Kamis, 21 Mei 2020

Sampah, Kemanakah Kau Harus Pergi?

Sampah, Kemanakah Kau Harus Pergi?


Sampah, Kemanakah Kau Harus Pergi?
Posted by ana_susan, 21 Mei 2020

Foto: pexels.com

“Jika saja sampah dapat bersuara, mungkin dia akan mengatakan mengapa aku harus dibuang? Atau mungkin juga dia bisa bertanya bukankah manusia sebagai penyebabnya?”
***
            Apa yang terbayang oleh kita, manakala mendengar kata sampah? Jijik, kotor, bau dan masih banyak sebutan buruk yang disematkan padanya. Kita juga akan marah jika seseorang mengatakan kita sampah? Mengapa? Yah, karena pandangan semua manusia mengatakan bahwa sampah itu sesuatu yang buruk.
            Aku ingat saat masih kecil dulu. Waktu itu mama menyuruhku untuk membuang sampah di dekat rumah. Aku selalu menolaknya dengan alasan karena pada jarak hampir dua meter dari tempat sampah, bau tidak enak telah tercium di hidungku.
            Belum lagi banyak lalat yang mengerubunginya, ditambah bercampurnya segala macam jenis sampah seperti sampah anorganik (tidak terurai) : plastik, kaleng, besi dan sampah organik (terurai) : dedaunan, rumput kering, kertas dan masih banyak lagi.
            Jika tempat pembuangan sampah itu terkena hujan, dan belum sempat untuk dibakar, maka bertambahlah bau ke mana-mana. Namun, pada saat dibakar, muncul masalah baru, yaitu asap yang bisa melekat ke baju saat dijemur, iritasi mata, bahkan terhirup.
            Itulah sekelumit sampah yang kukenang di masa lalu. Namun sekarang aku sadar, ternyata selama ini aku salah dalam menanganinya. Aku tidak mendengar dia menjerit-jerit setiap kubuang dengan bercampur baur. Aku tidak merasakan tangisannya yang memanggil-manggil aku untuk diolah. Padahal dia telah berkata dan selalu berkata “Aku (sampah) ini tidak muncul jika tidak ada sisa proses konsumsi dari kamu (manusia)?” 
            Mengapa sampah berani berkata demikian? Yah, betul. Sampah tidak akan pernah disebut dengan sampah selama belum dikonsumsi. Misalkan saja air minum kemasan atau makanan ringan potatoes. Setelah kita minum atau makan yang tersisa adalah kemasan kosong. Setelah kosong, pasti larinya ke tempat sampah.
            Kita mengira masalah kita telah selesai. Padahal kenyataannya plastik makanan atau minuman tadi tidak hilang dan akan terurai selama ratusan tahun. Dia hanya berpindah tempat saja. Kalaupun di rumah kita ada yang memungut sampah-sampah tersebut dan selanjutnya dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Sampah), maka itu sama saja. Bedanya hanya berpindah tempat.
            Jadi, kemanakah seharusnya sampah itu pergi? Sadarkah kita, seharusnya sampah itu hidup berdampingan dengan mahluk hidup lain, bukan malah menyakiti. Terlalu banyak manusia menyalahgunakan keberadaan sampah itu. Misalnya saja terjadinya longsor di TPA Leuwigajah, sebagai bencana nasional yang menelan ratusan korban jiwa, menimbun kampung dan lahan Pertanian.
            Belum lagi jika hujan turun, sampah yang berada di TPA akan bermuara ke lautan. Sampai di laut, sampah itu akan menyakiti biota-biota laut. Bahkan jika ada burung-burung yang akan memangsa ikan misalnya, pasti secara tidak langsung ikan yang mengkonsumsi sampah-sampah ikut termakan oleh burung. Seiring dengan waktu, burung itu akan menemukan ajalnya. Jadi jangan heran saat burung telah menjadi bangkai, maka akan ditemukan berbagai jenis sampah di dalam perutnya.
            Miris memang melihat proses sampah yang telah menjelajah begitu jauhnya. Padahal jika sampah itu kita awali dari rumah kita sendiri tentunya tidak akan sampai terjadi demikian.
            Kita memang tidak bisa menjadi selevel Lauren Singer yang hanya menghasilkan satu stoples sampah dalam kurun waktu dua tahun tapi setidaknya kita bisa memulainya dengan cara bertahap. Tahapan itu bisa berupa langkah-langkah pasti yang memotivasi kita untuk terus bergerak menjadikan sampah yang bermanfaat. Langkah apakah itu?
1. Mencegah, Memilah dan Mengolah
Apa yang dicegah? Yaitu barang-barang yang masuk ke rumah kita. Misal saat kita belanja ke pasar, selama ini yang kita tahu pasti banyak mengumpulkan plastik. Mulai dari beli bawang merah pakai plastik, sayur, ayam, bumbu dapur lainnya yang semuanya memakai plastik. Itu terhitung untuk satu kali belanja. Bagaimana jika seminggu ada tiga sampai empat kali belanja dengan pola yang sama. Kebayang kan berapa jumlah plastik yang dihasilkan di rumah kita.
Itu baru plastik sebagai sampah anorganik, belum lagi sampah organik dari sisa-sisa dapur. Seperti sisa potongan sayur, kulit buah, kulit bawang, yang semuanya bisa diolah menjadi pupuk organik baik yang padat maupun cair.
Mencegah sampah plastik dengan membawa tas belanja yang bisa dicuci ulang, mengumpulkan sampah organik sisa di dapur untuk dijadikan pupuk merupakan tindakan yang tepat untuk memberikan jalan terbaik bagi si sampah agar dia tidak kehilangan arahnya.

