Saturday, April 20, 2019

Berbagilah Untuk Sebuah Kebahagiaan


Berbagilah Untuk Sebuah Kebahagiaan
Posted by ana_susan, April 20, 2019 I Blog Competition



“Umi, punya uang tidak?” kata anakku saat di Mesjid.
“Untuk apa, Nak?”
“Buat dimasukkan ke dalam tabungan amal itu,” jawabnya sambil menunjukkan sebuah kotak amal di salah satu sudut Mesjid.

Aku pun menyodorkan selembar uang ungu yang kuberikan padanya. Dengan wajah tersenyum dan hati berbunga-bunga, dia pun bergegas menuju ke tempat tersebut.
Itu adalah dialog yang sering terjadi antara aku dan dia si pemurah hati. Kelakuan dan sikapnya seolah menegur diriku yang lalai dalam berbagi. 

Banyak hal yang kulalui bersamanya hingga membuat kejadian tujuh tahun yang lalu masih berbekas. Fenomena yang mungkin bagi orang awam tidak masuk akal. Bahkan bisa saja nyawanya akan terenggut detik itu juga. Namun, semua tidak akan terjadi jika Allah telah menakdirkan dirinya untuk bersama kami hingga saat ini.


Flashback, Seven Years Ago With My Baby Girl


Saat itu, usianya baru dua hari. parasnya yang lembut dengan kulitnya yang putih mencirikan bahwa dia akan menjadi wanita yang sangat cantik. Kuperhatikan dia lamat-lamat hingga membuat rasa sayangku terhadap kakak-kakaknya telah terbagi. Namun, kedua kakaknya amat mengerti dengan kehadiran baby girl ini.

Cara menyusuinya pun berbeda dengan kakak-kakanya. Ku pikir mungkin karena dia adalah seorang baby girl. Dia lebih banyak tidur dibanding menyusui. Bisa dikatakan dalam hitungan beberapa menit telah selesai dan dilanjutkan tidur lagi. Awalnya aku senang, karena mengingat kondisi tubuhku yang belum fit. Jadi lebih banyak waktu untuk merehatkan tubuhku yang lelah karena melahirkan.

Kata orang, hati kecil itu tidak pernah bohong dan itu terjadi padaku. Saat malam aku sering terkejut untuk melihatnya, namun dia masih terlelap. Jeda waktunya menagih ASI adalah pada 4-5 jam sekali. Aku pun mulai khawatir, selain gerakannya yang lambat, ditambah badannya yang mulai kurus.

Setelah tujuh hari, aku membawanya ke bidan tempat dia dilahirkan. Sebelum pergi, kata suamiku disusukan saja dahulu agar dijalan dia tidak memintanya. Suamiku khawatir karena kami menggunakan motor menuju ke sana. Pastinya debu berterbangan kemana-mana.

Waktu itu, kekhawatiranku terus menjadi-jadi. Mungkin inilah naluri seorang ibu. Tapi dengan kalimat lembut, suamiku berkata tenang, semua akan baik-baik saja.
Sampai di bidan, sebuah kalimat yang sangat menyedihkan bagi kami, harus kami terima dengan lapang dada. Kata mereka, anak kami kuning karena tidak banyak minum ASI dan tidak dijemur. Bobot badannya juga berkurang. Jika dia tetap tidak mau menyusui, maka terpaksa harus dirawat.

Bagai disambar petir, aku menahan tangisan yang tertahan di ruang bidan. Ingin rasanya membantah apa yang telah dikatakan olehnya. Semua yang dikatakan oleh mereka tidak benar. Kami telah melakukan hal yang sama yang pernah kami lakukan pada anak-anak kami sebelumnya. Yaitu berusaha memberikan Asi dan menjemurnya agar tetap sehat. Namun, hari itu Allah menguji kami dengan kehadirannya.

