tega membiarkan tangan-tangannya yang mulai lemah untuk bekerja lagi hanya untuk mencari uang demi menyambung hidupnya? Tidak, sekali kali tidak. Pasti aku tidak akan tega dengan semuanya. Dia harus bangun pagi-pagi. Padahal di hari tuanya yang mulai sering merasa lelah semestinya banyak beristirahat. Apa aku tega nyenyak tidur di malam hari? tidak, sekali kali tidak.

Dia tidak pernah mengeluh. Dia tidak pernah menyusahkan anaknya. Padahal kadang dia tau mungkin ada saat-saat tertentu dia capek. Hingga pernah tidak ada sesuap nasi seharian. Tapi dia tidak pernah menyusahkan aku sebagai anaknya. 

Ampuni aku jika aku yang tidak perhatian dengannya selama ini, disebabkan aku jauh darinya. Hingga jarak menjadikan alasan yang jahat. Maafkan anakmu yang tidak peka dengan kehidupanmu saat ini. 

Maafkan aku yang hanya merindukanmu hanya dikala hatiku sedih. Adalah wajar jika Allah menghukumku dengan banyaknya ujian. Hingga suatu hari aku pun tersadar bahwa ridhomu telah menghantarkan rezeki dan membuat kehidupanku sukses serta bahagia.

Foto Ibu dan Ayahku

Beberapa nasehat yang selalu aku ingat darimu “Baik-baiklah di rantau, perbanyak sabar dalam kehidupan berumah tangga, serta sekolahlah yang tinggi nak. Semua itu untuk kamu. Untuk masa depan kamu. Bukan untuk kami. Kamulah yang bisa menikmatinya. Kami tidak akan meminta apa-apa dari kamu, melihat kamu sudah senang saja, hati kami sangat bahagia”.

Nasehat-nasehat itu telah menghujam kuat di dadaku. Menelisik memeoriku hingga terekam dengan baik. Bagaikan petuah-petuah yang berharga seorang syeh pada muridnya. Semua melahirkan kekuatan-kekuatan yang tangguh dan semua saling menguatkan satu dengan lainnya.

Ibu adalah orang yang paling kukagumi. Kegigihannya, ketekunannya, ketelatenannya hingga menjadikan aku sangat berharga baginya. “Kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu”. Kita bisa memperingatinya dalam sebuah moment berharga di “Hari Ibu”. Bagi kalian yang ingin menceritakan pesan dari ibu kalian yang tetap kalian jalankan hingga akhir ini, kalian bisa mengikuti event yang diadakan oleh “Jasmine Elektrik” melalui link www.jasmine-elektrik.com #JasmineElektrikCeritaIBU#JasmineElektrikCeritaIBU. Jangan lupa komentarnya ya.

Jumat, 25 Januari 2019

Jadikan Dumet School Sebagai Ajang Mewujudkan Resolusi 2019

Jadikan Dumet School Sebagai Ajang Mewujudkan Resolusi 2019
Posted by ana_susan, Jan 25, 2019, 3.31 PM

Pic by Canva

Sepertinya telah menjadi kebiasaan ya, jika akhir tahun itu pasti dikaitkan dengan adanya resolusi untuk tahun berikutnya. Ibarat lembaran kertas yang telah terisi penuh digantikan atau dilanjutkan dengan kertas putih yang kosong. Di sana tertulis rencana atau target per tahun kita untuk masa ke depan ataupun strategi lain yang bisa menuntaskan hal yang belum tercapai.

Resolusi bukanlah sebuah parameter untuk menentukan sukses tidaknya seseorang. Akan tetapi lebih kepada impian-impian baru yang ingin dicapai, serta impian-impian tahun lalu yang belum tuntas terpenuhi dengan baik.

Untuk itu, ada baiknya kita mesti merenovasi ulang impian itu dan mencari strategi yang tepat agar di tahun yang baru, tercapai dengan baik.

Bagiku pribadi, ada beberapa resolusi dan strategi yang akan kulakukan di tahun 2019. Diantaranya adalah:

Pic by Canva

1.Konsisten Membaca
Membaca dengan rutin itu sangat baik bagiku sebagai orang yang mulai aktif menulis. Perbendaharaan kata dan diksi dapat diperoleh dengan banyaknya kita membaca. Logikanya, memori kita akan merekam kata-kata baru yang sering dibaca sehingga tersimpan secara tidak langsung.