2. Menghitung Pola Konsumsi Keluarga
Pola konsumsi keluarga sangat menentukan seberapa besar sampah itu dihasilkan. Semakin banyak kebutuhan makanan atau minuman, maka akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.
Untuk meminimalisir jumlah sampah yang banyak, kita dapat melakukan tantangan penimbangan sampah. Baik sampah organik maupun anorganik yang telah kita pilah Tujuannya adalah untuk mengerem konsumsi yang berlebihan pada kemasan.
Jika hal ini dilakukan secara rutin, maka kita akan sangat hati-hati, jika sampah yang tidak  mudah terurai seperti plastik, botol kaca untuk bertengger di rumah kita.
3. Melakukan Gerakan 5R Atau 5M
Bea Johnson, pencetus zero waste home dengan konsep 5R telah menerapkan konsep ini dimulai dari rumahnhya. Hal ini telah dilakukannya sejak tahun 2008. Yaitu Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot atau 5M yaitu Menolak, Mengurangi, Menggunakan kembali, Mendaur ulang, Membusukkan.
Apa itu? Menolak semua kemasan plastik, botol, sterofoam atau apapun yang tidak bisa terurai. Mengurangi jenis sampah yang akan masuk ke rumah. Jika telah masuk dan tidak mungkin untuk dibuang apalagi dibakar, maka akan dipakai lagi dengan cara menggunakan kembali barang tersebut menjadi barang yang bermanfaat seperti dijadikan pot bunga atau hiasan craft sebagai tindakan daur ulang. Untuk sampah yang bisa terurai bisa diakukan dengan cara dibusukkan.
4. Kerjasama dengan Semua Anggota Keluarga
Ibarat dalam sebuah perusahaan, jika kita berkerja sendirian, maka kerjaan kita akan menumpuk dan tidak sesuai deadline. Ujung-ujungnya kesehatan terganggu, mudah stres bahkan depresi hasilnya tidak memuaskan. Demikian juga dalam penanganan sampah.
Jika apa yang kita impikan, kita kerjakan sendiri, maka apapun itu kita akan capek, lelah. Yang ada hanya omelan sana sini seputar rumah. Padahal adanya imbauan untuk membuang sampah sesuai tempatnya dan tiga poin di atas, maka kita tidak akan lelah. Bahkan lingkungan sekitar tempat tinggal kita akan selalu dalam keadaan sehat.
            Itulah beberapa langkah yang kulakukan untuk mengarahkan sampah itu agar dia tidak terombang ambing atau kehilangan arahnya. Percayalah, sampah itu akan mengucapkan terima kasih pada kita, manakala dia diperlakukan dengan baik dan ditangani dengan bijak.
Hasilnya, dia akan berkata “Lihatlah tanaman yang subur ini adalah hasil dari tanah yang kau lakukan dari dari pengolahan sampah organik yang terurai menjadi pupuk atau lihatlah craft ini hasil dari sampah anorganik (plastik) hasil kreativitasmu terhadap aku”.
Jadi yakinlah apapun yang kita lakukan akan kembali kepada kita baik itu berupa kebaikan maupun keburukan.

  


Hijrah Itu Adalah Bentuk Kasih  Sayang Allah

Hijrah Itu Adalah Bentuk Kasih Sayang Allah


Hijrah Itu Adalah Bentuk Kasih
Sayang Allah
Posted by ana_susan, 21 Mei 2020

Foto: pexels.com


Hijrah merupakan perjalanan seorang hamba menuju Rabb nya. Perjalanan menuju banyaknya kebaikan-kebaikan dengan menepis semua keburukan. Tetap istiqomah di jalan Nya meskipun halangan dan rintangan selalu ada di depan mata.

Bulan Ramadan itu, menjadi saksi atas semua dosa-dosaku. Bulan Ramadan itu telah menjauhkan aku dengan keluargaku selama seminggu. Kegiatan pasantern kilat yang telah menyemai hatiku, yang telah menimbulkan wangi semerbak bunga kebaikan. Menghujam dengan lekat hingga sentuhan-sentuhan itu masih terasa hingga sekarang.

Di sepuluh malam terakhir, dimana Lailatur qadar berada di dalamnya. Sepuluh malam terakhir, di mana segala doa pasti dikabulkan. Keputusan itu telah membuat kedua orang tuaku sontak kaget. Apakah ini benar anaknya?

Selama hampir 16 tahun bersama, masih terlihat rambut ini tergerai saat berada di luar. Masih terpampang aurat yang mestinya tertutup rapat. Masihkah ada ampunan dari Nya? Antara yakin dan tidak, perasaan itu terus menghantui. Ada sebuah ayat darinya terus terpatri dalam dadaku hingga sekarang. Sebuah ayat yang mewajibkan untuk menutup aurat kecuali wajah dan telapak tangan. 

Ternyata, selama 16 tahun, aku salah dan tidak  tahu apa-apa. Masih menggunakan bawahan yang panjangnya di bawah lutut sedikit. Masih menggunakan baju oblong berlengan pendek dengan warna merah dan hijau kesukaanku. Tapi semua berlalu begitu saja.