Sepanjang perjalanan pulang, aku menangis sejadi-jadinya sambil memandang wajahnya yang tenang tanpa bergeming sedikitpun. Sesekali kurasakan detak jantungnya untuk memastikan dia baik-baik saja. Kata suamiku, “kita singgah di masjid ya sebentar.” Sebuah masjid yang sering kukunjungi saat aku kuliah dulu. Masjid itu menjadi saksi atas kesedihan kami berdua.

Suamiku pun sholat Sunnah Tahiyatul Masjid disertai dengan Sunnah Dhuha. Aku berada di bagian akhwat. Hanya ada kami bertiga saat itu. Aku pun mulai berdialog denganya meskipun dia tidk bisa menjawab. Tapi kuyakin dia mendengar perkataanku saat itu.

“Wahai putriku, engkau adalah belahan jiwa kami yang ketiga. Entah apa yang akan terjadi pada kami jika engkau pergi. Maafkan kami jika kami lalai terhadapmu. Seketika itu ada sebuah bisikan yang menggerakanku bahwa bersedekahlah kamu demi kesembuhan putrimu.”

Aku pun mengambil uang untuk kumasukkan dalam celengan masjid. Uang itu adalah pemberian dari suami yang harus kugunakan untuk belanja seminggu kedepan. Tanpa sepengetahuan darinya, kuniatkan semua demi kesembuhan dirinya, serta pasrah atas semua ketetapan dari Nya.

Setelah kumasukkan uang itu, aku pun melanjutkkan berbicara pada my baby girl. Kalian tau apa yang terjadi?

Dia segera merespon arah bicaraku. Dia telah mendengar tangisan umi dan abinya. Kepalanya perlahan bergerak ke kiri dan ke kanan dengan lemah seolah mencari sesuatu yang  hilang selama ini. Aku pun memahami hal tersebut. Dengan ke Maha Besaran  Nya, dengan ke Maha Lembutan Nya dan dengan kekuasaan Nya, baby girl itu pun mau menyusui kembali. Perlahan tapi pasti. Hik hik hik.”

Aku pun sujud syukur pada Nya. Disitulah aku tau bahwa berbagi meskipun sedikit tapi dengan niat yang ikhlas pasti akan membuahkan kebahagian. Berbeda halnya jika kita berbagi tapi masih tersirat keengganan untuk mengeluarkannya.

Seven Years Later With My Girl

Tujuh tahun kemudian, kejadian terulang kembali. Namun dengan versi yang sangat berbeda. Dia yang dulu tidak bisa bicara, sekarang berkata dengan nada lembut mengingatkanku untuk memberi. Mungkin bisa diartikan saat tujuh tahun yang lalu dia ingin mengatakan itu kepada kami orang tuannya agar berbagilah dengan harta kalian. Karena hakekatnya harta itu tidak akan habis, melainkan menjadi tabungan amal soleh di akhirat kelak.

Kalau saja dia bisa berkata lebih awal saat tujuh tahun yang lalu, mungkin kami bisa merasakan teguran itu lebih cepat. Namun semua belum terlambat, kelahirannya telah menohok hati kami untuk terus mengingat keadaan orang lain, meskipun kami tidak berkecukupan. Mungkin bagi orang yang memiliki harta yang melimpah dengan menyisihkan uangnya sedikit tidaklah sulit. Berbeda dengan orang yang memiliki harta yang cukup tapi berani mengeluarkan dengan banyak.

Semua pasti ada nilainya di sisi sang maha Pencipta. Allah yang berhak membalas semua kebaikan kita.

Hakekat Berbagi
Hakekatnya, harta kita hanyalah titipan Allah. Mungkin kalimat ini sering kita dengar dan sering kita katakan. Besar kecilnya harta yang telah kita keluarkan semua adalah titipan Allah. Jika melihat kisah Abu Dahdaa (salah seorang sahabat Rasulullah SAW) di zamannya, pasti kita akan cemburu dengan kemurahan hatinya.