Jadi untuk tahun 2019 ini, aku harus mengejar kekonsistenan membaca buku perminggu 2 buku. Baik itu, fiksi, non fiksi atau lainnya. Adapun caranya adalah dengan masuk komunitas one day one books dan goodreads.

Pic by Canva

2.Konsisten Menulis.
Sejak aku mengenal sosok bloggerperempuan di sebuah akun instagram, aku mulai mengamati perkembangan yang dilakukan di dalamnya. Ternyata tulisan-tulisan yang diposting oleh para narablog perempuan  sangat apik dan menarik.

Aku terkesan dengan para perempuan-perempuan itu. Jadilah aku coba ikut-ikutan challage 30 hari menulis tanpa henti di sebuah blog pribadiku. Alhamdulillah hasilnya sangat bagus. Aku mendapatkan sertifikat yang bisa memotivasiku untuk terus menulis.

Untuk tahun 2019 ini, aku berharap kekonsistenan itu akan terus berlanjut tidak hanya sebulan yang telah lewat, tapi untuk selamanya.

Pic by Canva

3.Membuat Sebuah Taman Bacaan
Saat ini aku bekerja sebagai pengajar literasi. Untuk itu, selaku pengajar literasi yang baik dan profesional, pastinya memberikan contoh yang baik pula bagi anak didiknya.

Ada beberapa hal yang baru aku lakukan, kebetulan aku mengajar enam bulan yang telah lewat. Hal tersebut salah satunya adalah kebiasaan membaca. Jujur, dari kuisioner yang telah kuberikan, sebagian besar dari mereka sangat tidak suka membaca. Hal ini wajar, melihat zaman sekarang adalah zaman digital. Mereka betah menggunakan gadhget mereka dibandingkan buku.

Awal semester tahun 2019 ini, aku mulai strategi baru. Yakni membuat reading jurnal. Kegiatan ini adalah merangkum buku yang telah dibaca layaknya mereview. Tujuannya adalah untuk menjaga kekonsisten mereka dalam membaca buku.

Sejauh ini berjalan dengan baik. Semoga tetap berlanjut. Namun ada satu kendala dimana tempat baca buku belum tersedia dengan layak. Mengingat sekolah kami baru saja berjalan beberapa tahun. Demikian pula buku-buku nya.

Tahun 2019 ini aku berharap, di sekolahku ada sebuah taman bacaan yang nyaman berisi banyak buku yang bagus serta membuat mereka betah di dalamnya. Doakan ya teman-teman.

Sumber gambar: http://hidroponikyuk.com

4. Budidaya Tanaman Hidroponik Memakai Pupuk Organik Cair
Ibu-ibu mana sih yang tidak ingin indah rumahnya, bisa menghasilkan dan mengurangi uang belanjaan dapur.

Sebelumnya, aku pernah mencoba budidaya tanaman hidroponik untuk sendiri. Tanaman yang dibudidaya cendrung menggunakan nutrisi AB mix. Yaitu nutrisi yang biasa digunakan untuk tanaman hidoponik. Nutrisi ini hanya di temukan di pasaran dalam bentuk butiran atau cairan. Harganya juga lumayan mahal.

Nah tahun 2019 ini aku ingin mencoba menggunakannya dengan pupuk organik cair yang nutrisinya setara dengan AB mix. Sebelumnya aku pernah mencoba sih, namun hasil sayur tidak begitu subur. Pasti ada nutrisi yang hilang yang terkandung di  dalam pupuk organik cair yang telah kubuat.

Tahun 2019 ini aku berharap menemukan formula yang tepat bagi tanaman hidroponikku agar menghasilkan sayuran organik yang subur dan cepat panen.

5.Membuat Sebuah Buku Karangan Sendiri
Melihat buku-buku favorit yang terpajang di rak utama toko buku gramedia, seolah hatiku terbakar. Jika seandainya buku yang ada  di rak itu salah satunya adalah bukuku, alangkah bahagianya hati ini.

Kata mentor menulisku sih, jika ingin membuat buku kita harus banyakin ikut lomba cerpen dulu sehingga kita akan tau sejauh mana berbobotnya tulisan kita. Terus ikut kompetisi yang ada baik lomba blog maupun lomba artikel.

Pic by me, tiga dari tujuh buku antologiku

Pada awalnya aku kirim naskah, belum  ada yang menang, namun lama kelamaan aku masuk nominator dan masuk  dalam lima penulis terbaik.

 Dari hasil event tersebut, aku memperoleh 7 buku antologi dari berbagai penerbit. Namun aku tidak akan berhenti sampai disitua. AKu harus terus melangkah untuk bisa membuat buku dengan pengarangnya adalah aku sendiri. Semoga di tahun 2019 ini akan terwujud.