Bulan Ramadan itu telah membuka hatiku yang tertutup selama ini. Allah yang telah menggerakkannya untuk menerima secercah hidayah. Kalau bukan karena hidayah dari Nya, mungkin aku tidak menikmati tertutupnya auratku hingga sekarang.

Perjuangan belum selesai. Aku dijauhkan oleh keluarga besar. Mama dan papa sedikit malu dengan keadaanku saat itu. mungkin menganggap bahwa waktu itu hijab belum ngetren. Jadilah beliau terus melarang beberapa hal yang membuat aku selalu diam tanpa bicara.
***
“Kalau sama Bang Andi salam ya. Kan mama dan papa malu. Lagian sekarang momennya lebaran,” kata papa kepadaku.

“Tidak! Pa, aku tidak akan bersentuhan pada laki-laki yang bukan mahramku Pa,” jawabku pelan.

“Tapi kan dia saudaramu. Dia anak dari kakaknya Papa. Kan masih saudara dekat”.

“Meskipun saudara dekat, tapi kan bukan mahram Pa”. Ada beberapa orang yang tidak boleh bersentuhan kulit. Salah satunya adalah Bang Andi”. Papa pun diam sejenak sambil menghela nafasnya pelan tapi terdengar.

“Ya sudah deh terserah kamu saja,” jawab papa.
***
“Nak Ani, cepat! Tolong buka pintu ada tamu Nak,” kata mama dari arah dapur. Aku yang sedari tadi asyik menghafal pelajaran yang akan diujiankan besok kaget. Suara bel saja nyaris tak terdengar sangking khusyuknya belajarku. Saat mama menjerit, baru aku sadar ternyata ada tamu yang menekan bel pintu beberapa kali. 

Aku bergegas mencari jilbab di belakang pintu dan mencari kaus kaki. Tapi kaus kaki yang kucari belum ditemukan. Setelah aku keluar kamar, ternyata kaus kaki itu ada di ruang tamu. Aku lupa memindahkannya, karena tertalu lelah berjalan kaki dari sekolah. Aku memakai kaos kaki karena kata mama tamunya adalah laki-laki. Beliau teman kantor mamaku.

“Masya Allah, Nak. Belum kamu buka pintunya dari tadi?” tanya mama menyusulku ke ruang tamu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ini mau buka, Ma”. Aku pun bergegas ke depaan pintu dan menerima tamu yang datang.

“Kamu mau kemana udah lengkap dengan kaus kaki?” Mama bertanya seolah lupa dengan pakaian yang biasa ku pakai saat itu. Jika ada tamu atau yang bukan mahram aku pasti memakai pakaian secara lengkap.
***
“Apa kamu yakin dengn keputusan yang kamu buat?” Kata pak Kepala Sekolah kepadaku.

“Saya yakin Pak. Inshaa Allah tidak akan terjadi apa-apa dengan saya di masa depan,” Jawabku mantap.

Saat itu aku sangat yakin bahwa aku pasti diterima kerja di mana pun aku bekerja untuk melamarnya. Allah pasti bersamaku. Meskipun segelintir orang masih menganggap pas photo berjilbab di larang untuk ditempelkan pada ijazah sekolah.

Bersama dengan teman-teman yang minoritas, membuat semangat hidayah ini terus mengalir, semoga Allah tetap menjaga keistiqomahanku hingga ajal menjemput.

Waktu terus berlalu, aku melanjutkan kuliah. Alhamdulillah aku bertemu dengan sekumpulan orang-orang yang memiliki ghirah yang sama seperti aku. Meski harus berlelah-lelah dalam tugas kuliah, aku menyempatkan mengikuti pengajian rutin dalam forum silaturahmi mahasiswa. 

Di sana aku juga mendapat ujian yang lain bersama teman-teman dari beberapa orang dosen. Mereka menganggap aktifitas yang kami lakukan adalah sia-sia. Kami tidak menerima tuduhan yang telah disampaikan. Kami buktikan semuanya dengan berkata, bahwa kami bisa lulus dengan nilai terbaik.

Alhamdulillah, doa kami terkabul, perkataan kami diijabah olehNya. Meskipun kami anak mushalla, tapi kami tetap berprestasi dan lulus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Bahkan kakak kelas kami ada beberapa yang cumlaude. Aku sendiri melanjutkan kuliah ke jenjang Pasca Sarjana. Saat itulah terhapus pandangan ektrim tentang anak mushalla atau anak rohis bersantai-santai ria, atau hanya mikirin akhirat saja.
***
 “Kak, make up nya tipis saja ya. Jangan terlalu tebal. Karena aku tidak terbiasa,” kataku pada perias pengantin.
  
 “Iya,” jawabnya ketus dengan wajah yang cemberut.

Kuperhatikan wajahnya yang tanpa senyum sedikit pun dari cermin rias. Tak lama mama mengetuk pintu dan mengatakan kalau bisa dipercepat. Karena semua tamu sudah menunggu dan pengantin pria sudah berada di pelaminan.

Telah menjadi adat kebiasaanku, jika tamu dari mempelai laki-laki telah datang, sang pengantin wanita yang bertindak sebagai tuan rumah harus sudah siap lebih dulu. Namun, karena kondisiku saat itu mengalami perdebatan antara aku dan perias akhirnya waktu pun semakin lama.

 “Udah, dilepaskan saja jilbabnya biar cepat selesai ya!” kata sang perias tegas.