Suatu hari Abu Dahdaa mengatakan : “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Rasulullah menjawab, “Benar, wahai Abu Dahda.”  Kemudian Abu Dahda pun berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan tanganmu. Aku telah memberi pinjaman pada Rabbku kebunku ini. Kebun tersebut memiliki 600 pohon kurma.”

Saat istri dan anak-anaknya berada di kebun kurma tersebut, Abu Dahdaa menegurnya dan berkata agar istrinya segera keluar dari kebun sambil berkata bahwa kebun itu telah dipinjamkan oleh Rabbnya.
Rasulullah kagum dengan Abu Dahdaa. Kata beliau begitu banyak tandan anggur dan harum-haruman untuk Abu Dahdaa di surga.
Masih banyak Abu Dahdaa-abu Dahda yang lain yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu. Semua dari mereka melakukan hal yang sama. Mereka tidak pernah lupa dengan Sang Pemberi nikmat.

Manfaat Berbagi Bagi Manusia
Melihat Abu Dahdaa yang begitu dermawan dengan harta yang telah dititipkan olehnya, membuat kita cemburu, karena apa yang telah kita berikan belumlah bernilai apa-apa. Untuk itu Allah sering mengingatkan kita dalam kalamnya bahwa bersedekahlah, maka engkau akan mendapatkan balasannya.
Apa saja sih manfaat bersedekah atau berbagi bagi manusia?

Dengan melihat banyaknya manfaat dari berbagi, memaksa mata kita lebih jeli dan hati kita harus terketuk untuk terus berbagi terhadap sesama. Tentunya kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Salah satu wadah untuk menampung sebagian dari harta yang kita miliki dapat disalurkan atau didonasikannya ke Dompet Dhuafa.

Mengapa Donasi ke Dompet Dhuafa?
Mengapa harus ke dompet dhuafa? Karena dompet dhuafa adalah Lembaga Filantropi Islam bersumber dari dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) dan dana halalan lainnya yang berkhidmat dalam pemberdayaan para kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui filantropis (humanitarian) dan wirausaha sosial profetik.
Muculnya dompet dhuafa dilandasi dari empati para jurnalis yang banyak berinteraksi dengan masyarakat miskin plus sering bertemu dengan orang kaya. Maka digagaskanlah kebersamaan antara siapa saja yang peduli dengan nasib kaum dhuafa.
Sejalan dengan itu, dompet dhuafa juga menyediakan beberapa program pengembangan masyarakat. Beberapa diantaranya adalah program layanan kesehatan cuma-cuma, biaya sekolah yang gratis, pengembangan di bidang ekonomi dan sosial dan pembelaan dalam bentuk advokasi kebijakan publik, mobilisasi, pemberian bantuan hukum.
Proses pelayanan dan pemberdayaan ini akan kandas jika kaum dhuafa tidak dibela dan dipertahankan haknya sebagai warna negara.
Untuk layanan donatur, dapat dilakukan secara online. Caranya dengan mengisi data lengkap, lalu melakukan donasi melalui melalui Dompet Dhuafa.
Jika kita butuh informasi yang lengkap dan akurat, kita bisa menghubungi langsung melalui alamat di bawah ini.

Jangan khawatir, uang kita akan jatuh pada orang yang tepat. Karena dompet dhuafa telah menjamin hal itu dengan pasti. Hal ini dibuktikan dari mereka yang juga menyediakan wadah volunteer yang bisa dilihat oleh masyarakat, bahwa mereka ada dan jelas terlihat kontribusinya bagi kemanusiaan dan masyarakat.
Jadi tunggu apa lagi, sisihkan uang kita selagi nyawa masih berada di badan, dan sebelum saatnya tiba harta kita akan ada pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Satukan misi kita dengan salah satu misi dompet dhuafa yaitu
“Menjadi gerakan masyarakat yang mentransformasikan nilai-nilai kebaikan”

Masih banyak misi lainnya yang bisa menjadikan kita seperti Abu Dahdaa atau bercermin pada anak kecil yang jiwanya masih sangat bersih. Sejatinya kita hidup di dunia adalah sementara, kehidupan akhiratlah merupakan kehidupan abadi. Di sanalah tertoreh segala kebaikan-kebaikan kita selama di dunia.