6.Menghafal juz 28,28 dan 30
Kata temenku yang penghafal alquran 30 juz, menghafal itu gampang. Tapi menjaga hafalan itu sangat sulit. Setiap hafalan alquran yang telah kita hafalkan kudu di ulang-ulang agar ingat alias tidak mudah lupa.

Untuk itu, aku ingin di tahun 2019, ketiga juz yang pernah kuhafalkan beberapa surat bisa melekat di kepalaku. Salah satu caranya adalah mengulang atau murajaah hafalan yang ada setiap hari dan sekaligus menambah hafalan yang baru insha Allah.

7.Menulis Resolusi Yang Berjalan Dalam Bentuk Cerita Di Blog
Menulis cerita dari resolusi yang akan kujalankan memiliki nilai tersendiri bagiku pribadi. Alasannya adalah, dalam masa-masa resolusi yang dijalankan pasti ada try and error serta hasil yang baik muncul.

Nah, saat hal baik itu muncul, aku akan membagikan ke semua orang berupa ilmu yang telah kudapatkan. Karena hakekatnya manusia itu mestilah berbagi, agar banyak kebaikan yang juga dirasakan oleh orang banyak. Ini merupakan kepuasaan tersendiri bagiku di tahun 2019. Semoga bisa ya teman-teman. Doakan.

Dari semua resolusi 2019 tersebut tidak akan terlepas pada wadah yang kita jadikan rutinitas menulis dan pengembangan menulis agar nantinya tulisan kita enak dibaca dan lebih terasah.

Salah satu wadah yang akan kujadikan sebagai rutinitas menulis adalah Lomba Menulis Blog yang diadakan oleh DUMET School. Perlombaan atau kompetisi menulis blog di DUMET School ini telah berlangsung  sejak lama. Dan sayangnya aku baru tau sekarang. Itupun kudapatkan dengan mencari info lomba menulis. Saat aku mulai tertarik pada nulis di blog, ternyata DUMET School memiliki wadah yang tepat untuk mengasah tulisan bagi para blogger.

Hal yang paling menantang lagi, Lomba Menulis Blog di DUMET School diadakan setiap bulan dengan tema yang berbeda. Asyik kan? Ini akan menjadi sebuah pecutan bagiku pribadi untuk berpikir keras dalam meramu tema yang diberikan agar enak dibaca dan mudah dipahami dengan baik.

Nah, bagi teman-teman yang tertarik untuk mengikuti kompetisi blog ini, kalian bisa pantau terus link https://www.dumetschool.com/lomba/menulis-blog. Semoga menjadi pemenangnya ya.



Kamis, 24 Januari 2019

Menjadi Narablog Di Era Digital Membuat Anda Tidak Akan Berhenti Menulis

Menjadi Narablog Di Era Digital Membuat Anda Tidak Akan Berhenti Menulis
Posted by ana_susan, Jan 24, 2019, 2:22 AM


Sumber foto: Pixabay.com

Menyukai sesuatu yang kita senangi, amatlah mudah, namun sebaliknya menyukai sesuatu yang tidak kita senangi sangat sulit. Bahkan butuh bertahun-tahun untuk bisa menjadi bagian dari diri kita.

Foto bersama suami di Mesjid At Ta'awun, Puncak, Bogor

Hidup Di Perantauan
Itulah yang terjadi pada diriku. Sejak anak keduaku lahir tahun 2007, aku harus berjuang bersama suamiku di kota hujan. Kami berdua memang berdarah Aceh. Sudah sepatutnya bagi para perantau kembali ke daerahnya masing-masing untuk mengembangkan dan memajukan daerah asal. Apalagi diriku saat itu dalam masa studi beasiswa dari salah satu Universitas Swasta di Banda Aceh, mengharuskan berbakti setelah penyelesaian studi terlaksana. Namun, karena tidak terikat dengan alasan bahwa suami telah diterima kerja di Bogor, jadilah aku orang Bogor hingga sekarang.

Waktu terus berlalu, aku mulai bosan dengan kegiatanku yang hanya berdiam diri di rumah sambil mengasuh kedua jagoanku. Mereka tumbuh dengan baik dan selalu sehat. Kadang sesekali mama dan papa telepon sekedar menanyakan kabar cucu-cucunya. Sebenarnya kedua orangtuaku sangat menginginkan aku segera bekerja. Mengingat studi Pasca Sarjana yang telah kuampu tidak akan sia-sia menurut mereka jika aku telah bekerja. Masak sih, sudah capek-capek kuliah, jauh pula, terus cuma di rumah? Demikianlah kata-kata itu selalu terngiang saat mereka menelponku.