  “Jangan! Kak, jawabku spontan.


 “Ya sudah pasang sendiri saja ya. Tugas saya sudah selesai”. Dia pun berlalu pergi dari kamarku setelah . 

Aku dan teman dekatku tinggal berdua. Dia membantu merias jilbabku saat itu. kupasangkan perlahan-lahan sampai tidak mengganggu hiasan yang ada di kepalaku. saat itu, pengantin wanita berjilbab adalah sebuah pemandangan yang asing. Di sanalah letak perjuanganku yang sesungguhnya.

Aku berusaha mempertahankannya untuk tidak terbuka selama bertahun-tahun. Auratku hanya boleh terlihat oleh keluargaku sendiri dan spesial untuk suamiku. Haruskah aku lepaskan dalam waktu satu hari? Tidak. Sekali lagi tidak. Aku berjuang berdua  dengan temanku. Dialah saksi atas berlinangan air mataku saat itu. Kata beliau, 

“Jangan nagis nanti make up nya luntur. Sabar ya”, sambil tersenyum ke arah ku.

Masya Allah, Allah mengirimkan dia untuk mengendalikan emosiku yang meluap-luap saat itu. mama dan papa pun tidak tahu bagaimana kedaanku saat itu. Rahasia itu tetap terjaga sampai sekarang. Aku tidak ingin membebankan masalah yang kecil ini untuk di besar-besarkan, cukup aku, temanku dan Allah saja yang tahu.

Perjuangan hijrah memang sangat unik. Dia tidak bisa dirancang seperti apa nantinya. Dia tidak bisa ditentukan solusinya akan bagaimana. Hijrah itu adalah lompatan-lompatan keimanan seseorang menuju Rabb Nya. Ujian yang ada di dalamnya akan terus meningkat seiring dengan perjalanan hidup kita. Hingga sekarang ujian hijrah itu terus berlangsung pada diriku, tapi dengan tingkat ujian yang lebih tinggi.

Ujian hijrah harus mampu kita lewati, agar pendewasaan diri terus terasah, agar Allah semakin sayang dan cinta pada kita. Doa agar tetap istiqomah selalu menjadi senjata bagiku untuk terus dan tetap berada di jalannya. Jangan pernah takut saat hidayah datang pada kita. Karena di situlah letak kasih sayangnya Allah pada hambaNya.

#ChallangeBPN_29

Perbanyak Doa Ini Sebagai Salah Satu Amalan di Akhir Ramadan

Perbanyak Doa Ini Sebagai Salah Satu Amalan di Akhir Ramadan


Perbanyak Doa Ini Sebagai Salah Satu Amalan di Akhir Ramadan


Desain by Canva

Posted by ana_susan 21 Mei 2020

“Jika dengan izin Allah aku mendapatkan malam lailatul qadar, doa apa yang harus aku ucapkan? Kata saiyiduna Aisyah r.a.”

Pertanyaan itu diungkapkan oleh Saiyiduna Aisyah r.a kepada Rasulullah SAW pada sepuluh malam terakhir. Kata beliau amalam utama yang dilakukan pada akhir ramadan (sepuluh malam terakhir) adalah perbanyak salat dan doa.

Salat adalah cara kita mendekat pada Allah. apalagi saat sujud. Saat yang paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah saat sujud. Demikian juga dengan doa. Kita milik Allah, yang menciptakan juga Allah, jadi sudah sepantasnya kita pun meminta pada Allah.

Doa adalah salah satu cara yang diungkapkan oleh kita dalam menyampaikan keinginan pada sang Khaliq. Doa akan langsung sampai kepada Allah. Tanpa penghalang atau tanpa hijab. Penghalang akan ada jika kita melakukan dosa. Baik dosa kecil apalagi yang besar.

Nah, dengan adanya bulan ramadan ini, yakni bulan yang memiliki rahmat, ampunan dan dijauhkan dari api neraka, tentunya memicu adrenalin kita untuk giat ibadah lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Apalagi Allah menjanjikan pada hambaNya, bahwa salah satu malam di bulan ramadan ada malam lailatul qadar. Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya apa?

Artinya, jika kita mendapakan malam tersebut, dan saat itu kita beribadah pada Allah, maka pahalanya sama dengan 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun. Kebayang kan pahalanya sangat berlimpah. Dan itu salah satu bentuk kasih sayangnya Allah pada hambaNya.

Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, banyak hikmah yang didapatkan. Hikmah tersebut menandakan bahwa kita fokus pada Allah saja. Karena biasanya kita sibuk dengan membuat kue lebara, belanja baju baru atau yang lainnya versifat duniawi.

Namun, sekarang Allah memberi kesempatan pada kita untuk konsentrasi padaNya saja. Bermunajat hanya padaNya saja. Itulah sedekat-dekatnya hamba dan itu sangat disukai oleh Allah.

Lantas doa apa yang harus kita panjatkan di akhir ramadan agar nanti jika ramadan pergi kita dalam keadaan bersih dari dosa. Dosa pun akan diampuni sejak aqil balig sampai sekarang? Itulah pertanyaan yang sama diungkapkan oleh istri Rasulullah SAW yang bernama Aisyah r.a.

“Jika dengan izin Allah aku mendapatkan malam lailatul qadar, doa apa yang harus aku ucapkan? Kata saiyiduna Aisyah r.a?”