Tetaplah selalu berbagi, karena berbagi akan membuat kita selalu bahagia. Semoga Allah selalu menggerakkan jiwa-jiwa kita selalu berada dalam kebaikan. Aamiin.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”
#JanganTakutBerbagi
#SayaBerbagiSayaBahagia

Netmonk Sangat Mumpuni Atasi Kualitas Jaringan Internet di Ruang Publik



Netmonk Sangat Mumpuni Atasi Kualitas Jaringan Internet di Ruang Publik

Posted by ana_susan, April 20, 2019, 1.30 AM I Blog competation





“Ah payah! Jaringan di sini lemot ! Ndak bakalan aku ke sini lagi ! Benar kata si Ani. Di sini tempatnya saja mewah dengan sajian yang oke. Tapi kalau soal internet lemot. Ntar besok aku kerjakan tugasnya di café seberang saja. Dengar-dengar sih makanannya murah, meskipun tempatnya tidak begitu nyaman. Tapi soal jaringan internet oke punya tuh”.

Itulah percakapan yang kudengar dari beberapa anak muda yang tidak sengaja kuamati di sebelahku. Saat itu aku sedang menunggu angkutan umum menuju rumah. Dalam suasana yang panas, mendengar kabar panas, membuat dahi ini sedikit berkerut.

Keesokan harinya, aku pergi ke sebuah tempat perbelanjaan umum yang lazim disebut dengan mall. Tau sendiri kan siapa yang mendominasi di mall saat ada promo, diskon atau semacamnya? Yah, ibu-ibu. Aku menuju ke sana dengan satu tujuan pasti, yakni mencari buku-buku untuk referensi tulisanku.

Tiba waktu salat sambil duduk sesaat di ruang tunggu, sebuah percakapan yang sama seperti kemarin terjadi lagi. Dua orang mahasiswa yang sedang membuka laptopnya, sangat serius mengerjakan sebuah tugas. Sepertinya tugas itu akan dikumpulkan hari itu juga. Tempat kuliah mereka juga bersebelahan dengan mall. Ku pikir mereka sedang memanfaatkan free WiFi di mall tersebut. Lagi-lagi masalah jaringan. Yang herannya, dengan mall yang begitu besar, dengan isian yang lumayan mahal, tapi menyediakan kualitas jaringan yang tidak mumpuni.

Aku pun bertanya-tanya, kira-kira apa penyebab semua ini. Mengapa mereka tidak memanfaatkan moment tersebut untuk menarik pengujung agar ramai. Hmm, pokoknya aku harus cari tau akar permasalahannya ada di mana.

Penyebab Lemotnya Jaringan di Ruang Publik
Selidik punya selidik, setelah menelusuri jalan yang amat panjang, ternyata penyebab lemotnya internet salah satunya adalah dari perangkat jaringan yang digunakan. Kita tau perangkat jaringan banyak macamnya. Beberapa diantaranya adalah Switch, Bridge, LAN, Router, HUB dan lain-lain. Masing-masing perangkat memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Perangkat-perangkat tersebut dipantau oleh sebuah alat yang bernama network monitoring (monitoring jaringan). Alat ini diperlukan guna mengetahui perangkat yang kita pakai apakah dalam kondisi baik atau buruk.

Para muda mudi yang hendak menyelesaikan laporan maupun tugasnya seperti dialog di atas tentunya tidak rugi terhadap waktu maupun materi saat memanfaatkan jaringan internet di ruang publik.

Untuk itu, hadirlah di Indonesia salah satu alat monitoring  yang bernama Netmonk. Netmonk adalah dashboard (sebuah user interface yang cukup baik) berbasis web yaitu aplikasi pemantauan jaringan dan analitik di Indonesia menggunakan platform ketitik. Fungsi Netmonk ini adalah untuk menampilkan status jaringan.