Dilema Antara Bekerja Atau Di rumah
Mereka benar, dan aku sangat memahami itu. Aku sendiri juga sangat berharap dapat bekerja di luar, punya penghasilan dan akan kuhadiahkan untuk kedua orang tuaku. Namun takdir berkata lain. Karena hidup kami di perantauan, lagi-lagi khawatir tentang pengasuhan anak. Telah menjadi kebiasaan di daerah kami, jika seorang anak telah berkeluarga dan telah memiliki anak, maka anaknya akan diasuh oleh nenek dan kakek.

Mungkin jika seandainya mama atau papa ada di Bogor saat itu, aku pasti menitipkan pada mereka. Karena batinku lebih tenang. Akhirnya kuputuskan di rumah sambil baca banyak buku dan mengasuh.
Setelah anak keduaku berusia tiga tahun, aku pun mulai merayu suamiku. Aku katakan padanya bahwa aku ingin bekerja, demi menyenangi kedua orang tuaku. Oke, jawabnya. Tapi dengan syarat anak keduaku harus di tempat pengasuhan yang dekat tempat kerja dan bisa dikontrol. Alhamdulillah aku pun mendapat panggilan kerja dengan tempat pengasuhan pas di belakang gedung tempat kubekerja. Anak pertamaku bersama suamiku, dan sekolah di tempat suamiku mengajar.

Setahun bekerja di sebuah sekolah swasta, ternyata tidak membuatku merasa nyaman. Aku mulai merasa kelelahan, mulai dari bangun pagi banget untuk menyiapkan sarapan suami dan anak-anak, sampai menunggu mobil jemputan sekolah. Ditambah lagi aku dalam kondisi hamil anak ketiga. Setelah melewati masa kontrak setahun dan akan ada pengajuan untuk tahun berikutnya. Aku pun mundur. Padahal pihak sekolah mengatakan prestasiku dalam mengajar sangat baik. Dan alangkah sayangnya jika harus keluar dari sana. Aku menjelaskan alasan yang real pada mereka. Akhirnya mereka mengiklaskan aku untuk pergi dari sana. 

Foto putri bungsuku bersama kakak keduanya

Melupakan Kerja Dengan Hadirnya Bayi Perempuan
Saat kelahiran anak ketiga, aku dan suami sangat bahagia. Alhamdulillah Allah memberi amanah pada kami seorang anak perempuan. Aku pun mulai melupakan kerja di luar. Hari demi hari dia tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. Namun bagi kedua orangtuaku masih belum menerima jika aku harus tetap di rumah. Aku pun mulai mencari uang dengan cara berjualan baju renang muslimah secara online. Meski tidak harus bercapek-capek ria di luar, aku tetap menghasilkan uang. Soal pengiriman, suamilah andalanku saat itu. Alhamdulillah orderanku banyak, mulai dari Aceh sampai ke Kalimantan. Bahkan ada juga yang di luar negeri. Salah satunya adalah Inggris. Aku pun menceritakan kegiatan itu pada mama dan papa. Soal penghasilan, lumayanlah cukup untuk kami berlima. 

Namun lagi-lagi mereka kurang setuju padaku. Mereka lebih suka aku menjadi karyawan atau pegawai. Mungin karena mereka sama-sama pegawai, sehingga menginginkan anak-anaknya menjadi pegawai. Aku pun menjelaskan dengan bijak, bahwa apapun yang kita kerjakan asalkan halal dan menghasilkan tidak salah dalam agama. Aku sangat memahami maksud mereka karena menginginkan kehidupan kami lebih layak dan terpenuhi dengan banyak. Namun aku dan suami tidak butuh semua itu. Kami hanya butuh agar saat kami bekerja, anak-anak aman dalam pengawasan kami tanpa merasa khawatir sedikit pun. 

Sumber foto: Via forum.kompas.com

Kekhawatiran Orangtua Mulai Berkurang Namun Muncullah Masalah Baru
Lambat laut mereka mulai memahami kami dengan baik, doa-doa kebaikan terus mengalir dari bibir mereka. Kehidupan kami pun mulai berubah dengan lebih mapan. Benarlah adanya, jangan pernah sakiti hati kedua orangtua kita meski mereka membenci kita saat tidak mengikuti keinginan mereka. Namun dengan penjelasan yang bijak dan berkata lemah lembut serta doa yang selalu dipanjatkan maka semua akan berjalan dengan begitu sempurna. Rezeki kami terus mengalir dan selalu diliputi dengan kebahagiaan. Bahkan dari tahun 2007, baru tahun 2016 kami bisa pulang kampung untuk berlebaran. Dan Alhamdulillah sekarang masih berjumpa dengan mereka walaupun 1-2 tahun sekali bertemu.