Perbanyaklah membaca

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى


Artinya :
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku (HR. Tirmidzi no 3513 dan Ibnu Majah no 3850. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini hasan shalih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadist ini shahih).

Ituah doa utama yang harus kita ucapkan salam akhir ramadan. Tentunya ditambahkan doa-doa lain yang biasa kita ucapkan. Allah sangat suka saat kita meminta padaNya. Jadi perbanyaklah berdoa agar Allah sayang pada kita.

#ChallangeBPN_28

3 Tips Berhemat Saat Lebaran di Tengah Pandemi

3 Tips Berhemat Saat Lebaran di Tengah Pandemi


3 Tips Berhemat Saat Lebaran di Tengah Pandemi
Posted by ana_susan 21 Mei 2020


Foto by pexels.com

“Lebaran ini kita tidak perlu baju baru dan tidak mudik ya?”

Lebaran sebantar lagi. Bulan puasa pun akan pergi meninggalkan kita. Banyak hal yang ingin kita rencanakan untuk menyambut lebaran tiba. Terbayang takbir dan tahmid, salat Idul Fitri berjamaah, berkumpul bersama keluarga, makan ketupat dan lontong dan masih banyak lagi yang akan kita temui.

Berbeda di tahun ini, saat pandemi Covid-19 telah menguasai dunia. Banyak hal yang berubah. Rutinitas di luar tidak banyak lagi. Kesehatan selalu menjadi prioritas. Menjauhi kumpulan ramai orang-orang. Berbelanja lebih baik dari rumah dan masih banyak hal yang berbeda dari sebelumnya.

Belum lagi kita tidak diperkenankan mudik. Duh, alangkah berat ujian yang dirasakan sekarang. Sebagai pengalihan dari semua itu, kebanyakan kita kadang tergiur untuk belanja online, membeli baju baru padahal tidak dibutuhkan dan cendrung menghabiskan gaji yang didapatkan untuk sesuatu yang tidak penting.

Hasil dari semua itu, terkadang tanpa disadari kita telah jauh dari kata hemat. Pengeluaran membengkak dan akhirnya tanpa diduga tiba-tiba saja kita telah berhutang. Padahal semua itu tidak sadar kita lakukan. Akhirnya kita pun tergolong pada orang-orang yang boros. Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang boros atau menghamburhamburkan hartanya?

Ada tiga tips berhemat lebaran saat pandemi Covid-19 berada ditengah kita.

1. Pengalihan Dana Mudik

Jauh hari sebelum mudik tiba, kita telah menyiapkan dana. Sebagian uang disisihkan atau ditabung agar saat mudik tiba kita pun tidak kaget. Artinya pengeluaran dana ke mudik tidak terlalu besar untuk ditambahkan.

Berbeda dengan sekarang, dana mudik tentunya tidak kita gunakan. Karena pemerintah melarang mudik beberapa bulan ke depan sampai dibatalkan kapan semua berakhir. Untuk itu, dana mudik bisa kita alihkan ke kebutuhan bagi keluarga.

Pengalihan dana mudik bagi keluarga bisa berupa membeli makanan bergizi, buah-buahan dan multivitamin. Kebutuhan tubuh akan asupan yang sehat sangat dibutuhkan agar ibadah kita kuat. Bukankah Allah menyukai orang-orang yang kuat dan sehat?

2. Pengelolaan THR

Setiap lebaran, bagi para pekerja tentu endapatkan tambahan tunjangan hari raya atau lebih dikenal dengan THR. Dana THR ini diberikan sebagai bonus selama setahun bekerja. Biasanya kita menggunakan dana ini untuk membagi-bagikannya pada sanak saudara saat bertemu. Atau lebih dikenal dengan angpao. Baju baru pun tidak ketinggalan dalam list lebaran kita.

Semua dilakukan karena kita bertemu dan berkumpul. Namun, di tengah pandemi Covid-19 yang belum jelas virusnya ada di mana, kita pun melakukan social distance. Nah, pertanyaannya apakah baju baru perlu? Bagaimana dengan THR?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus bisa berpikir bahwa baju baru tidak perlu dibeli. Kenapa? Toh kita pun tidak bertemu dengan siapa-siapa kan? Bukankah tujuan beli baju baru karena berada di suasana baru nan fitri? Jadi, baju baru kalau bisa tidak kita beli. Demikian juga dengan angpao. Kalau pun terpaksa, kita tranfer hanya sedikit (hanya orang-orang yang berhak membutuhkan).

Lantas, kemana harus kita gunakan THR nya? Kita bisa manfaatkan untuk bayar hutang. Atau sebagai tabungan jangka panjang, karena kita tidak tahu kebutuhan yang tidak terduga di masa yang akan datang. Atau kita juga bisa menyimpannya sebagai dana pensiunan.

3.Tidak Tergoda Diskon

Untuk yang satu ini tidak pandang bulu. Semua pasti suka yang namanya diskon. Banyak tempat yang memberi layanan seperti ini sebelum Covid-19. Mulai dari mall, toko dan masih banyak lagi. Semua menjajakan dagangan yang dipakai maupun yang dikonsumsi.

Diskon pun tidak mau kalah saat pandemi berlangsung. Tidak bisa belanja di luar, ada cara belanja online melalui bermacam market place. Semua dari mereka menawarkan diskon yang gila-gilaan.