Jaringan yang ditampilkan berupa metric, angka dan visualisasi data. Tujuannya adalah untuk membantu user dalam membuat keputusan yang tepat dan cepat berdasarkan data. Netmonk ini memeiliki beberapa keunggulan. 

Sebelum kita menilik keunggulan dari alat tersebut, kita akan berselancar bagaimana awal terbentuknya Netmonk.

Awal Terbentuknya Netmonk.
Pada awal tahun 2017, Haidlir Naqvi dan Doni Bahtiar membentuk sebuah tim sebagai start up yang akan memonitor analytics platform dengan mendengarkan keluhan dan solusi tentang jaringan melalui aplikasi berbasis web. Network monitoring tersebut bernama “Ketitik”.

Awalnya, ketitik menggunakan ide analytic network untuk Usee TV. Hal ini dapat diketahui tentang data, perangkat, penggunaan Usee TV sampai tahap pembuatan profil data pelanggan. sejalan dengan bertambahnya tim Ketitik produknya berubah setelah 1.5 tahun beroperasi. Produk baru dari Ketitik tersebut adalah Netmonk, SLA (Service Level Agreement) monitoring, Node monitoring dan API (Application Programming Interface) monitoring.

Keunggulan dari Netmonk
Dari keempat produk Ketitik, Netmonk merupakan satu-satunya produk unggulan di Indonesia.  Ada lima alasan mengapa Netmonk sangat unggul. Kelima unggulan tersebut adalah




Netmonk memiliki fitur yang lengkap yang belum dimiliki oleh aplikasi mana pun. Fitur-fitur tersebut terdiri atas forecasting analytics, friendly UI dan realtime data. Ketiganya ada dalam Netmonk, jadi tidak perlu capek-capek untuk mengisntal aplikasi yang banyak dalam satu perangkat.

Netmonk customize (menyesuaikan kebutuhan) kita. Saat kita ingin menginstal Netmonk, kita dapat meminta customize feature atau informasi data yang sesuai dengan kebutuhan. Hasilnya, tampilannya akan lebih efesien dan sesuai keinginan.
Netmonk juga menggunakan fasilitas free trial (uji coba gratis). Uji coba gratis ini berlaku selama sebulan penuh. Walaupun gratis, kita dapat menyesuaikan dengan kebutuhan kita.

Selain itu, Netmonk juga menyediakan demo yang dapat diunduh melalui https://demo.netmonk.ketitik.com/ yang sewaktu-waktu bisa kita lihat untuk meyakinkan bahwa Netmonk benar-benar unggul di Indonesia. Melalui demo ini kita bisa melihat bagaimana cara kerja aplikasi Netmonk saat diinstal nantinya. Tampilannya juga mudah dimengerti dan mudah digunakan.

Keunggulan yang kelima dari Netmonk adalah, harganya lebih bersahabat. Dengan fitur yang lengkap ditambah dengan harga yang bersahabat serta tampilan yang oke membuat alat monitoring ini sebagai “It’s a win-win solution”.

Prinsip Kerja Dari Netmonk
Netmonk yang sekarang adalah jenis Netmonk V.2 (versi terbaru) yang memiliki fitur lebih berguna dan dashboard yang bersahabat karena mudah digunakan. Forecasting analytic system yang terdapat dalam Netmonk ini bisa memprediksi umur dari perangkat. Saat perangkat telah mencapai usiannya, Netmonk akan mengirim notifikasi melalui telegram pada pengguna.

Dengan menggunakan Netmonk V.2, network engineers bisa memproses data yang mereka dapatkan. Saat data diproses, pengguna dan Ketitik terhubung dengan API (Aplication Programming Interface).  Selanjutkan Netmonk akan menunukkan data dengan dashboard yang mudah dimengerti.