Perjalanan hidup manusia, pasti akan terus berubah, sesuai dengan usaha dan doa dari masing-masing kita. Aku pun mulai pindah ke daerah puncak dengan hawa yang selalu sejuk. Di sanalah suami membangun sebuah sekolah dengan konsepnya sendiri. Sekolah itu bernama Green Entrepreneur School. Sebuah sekolah bisnis yang mumpuni anak-anak usia muda agar tidak takut dalam memplaning sebuah usaha bagi masa depannya. Anak-anakku mulai tumbuh besar, kegiatan padatku pun mulai berkurang. Maka munculah rasa bosanku yang cuma masak, tidur dan makan. Karena dari muda aku bukanlah orang yang hanya diam saja tanpa sebuah kegiatan. Maka aku pun rungsing pada suami. Aku ingin kerja lagi. Kata suami silahkan sambil menunjukkan senyumnya ke arahku. Tapi (tiba-tiba wajah yang semula senyum berubah mengkerut). Tapi apa bang? Bukankah menulis lebih enak kamu kerjakan. Cuma mengetik, edit, kirim trus dapat royalty. Seperti abang nih sambil menunjukkan buku karangannya yang diterbitkan oleh diva press. Buku itu dihasilkan olehnya saat mengasuh anak kami yang pertama tahun 2005. Pada waktu aku kuliah, ternyata suamiku diam-diam menyelesaikan sebuah novel kisah nyata dirinya bersama anak didiknya yang dulu.

Aku langsung menjawab, kalau aku tidak bisa menulis. Trus kata beliau, tulis aja sesukanya. Ihhh gimana sih orang juga tidak tau mau nulis apa. Langsung aja aku tinggalkan suamiku begitu saja. Namun suatu saat aku pun berpikir. Iya juga ya. Menulis itu pekerjaan yang ringan tapi menghasilkan. Tugas kita hanya baca banyak buku, trus tulis, tulis dan tulis. Penekanan kata tulis yang diulangi sampai tiga kali menunjukkan bahwa menulis itu penting. Dengan menulis kita akan tau keunikan tulisan kita sampai di mana. Itulah salah satu ilmu yang amat berharga kudapatkan dalam salah satu forum menulis tahun 2017. 

Foto bersama teman-teman di Forum Lingkar Pena

Jatuh Hati Pada Menulis
Hatiku mulai terpaut dengan goresan pena dari beberapa penulis best seller. Menikmatinya dengan membaca, kemudian mengasah tulisan dengan berbagai event. Alhamdulillah dari event yang berlangsung aku menelurkan beberapa buah buku antologi. Semangat menulisku pun mulai tumbuh dan mengalami percepatan. Hingga aku tidak puas dengan hal yang sama. Aku mencari event lainnya. Salah satunya adalah menjadi narablog atau blogger.

Aku mengenal blogger juga saat mengikuti pelatihan di Forum Lingkar Pena. Di sana memang tidak diajarkan bagaimana membuat sebuah blog. Akan tetapi hanya penjelasan umum disebabkan kami saat itu harus memposting tugas mingguan yang diberikan melalui blog. Aku tidak menyerah, aku mencari tau dan bertanya sama kakak mentor. Beliau bernama Mbak Rima. Diajarkanlah aku sampai bisa memposting konten di blog dan mempubikasikannya. Duuh rasaya seperti mendapat hadiah dari langit aja. Semua dimudahkan.

Sertifikat challenge 30 hari bercerita

Rasa Penasaran Yang Tinggi Terhadap Narablog Atau Blogger
Penasaranku akan blog tidak berhenti sampai di situ saja. Aku pun mulai mencari akun mana saja yang memberikan keaktifan bagi para perempuan untuk aktif menulis. Sampailah hatiku pada @bloggerperempuan dan @emak2blogger. Salah satu dari mereka telah membuatku memaksa menulis selama sebulan baru-baru ini. Yakni melalui “Challenge menulis selama 30 hari” oleh akun bloggerperempuan. Hasilnya, dari ribuan yang ikut, hanya seratusan lebih yang berhasil menyelesaikan challenge tersebut. Salah satunya adalah aku. Sebagai penghargaan dari mereka, maka diberikan sertifikat dan bingkisan inspiratif yang membangkitkan semangatku untuk menulis di konten blog. Apalagi blog lagi ngetren-ngetrennya nih di masa era digital sekarang.