Bagi kita pribadi, tentu hal ini menarik kan. Apalagi kebutuhan yang kita inginkan ada di sana. Tanpa harus keluar, ditambah diskon, tahu-tahu barang sudah sampai ke rumah. Salah satu keuntungan yang kita dapatkan adalah kita tidak capek.

Namun demikian, ada kerugian yang kita dapatkan, yaiktu pengeluaran menjadi besar tanpa kita sadari. Jadi bagaimana mengatasi hal tersebut? Mungkin yang harus kita lakukan adalah menahan diri untuk tidak membeli. Kalau tetap ada hasrat ingin membeli, hapus saja aplikasi marketplace yang bisa menggoda kita tiap membuka handphone. Bereskan? He he.

Jadi teman-teman, intinya, segala pengeluaran dana yang kita miliki itu yang mengatur dan mengelolanya bukan orang lain. Tapi diri kita sendiri. Kitalah yang harus menatanya untuk menggunakannya pada tempat yang tepat. Bisa dengan sedekah, membayar zakat fitrah, sumbangan yang sifatnya akhirat. Tapi yakinlah dana itu sebagai aset kita untuk menambah amalan kita.

#ChallangeBPN_27



Selasa, 19 Mei 2020

Bubur Kanji Rumbi, Bubur Rempah Aceh yang Praktis dan Sehat untuk Berbuka Puasa

Bubur Kanji Rumbi, Bubur Rempah Aceh yang Praktis dan Sehat untuk Berbuka Puasa

Bubur Kanji Rumbi, Bubur Rempah Aceh yang Praktis dan Sehat untuk Berbuka Puasa

Posted by ana_susan 19 Mei 2020



Foto: Instagram.com/sya_zub


“Tidak sah rasanya puasa jika saat buka puasa tanpa bubur kanji rumbi di kampung Abi”

Itulah sepenggalan kalimat yang diucapkan suamiku beberapa hari yang lalu. Kalimat yang menunjukkan penguatan akan keberadaan bubur kanji rumbi yang menjadi tradisi di daerahnya. Jadi jika tidak ada bubur kanji saat berbuka, rasanya gimana gitu. Atau dengan kata lain kurang lengkap berbuka puasa tanpa bubur kanji rumbi.

Percakapan seputar menu apa hari ini untuk berbuka, kerap terjadi di antara aku, suami dan anak-anak. Hari ini buka puasa pakai pisang goreng aja kata anakku yang nomor dua. Jangan pakai donat saja kata anakku yang bungsu. Terserah umi saja, kata anakku yang pertama. Tiba-tiba muncul suami dan berkata sebagai penengah. “Bagaimana kalau bukanya pakai bubur kanji rumbi?”

“Hmm, apa itu bubur kanji rumbi?” tanyaku serius. Aku yang notabene orang aceh juga tidak tahu bubur kanji rumbi itu seperti apa. Karena daerah asalku adalah Aceh Besar, sedangkan suami Aceh Pidie. Kalau dilihat dari namanya sih pasti berasal dari tepung kanji. Ternyataaaa, salah. He he.

Jadi begini, bubur kanji rumbi itu, terbuat dari beras yang dimasak seperti bubur ayam yang dijual di pasar. Bedanya dalam bubur kanji rumbi dimasukkan dengan banyak rempah-rempah. Makanya disebut dengan bubur kanji rumbi.

Oalah, ternyata itu ya bubur kanji kanji. Yuk kita kenalan lebih jauh dengan bubur kanji rumbi khas buka puasa Aceh yang dimaksud.


Asal Bubur Kanji Rumbi

Abdi Abdullah, seorang pemerhati sejarah dan budaya Aceh mengatakan bahwa bubur kanji rumbi berasal dari pedagang India yang berasal dari daerah Gujarat dan Malabar saat menyebarkan Islam abad ke-12.

Pedagang Malabar membantu Aceh mengusir Portugis dari Selat Malaka. Banyak pemudanya yang merantau ke Aceh. Mereka bekerja sebagai tentara , pembuat kapal perang dan pandai senjata. Nah, selain itu mereka juga membawa budayanya ke Aceh. Salah satunya makanan yaitu bubur kanji rumbi.


Bubur Kanji Rumbi Tradisi Berbuka Puasa Aceh



Foto: bandaacehtourism.com, desain by Canva


Konon, kuliner ini berusia ratusan tahun dan telah menjadi tradisi yang mudah ditemui setiap Ramadan di Aceh terutama Aceh Pidie. Bahkan di beberapa mesjid disediakan sajian ini secara gratis.

Jangan ditanya seberapa banyak bubur kanji rumbi yang disediakan. Beberapa lelaki dewasa yang telah berpengalaman dalam pembuatan bubur ini telah menyiapkan bahan bubur dan memasaknya sejak pukul 14.00. Proses pembuatan bubur ini bisa menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam dalam kuali yang besar.

Hasil yang didapatkan bisa disantap oleh ratusan orang yang ingin berbuka puasa disekitar mesjid. Setelah masak, bubur kanji rumbi diletakkan dalam mangkuk-mangkuk kecil. Namun, ada juga masyarakat sekitar yang membawa wadah sendiri dari rumah untuk meminta bubur kanji rumbi tersebut.

Uniknya tradisi menyantap bubur kanji rumbi warisan Sultan Aceh ini, hanya ada di bulan Ramadan saja, sedangkan di bulan lainnya tidak. Jadi jangan heran jika selama Ramadan hampir semua penjaja takjil di Aceh ditemukan bubur kanji rumbi.