Netmonk adalah Network Monitoring yang Proactive
Sekarang telah banyak alat atau aplikasi monitor jaringan yang bisa kita dapatkan secara gratis ataupun berbayar. Tingkat levelnya juga berbeda-beda. Rata-rata monitoring jaringan tersebut berada pada level reactive maintenance dan proactive maintenance. Nah, istilah apalagi ini? Hmm.

Reactive maintenance adalah breakdown maintenance yang berfokus pada alat yang mengalami kerusakan lalu mengembalikannya ke operasi normal dengan cara memperbaiki komponen dan alat yang rusak.

Proactive maintenance dapat melihat lebih jauh jika suatu alat terjadi kerusakan sehingga permasalahan jaringan dapat diminimalisir.

Jadi anttara reactive maintenance dan proactive maintenance memiliki keunggulan masing-masing. Kedua level tersebut hanya dimiliki oleh produk Netmonk dari Ketitik.
Berbeda dengan aplikasi monitoring jaringan lainnya, Netmonk dengan fitur yang lengkap juga menggunakan notifikasi dari aplikasi telegram. Dimana penggunaaannya lebih efesien dan praktis disbanding notifikasi SMS atau email yang cendrung nyepam (menjadi sampah).

Fitur dasboardnya juga informatif serta mudah dimengerti, seperti terlihat pada gambar di bawah.


Dari gambar tersebut kita dapat melihat beberapa board seperti device status, link utilization, gateway status, CPU, RAM dan storage. Statusnya juga jelas terlihat. Seperti, misalnya pada informasi Up dan Down dari device status. Jumlah down sebanyak 9 (yang ditunjukkan dengan anak panah) dan up 6. Artinya, perangkat down harus segera diperbaiki karena nilainya lebih tinggi.

Dengan pemilihan network monitoring yang tepat, kita dapat mempertahankan daya tahan perangkat, menghemat waktu luang, menyelesaikn masalah jaringan, membantu menganalisis performa jaringan.

Keuntungan ini tentunya memberi efek baik bagi kebutuhan internet kita. Bahkan, jaringan internet pada bisnis perbankan merupakan harga mati. Jika terganggu, maka produktivitas dari perusahaan tersebut akan menurun sehingga menyebabkan mereka gulung tikar.

Jumlah pengguna internet di Indonesia menempati peringkat kelima terbanyak di dunia. Dengan jumlah penduduk yang tidak kecil dari Sabang sampai Meroke. Jumlah ini kadang tidak seimbang dengan kualitas jaringan yang tersedia. Jadi perlu sebuah pengontrol jaringan yang bisa memonitor langsung kualitas jaringan suatu tempat. Netmonk lah salah satu solusinya.

Jadi sudah selayaknya kita memilih Netmonk sebagai alat monitoring yang unggul untuk memantau jaringan dan menjadi satu-satunya aplikasi monitoring jaringan terbaik di Indonesia.  Apalagi jika perangkat yang kita gunakan tergolong perangkat besar seperti router dan switches yang tidak bisa dimonitor secara manual. Netmonk bisa menjadi alternatif di dalam menjawab permasalahan tersebut.

Cara Menginstal Produk Netmonk
Ada dua acara menginstal produk netmonk, yaitu dengan cara manual (menggunakan dokumen instalasi) atau dengan bantuan tim Ketitik. Jika bermasalah pada produk yang digunakan kita bisa menghubungi alamatnya.



Keberadaan Netmonk di Indonesia telah mencerahkan kebutuhan jaringan yang mumpuni di berbagai kepentingan terutama di ruang publik. Adanya produk ini menjadikan ruang publik menjadi nyaman untuk digunakan saat menyentuh jari-jari kita dalam mencari informasi dunia.  Selain itu, segala permasalahan yang dihadapi dapat selesai dengan baik tanpa terhalang oleh waktu serta yang terpenting saku tidak kebobolan. Jadi masih tidak menganggap kalau Netmonk itu tidak mumpuni?