Narablog Mampu Memberikan Kepuasan Pribadi Dan Menambah Income
Sama seperti menulis, seorang narablog atau blogger pastinya ingin mengasah tulisannya agar lebih menarik dan bisa menghasilkan income  untuk diri sendiri. Tentunya melalui lomba konten blog  yang banyak diadakan di beberapa media sosial. Ditambah lagi dengan rutinitas blogwalking yang bisa mengundang pengunjung ke blog kita secara tidak langsung. 

Nah bagi teman-teman yang berminat, kalian bisa mengikuti event blog kali ini yang diadakan oleh mas nodi. Link blognya adalah http://www.nodiharahap.com

Aku berharap kita bisa saling bersinergi di tahun 2019 ini. Mungkin resolusi kita berbeda, tapi setidaknya kita punya ambisi yang mampu membakar semangat kita untuk tetap menulis dan terus menulis. Resolusiku di tahun ini adalah aku ingin lebih aktif, baca, nulis di blog dan menjadi problem solving di sekitar lingkunganku. Seperti cara pengolahan sampah yang baik menuju zerowaste, pemeliharaan sayur hidroponik dengan nutrisi yang digunakan adalah pupuk organik cair yang dihasilkan dari limbah dapur, dan membuat taman bacaan yang indah bagi anak didikku (kebetulan aku mengajar literasi). 

Semoga semua itu akan terwujud dengan nyata dan indah pada waktunya. Bagaimana dengan kalian? Apa yang akan kalian lakukan? Apapun itu, seperti kata AA gym, lakukanlah mulai dari yang kecil, mulai saat ini dan segera.

Minggu, 13 Januari 2019

Tersenyumlah Untuk Sebuah Kebahagiaan

Tersenyumlah Untuk Sebuah Kebahagiaan
Perjalanan hidup manusia berbeda-beda. Pada saat dia menginginkan sesuatu, kadang keinginan itu benar terjadi. Tapi kebanyakan malah sebaliknya. Keinginan tidak sesuai harapan, membuat manusia ingin merubahnya sendiri dengan berbagai cara. Bahkan mengorbankan orang-orang yang dicintai. Namun demikian, saat titik kelemahan jatuh pada waktu tertentu, membuat dia sadar bahwa semua ketetapan itu telah digariskan oleh sang pencipta.
Adakalanya Dia mengabulkan keinginan-keinginan kita, karena Dia percaya bahwa kita telah mampu menyandangnya. Namun tidak sedikit permintaan kita tidak dipenuhi oleh Nya. Kita menunggu sampai bertahun-tahun lamanya. Hingga tibalah saat yang tepat, Dia memberikan pada kita dengan bertubi-tubi bahkan ditambah dan terus bertambah karunia dari Nya. Adapula permintaan kita tidak dipenuhi sama sekali oleh Nya. Mungkin Dia ingin kita sesalu dekat dengan Nya. Selalu memohon dalam sholat malam yang panjang bersama Nya. Sampai tibalah satu masa, Dia pasti akan mengabulkannya. Kapankah itu? Yah, saat kita telah benar-benar siap untuk menerima semua resiko yang akan ada dihadapan. Benarlah apa yang pernah kudengar. Bahwa perjuangan mencapai sesuatu yang buruk amatlah mudah, namun saat mencapai sebuah kebaikan itu penuh dengan duri. Kita akan terus diuji dan diuji sampai kita kebal dengan semua ujian, sampai kita mampu mengatasi duri-duri itu dengan sikap yang lembut. Perasaan bahagia, positif thingking adalah sebuah benteng pertahanan diri kita menuju keinginan. Tanpa itu, kita bukanlah siapa-siapa.
* * *