Bubur Kanji Rumbi Serupa Tapi Tak Sama



Foto : kumparan.com, desain by Canva


Proses pembuatan bubur kanji rumbi hampir sama dengan pembuatan bubur ayam. Yakni melewati proses perebusan beras yang lama. Bedanya adalah, bumbu rempah-rempah yang ada di bubur kanji rumbi telah dimasukkan beserta dengan berasnya. Sehingga saat perebusan terjadi, rempah-rempah telah terserap ke dalam beras yang direbus tadi.

Untuk taburan di atasnya bubur kanji rumbi juga memberi suwiran ayam. Namun kadang ada yang menaburnya dengan udang. Jadi bubur kanji rumbi hampir sama dalam hasilnya, namun mengenai rasa dan bumbu yang ditambahkan jelas berbeda.

Penasaran dengan cara pembuatannya? Jangan khawatir, semua bahannya mudah kok didapat oleh teman-teman. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke Aceh untuk merasakan nikmatnya bubur kanji rumbi khas buka puasa Aceh. Cukup di rumah kalian saja ya. Namun, sebelum aku menceritakan proses pembuatan dan bahan apa saja yang digunakan ada baiknya kalian harus tahu manfaat dari bubur kanji Rumbi Aceh ini.


Manfaat Bubur Kanji Rumbi Aceh

Selain bubur kanji sebagai tradisi berbuka, ternyata, makanan ini diyakini memiliki multi khasiat. Di antaranya sebagai obat masuk angin dan maag. Pokoknya menyehatkan tubuh deh.

Apalagi bagi aku yang tinggal di dataran tinggi atau tepatnya di Bogor sekarang. Rasa dingin yang menusuk tubuh bisa terhangatkan oleh kehadiran bubur kanji rumbi ini.

Selain bermanfaat, ternyata disukai oleh anak-anakku yang baru mengenal namanya saja. Saat disantap, mereka mengatakan agar setiap hari berbuka dengan bubur kanji rumbi saja. He he.
Sudah ah, dari pada penasaran dengan rasa bubur kanji rumbi, yuk kita intip resep leluhur Aceh bawaan dari pedagang India ini.


Resep Bubur Kanji Rumbi Sehat dan Praktis


Foto : kumparan.com, desain by Canva



Bahan:

• 2 sdm minyak samin atau minyak goreng 
• 6 siung bawang merah, iris tipis 
• 2 siung bawang putih, iris tipis 
• 250 gram udang atau ayam cincang kasar goreng (untuk taburan di atas bubur kanji) 
• 1.5 gelas beras (jika ingin cepat lembek, rendam selama ½ jam setelah dicuci) 
• ½ ekor ayam dipotong dadu 
• 6 biji kapulaga 
• 3 cm batang kayu manis 
• 8 kuntum cengkeh 
• 1 buah bunga lawang 
• 1 lembar daun pandan, ikat simpul 
• Bawang goreng 
• Daun kari secukupnya 
• Garam secukupnya 


Bahan bumbu halus : 

• ½ sdt adas manis 
• ½ sdt merica 
• 1 biji pala 
• 1 sdt ketumbar, sangrai sebentar 
• 4 siung bawang putih 
• 1 ruas ibu jari jahe 


Cara Pembuatannya: 

  1. Tumis bawang merah dan bawang putih yang telah dirajang hingga harum. Masukkan semua bahan bubur kanji rumbi. Tambahkan bumbu halus. 
  2. Setelah harum, masukkan beras yang telah dicuci dan tambahkan air. Masak hingga beras benar-benar menjadi bubur. Biasanya sekitar 3-4 jam.
  3. Setelah matang, tata udang atau ayam suwir diatasnya. Jangan lupa bawang goreng yang ditaburi. 
  4. Bubur kanji rumbi siap disantap untuk berbuka puasa bersama keluarga tercinta. 
  5. Jangan lupa sajikan selagi hangat, agar efek manfaatnya lebih terasa. Selamat mencoba teman-teman.
Sekarang sudah tidak penasaran lagi kan dengan bubur kanji rumbi khas Aceh yang gurih dan kaya manfaat ini. Selain praktis dalam pembuatan, sehat pula untuk tubuh kita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan Blogging Mei 2020 yang diadakan oleh IIDN atau Ibu Ibu Doyan Nulis.


#TantanganBloggingIIDN


Sumber:

https://steemit.com/story/@abuarkan/asal-usul-bubur-kanji-kuliner-ramadan https://kumparan.com/acehkini/kanji-rumbi-aceh-takjil-ramadan-multi-khasiat-1r4QtMmBHEm/full
https://www.idntimes.com/food/recipe/reza-iqbal/resep-bubur-kanji-rumbi-khas-aceh/3

Minggu, 17 Mei 2020

Menikmati Lebaran di Tanah Rantau Saat Pandemi

Menikmati Lebaran di Tanah Rantau Saat Pandemi

Menikmati Lebaran di Tanah Rantau Saat Pandemi

posted by ana_susan 17 Mei 2020




Foto: Dokumen Pribadi, Lebaran di daerah rantau (Bogor)

“Lebaran kita di Bogor saja ya?”

Dulu kalimat itu sangat menyakitkan jika dilontarkan. Pasalnya, baru saja setahun belajar di Institut Pertanian Bogor. Saat puasa terasa sepi sekali, karena teman-temanku sudah mulai mudik. Hanya aku dan satu temanku yang belum pulang.