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog “Writing Competition Batch I” yang diadakan oleh Netmonk.



Wednesday, April 10, 2019

Menuju Rumah Nol Sampah? Mengapa Tidak


Menuju Rumah Nol Sampah? Mengapa Tidak
Posted by ana_susan, April 10, 2019, 11:40 

Pic by me in Canva

“Menuju NOL SAMPAH, bukan menjadikan kita sebagai malaikat. Tapi menjadikan kita sebagai manusia yang lebih peduli dan bertanggung jawab”(DK Wardhani).

Itulah sebait kalimat yang pertama kujumpai saat menerima sebuah buku karangan DK Wardhani semalam pada pukul 08.00 malam (tanggal 9 bulan April 2019). Sebuah buku yang telah lama kutunggu untuk kujadikan pedoman dalam pengolahan sampah di sekitar rumahku.

Aku telah lama tertarik dengan pengolahan sampah. Awalnya, sampah-sampah yang ku olah hanya seputar menjadikannya sebagai pupuk kompos dan pupuk cair saja. Sampah-sampah tersebut berasal dari sampah organik dapur. Bagaimana dengan plastik? Semua ku buang ke tempat sampah. Aku kira dengan hanya dibakar akan selesai masalahnya. Tapi ternyata tidak. Asap yang ditimbulkan akibat pembakaran sampah plastik ternyata mempengaruhi tanaman di sekitarnya.

Pengetahuan yang kudapatkan hanya melalui video yang ada di youtube dan beberapa buku pengolahan sampah. Semakin banyak yang kutonton dan kubaca semakin beragam cara pengolahan yang ditampilkan.

Eksperimen demi eksperimen terus aku lakukan, demi membuktikan semua yang telah diperagakan  melalui youtube maupun tulisan yang ada dibuku. Alhamdulillah, hampir 70 persen telah berhasil dilakukan. Sejalan waktu berlalu, tanpa disengaja aku menemukan orang yang benar-benar serius dalam pengolahan sampah. Bahkan dia menyebutkannya sebagai Zero Waste.

What? Zero Waste? Really? Hmmm.

Wahhhh, artinya, sampah itu benar-benar nol tak bersisa. Tapi how can be??....

Tertarik??... Pasti. Senyumku pun sumringah. Semangatku menggebu-gebu. Ada seorang ibu, tamatan Magister Urban Design ITB yang ikhlas melepaskan jabatannya sebagai dosen di salah satu Universitas Brawijaya. Beliau lepaskan semua itu bukan tanpa tujuan yang pasti. Yah Ibu DK Wardhani mendampingi anak-anaknya menjalani sekolah rumah (homeschooling) sambil mempelajari pengolaan sampah yang harus diselesaikan dari hulu dengan pendekatan pola konsumsi dan gaya hidup.

DK Wardhani pun bertekad untuk berbagi dalam bentuk yang lain. Salah satunya melalui akun Instagram miliknya @dkwardhani. Teman-teman bisa bertanya langsung dengan beliau. Dijamin deh bakal jatuh cinta dan terus menerus penasaran dengan semangatnya.

Pucuk di Cinta Buku Pun Tiba
Dari sampul bungkusan luar saja telah mencirikan bahwa akan banyak penjelasan tentang zero waste yang aku nantikan.

Pic by me in Canva



Kalian lihatkan pada bagian pojok kiri bawah tertulis “Gunakan lagi Aku…” Satu kalimat yang memiliki makna luas. Membuat semua yang akan dibahas dalam buku yang ada di dalamnya pasti sangat mengundang perhatian orang banyak. Tentunya para emak-emak. He he.

Mau tau apa saja yang di bahas dalam bukunya yang telah memasuki cetakan kedua ini? Kuy kita ulas secara umum isinya ya. Tentunya tidak semua akan aku berikan. Pastinya aku akan membuat kalian penasaran dengan buku ini. Kenapa?? Karena aku sendiri telah dibuatnya penasaran sebulan yang lalu. Jadi biar rasa penasarannya seri gitu. He he he.