Aku tidak menyangka, keputusan yang kuambil awal tahun 2018 merupakan sebuah keputusan yang membuat diriku untuk terus mencoba. Mencoba semua yang kuamati, kurasakan bahkan kutulis pada lembar demi lembar kertas. Hebatnya, semua itu selalu berhubungan dengan satu sama lainnya.
Aku tinggal di lingkungan sekolahan yang dipenuhi dengan anak-anak yang super hebat. Tingkah lakunya luar biasa. Sikapnya yang cuek, tutur katanya semua membuat aku terus belajar dengan mereka. Bahkan salah satu dari mereka memiliki temperamen yang sangat tinggi. Awalnya aku kaget dengan semuanya, namun lama kelamaan aku terbiasa mempelajari tingkah polahnya. Mungkin Allah menitip semuanya kepadaku Karena Dia percaya aku mampu mendidik mereka. Sejenak bulir-bulir air mata ini jatuh tanpa aku sadari. Hanya Dia yang bisa membimbingku untuk mendidik mereka menjadi pengusaha sukses yang berakhlak mulia.
Pernah satu hari, tepat di hari guru, mereka memberikan sesuatu kepadaku. Betapa terkejutnya aku hingga salah satu dari mereka mewakilinya.
“Bu…ini dari kami buat Ibu,” kata Hiro.
“Apa ini, Hiro?” tanyaku.
“Buka aja, Bu. Ada surat di dalamnya,” jawab Hiro
Perlahan kubuka bungkusan coklat bermotif batik yang berisi sebuah pashmina berwarna coklat susu. Warna kesukaanku. Hatiku berbunga-bunga. Mengapa mereka bisa tau warna itu adalah warna kesukaanku?, gumamku. Dalam lipatan pashmina ada selembar kertas putih berisikan beberapa kalimat yang isinya kurang lebih seperti ini.
“Assalamu’alaikum Bu…Selamat Hari Guru ya Bu. Maafkan kami jika selama Ibu mengajar kami tidak patuh dan ngeselin. Dari kami (Hiro, Rafi, Ariq, Labib, Lingga, Faruq, Shan, Caca, Dzaki, Yuna, Kemi, Keysha, Bilal)
Aku terharu membaca isi surat itu. Spontan kuucapkan terima kasih banyak pada mereka. Dalam hati kecilku berkata.
Rabb, betapa kerdilnya diriku. Kadang sempat terbersit mereka anak-anak yang tidak sopan. Namun ternyata mereka memiliki hati yang sangat mulia. Maafkan diri ini yang terlanjur menyimpulkan sendiri tentang semua yang terlihat olehku. Padahal dibalik diri mereka yang polos tersimpan hati bagaikan mutiara. Bukan karena hadiah yang mereka berikan padaku. Tapi perhatian mereka yang besar bahkan cendrung spontan tanpa aku sadari. Semoga aku kuat pada jalan ini.
* * *
Perhatianku berpindah pada lingkungan sekitar tempat tinggalku. Tempat tinggal di pegunungan yang sejuk (Puncak, Bogor) dengan cahaya matahari yang tidak begitu panas dibandingkan di tempat kelahiranku (Aceh). Adalah wajar jika aku mandi hanya sehari sekali. Kadang badan pun tidak berpeluh seharian. Padahal aktivitas gerakku lumayan banyak.
Di sekolah yang dikelilingi oleh rumput-rumput yang digunakan untuk makanan kambing adalah sebuah pemandangan yang tidak asing bagiku. Rumput-rumput ini selalu disiangi oleh pengembala kambing setiap pagi untuk diberikan pada kambing-kambing penghasil susu di peternakan yang berada satu lokasi dengan sekolah. 
Susu-susu tersebut diperah dan disalurkan ke pelanggan sekitar Jabodetabek setiap harinya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku saat itu. Yakni pembuangan limbah kotoran kambing yang tidak tertata dengan baik. Hingga membuat diriku ingin mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Akhirnya hatiku jatuh pada pengolahan kotoran ternak menjadi biogas. Beberapa buku telah kubeli dan kupelajari. Namun karena basic kuliahanku tidak berhubungan dengan semua itu sepertinya begitu sulit untuk kujalani sendiri. Ditambah lagi limbah dapur dari masakan anak-anak sekolahan dan keluargaku. Yaitu pengolahan limbah dapur menjadi pupuk organik padat dan cair. Nantinya kedua pupuk ini dapat digunakan multifungsi. Baik itu tanaman dengan menggunakan media tanah, maupun tanpa tanah atau lebih dikenal dengan tanaman hidroponik.
Semoga di tahun 2019, aku bisa mencari solusi yang tepat untuk mengolah kotoran atau limbah-limbah tersebut. Mengingat juga global warming akhir-akhir ini semakin meningkat tajam. Salah satu buktinya daun yang cepat berwarna coklat karena paparan sinar matahari terus menerus. Padahal tempat tinggalku di pegunungan. Bagaimana jika tanaman itu di pesisir pantai. Alangkah naifnya bukan.
Aku pernah membandaingkan ab mix dan poc (pupuk organic cair) untuk nutrisi hidroponik. Jika ditinjau dari segi harga, poc lebih murah dibanding dengan ab mix. Selain kita bisa memproduksinya sendiri, kita juga tidak harus membelinya di pasaran. Berbeda dengan ab mix. Namun jika dilihat dari pertumbuhannya, hidroponik yang menggunakan ab mix lebih baik daripada poc. Padahal penelitian yang dilakukan oleh orang-orang sebelumku mengatakan bagus-bagus saja dengan menggunakan poc. Bahkan cendrung sama. Mungkin ini disebabkan keterbatasn ilmu yang aku miliki. Aku berharap di tahun 2019 aku mampu mengatasi semua itu.
* * *
Saat hati ini dirundung rindu yang teramat dalam pada kampung halaman, rindu pada masa kecil yang indah bersama keluarga, rindu akan lingkungan kerja yang pergi pagi pulang sore. Rindu pada teman-teman kuliahan yang semangat mencari ilmu. Aku sesalu mengalihkannya dengan menulis. Tulisan apa saja. Aku tidak memperdulikan aturan baku dari tulisan itu. Yang terpenting hatiku terobati dengan tulisan-tulisan yang telah tertuang. Ibarat sebuah teko yang terisi penuh, pasti menginginkan gelas-gelas yang harus diisi agar tidak tumpah ruah. Demikian pikiranku yang dipenuhi dengan semua beban rindu. Ajaibnya, saat tulisan-tulisan itu telah tertuang, aku merasa bahagia. Seperti sebuah terapi emosi hingga stabillah jiwa ini.
Banyak event-event telah kuikuti dengan tujuan mengasah tulisanku menjadi lebih baik. Kata mentor menulisku. Menulislah engkau selalu dan ikutlah lomba agar engkau tau sejauh mana pantasnya tulisanmu di mata orang lain. Kuikuti sarannya. Awlnya mengikuti lomba, aku sering kalah, namun lama kelamaan alhamdulillah aku merasakan hasilnya. Aku bisa menerbitkan 7 buku antalogi di tahun 2018. Aku bahagia bukan karena hadiah yang kudapatkan. Tapi aku bahagia karena aku bisa memberikan sesuatu pada mereka di luar sana. Mereka mungkin tidak mengenalku, tapi setidaknya mereka percaya bahwa aku ada. Jika aku wafat, maka mereka percaya bahwa aku pernah ada.
* * *
Menjalani proses tulis menulis pasti ada upgradenya. Gunanya untuk meningkatkan kualitas diri agar menjadi lebih baik. Meski kita harus disisihkan dari kelompok intensif sekalipun. Itulah yang kualami di tahun 2018 lalu. Aku tersisihkan dari kelompok tersebut hanya karena salah dalam pengiriman naskah, dimana kerangka karangan yang seharusnya dikirim secara terpisah dengan cerpen, tapi aku mengirimnya dengan cara disatukan. Alhasil tersisihlah aku saat itu. Awalnya aku sedih, karena aku telah berusaha keras saat deadline telah mendekati. Aku memang tidak suka mengerjakan sebuah tugas mepet dengan tanggal yang ditetapkan. Namun saat itu terpaksa aku lakukan, mengingat kondisi safar yang kualami tidak memungkinkan aku untuk mengerjakan sebuah tulisan dalam seminggu. Namun dengan usaha yang keras saat tiba di tempat kediamannku, dengan melawan rasa ngantuk demi sebuah tulisan, kupaksakan menuntaskannya. Alhamdulillah selesai. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Tulisanku tidak diterima hanya sebuah alasan tadi. 
Awalnya aku sedih, namun lama-kelamaan aku menerima semua kenyataan yang ada. Toh seharusnya aku lebih teliti dalam setiap keadaan meskipun saat segenting apapun. Semoga semua menjadi pengalaman hidup ke depan bagiku. Setidaknya aku bisa lebih belajar mengatasi sebuah persoalan.
Aku ingat sebuah nasehat dari guruku. Kesabaran akan membuahkan kebahagiaan. Terimalah semua dengan lapang dada. Tetaplah selalu tersenyum. Tersenyum pada keadaan kita. Tersenyum pada orang-orang yang menyakiti kita. Tersenyum pada diri kita sendiri. Karena senyum itu akan membawa kebahagiaan. Aku yakin tahun 2019, aku bisa meraih semua yang kuinginkan. Tentunya mengharap ridhomu …. Rabbi.