Pic by me in Canva


Review Sekilas Buku
Judul          : Belajar Zero Waste, Menuju Rumah Minim Sampah 
Pengarang : DK Wardhani
Tahun terbit: 2019
Penerbit     : Bentala Kata, Imprint Ruma Main Anak (RMA)
ISBN          : 978-623-90233-0-0
Illustrator    : Enrica Rinintya dan Okta Zaida

Dalam buku ini dijelaskan bagaimana mengolah sampah secara perlahan, bertahap dan fokus dalam mencapainya. Perjuangan untuk mencapainya di awal sangatlah sulit, mengingat hanya kita sendiri sebagai peran emak yang mungkin peduli. Namun, jika kita telah melibatkan seluruh anggota keluarga, segalanya akan menjadi indah.

Buku ini juga memberikan inspirasi banyak orang, bahwa menuju rumah minim sampah itu tidaklah sulit. Kita bisa menolkan sampahnya hingga petugas sampah akan bertanya kemanakah sampah yang kita miliki? Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah pun akan merasa senang jika lokasinya bebas sampah atau minimal sampah-sampahnya telah terpilah dengan baik.

Buku ini juga menjelaskan, bagaimana sampah itu terjadi. Selesainya masalah sampah di rumah kita, namun menjadi masalah besar di TPA. Seperti TPA Supit Arang, TPA Talang Agung, TPA Luwi Gajah, TPA Bantar Gebang dan masih banyak lagi. Seolah menjadikan aktivitas tersebut sebagai bom waktu. Kumpul-angkut-buang adalah sederetan kegiatan yang telah berlangsung setiap hari.

Yah, dibuang jauh dari pandangan mata kita, akan tetapi bom waktu itu akan meledak sewaktu-waktu di TPA. Populasi penduduk dan bertambahnya sampah yang terus menerus akankah membuat hati kita terbuka untuk mengolahnya?

Belum lagi masalah pembuangan sampah yang mengalir hingga ke lautan. Berapa banyak hewan yang telah mati karena tersangkut atau mengkonsumsi sampah plastik yang mereka kira adalah makanan? Oh manusia yang telah diberikan akalnya oleh yang maha kuasa. Dimanakah empatimu pada lingkungan? (halaman 26-27).

Membaca buku ini seakan hati ini teriris-iris dibuatnya. Dengan melihat dampak yang terjadi pada makhluk di sekitar kita. Sedih pastinya, greget untuk terus menggerakkan pengolahan sampah sudah pasti akan kita lakukan.

Hal yang lebih menakjubkan lagi dalam buku ini adalah kita tidak hanya diberitahukan tentang sampah dan dampaknya saja, akan tetapi lebih kepada bagaimana cara pengolahan sampah yang baik dan benar. Semua dijelaskan step-stepnya dengan mudah tanpa merasa skeptis dibuatnya. Bahan-bahan pelengkapnya juga tidak sulit untuk didapatkan.

Kuy, kita mulai dari rumah kita dulu ya wahai para emak-emak strong. Peran besar kalian ada di dalamnya. Kalianlah yang akan menjadi pelopor utama untuk menggerakkan anggota keluarga agar minim sampah. Kalianlah yang sering berada di dapur.


Tanaman Cabe Rawit Menggunakan Pupuk Organik Cair (Pic by me in Canva)


Bukanlah suatu hal yang mustahil jika suatu saat kita akan menikmati hasil yang luar biasa dari usaha yang telah kita lakukan.
Jangan pernah memikirkan bagaimana dengan orang lain yang tidak melakukannya, tapi pikirkan bagaimana cara kita untuk terus kritis terhadap permasalahan sampah serta memberi hal yang terbaik untuk lingkungan kita.

#zerowaste
#gerakanminimsampah
#bercerminpadadirisendiri