Aku pun sedih dan menyampaikan ke mama. Kalau aku ingin berpuasa dan berlebaran bareng mama dan papa. Akhirnya, mama mentranfer uang tiket pulang padaku. Beberapa hari kemudian aku pun berangkat dengan pesawat dan transit di Medan. Di sana suami telah menunggu untuk berangkat bersama menuju Aceh menggunakan bus.

Waktu itu kami belum memiliki momongan. Suami juga masih kerja di Aceh. Ditambah lagi kami masih pengantin baru. Adalah wajar jika rasa rindu bertumpuk-tumpuk menjadi satu.

Beberapa tahun berlalu. Kami pun telah dikaruniai tiga jundi yang soleh dan solehah. Untuk mudik pun harus mengumpulkan tabungan jauh hari sebelumnya. Dan hebatnya, aku dan anak-anak menanggapi dengan sikap biasa saja saat kalimat “Lebaran kita di Bogor saja ya?”.

Mungkin karena kami telah terbiasa jauh dari keluarga besar. Mungkin juga karena kami terbiasa merasakan sakit karena cobaan hidup dan tidak tergantung pada keluarga besar. Kadang, jika kami memiliki masalah, kami mencari solusi bersama. Pahit dan getir selalu dirasakan bersama-sama.

Maka wajar, jika tahun ini tidak jadi mudik karena pandemi disikapi dengan rasa biasa-biasa saja.
Semua pasti indah pada waktunya. Allah sebaik-baik yang merencanakan. Tidak ada yang bisa mengubah atau mengatur jika Allah telah berkehendak. Untuk mengisi kerinduan kami selama menunggu lebaran tiba atau tidak mudik, maka ada beberapa hal yang kami lakukan di Bogor. Hal ini bisa mengobati rasa rindu akan kampung halaman.

1. Masak Masakan Aceh

Hampir tiap hari puasa, makanan dan minuman kami disuguhi dengan masakan Aceh. Mulai dari tumis udang Aceh, ayam dimasak bistik, timun suri, bubur kanji, dan masih banyak lagi. Walaupun aku tidak begitu profesional dalam memasak, tapi setidaknya ada yang nyempil dikit soal rasa. Alhamdulillah suami dan anak-anak pada suka.

2. Mendengarkan Musik dan Tehnik Bangun Sahur Ala Aceh

Kalau yang satu ini, biasanya suami yang rajin mengupload musik bernafaskan lirik Aceh. Alunan nadanya enak didengar. Apalagi tehnik bangun sahur ala pemuda Aceh Brawe yang lagi viral. Dijamin deh, kalian yang mendengarkan pasti takjub. Kalau saja jadi mudik, aku pasti sudah mencari keberadaan mesjid itu.

3. Melihat Album Kenangan Lebaran tahun lalu

Foto adalah momen terindah saat kita ingin mengenang masa lalu. Melihat saat kita kecil, kemudian tumbuh menjadi remaja, dewasa hingga menikah. Kumpulan foto kelurga juga lengkap menghiasi album kita.

Saat aku merasa rindu pada mama dan papa serta saudara kandungku, aku pun melihat foto-foto mereka. Baik foto mudik tahun-tahun sebelumnya maupun foto yang mereka kirimkan padaku melalui whasapp. Ternyata suami dan anak-anak juga demikian.

Momen terindah yang paling disukai anak-anak adalah pantai. Jadilah foto-foto sekitar pantai yang selalu mereka lihat saat menunggu lebaran di Bogor. Semoga pandemi bisa segera berakhir, dan semoga tahun depan kita bisa pulang ke Aceh ya Neuk. Aamiin.

#ChallangeBPN_26
Hikmah Mudik yang Tertunda

Hikmah Mudik yang Tertunda

Hikmah Mudik yang Tertunda
Posted by ana_susan, 17 Mei 2020





Foto : Design by Canva



“Nak, kalian jadi pulang ke Aceh?”

Itulah sepenggal kalimat yang sering diucapkan oleh mama, beberapa hari menjelang lebaran. Kalimat itu akan lebih terasa manakala beliau mengatakannya sambil menelponku. Tarikan nafas panjang dan sedikit terdiam menandakan gumpalan rasa rindu yang telah lama terpendam. Demikian juga aku.

Sejak berkeluarga, aku harus mengikuti suami yang telah lama merantau ke pulau seberang. Meski antar pulau, namun jaraknya lumayan jauh. Untuk pulang saja harus menunggu tiket promo. Yah, wajar, karena kini aku tidak berdua lagi. Ada tiga orang anak yang selalu membersamaiku dan suami.
Kakak kandungku juga tidak ketinggalan menanyakan kapan pulang ke Aceh. Demikian pula adik laki-laki dan adik perempuanku. Jangan ditanya tentang papa. Pastinya beliau juga merindukan kami semua.

Jika dipikir-pikir, kesal juga sih, setahun menunggu untuk berkumpul bersama keluarga harus tertunda karena pandemi Covid-19. Namun, aku juga tidak menyalahkan takdir dari Nya. Semua yang telah terjadi sekarang merupakan skenario yang sangat bijaksana dari sang pencipta.

Mungkin kita tidak bisa menjamin keadaan di masa mendatang, namun Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambaNya. Akhirnya, aku pun menjelaskan pada kedua orang tua dan saudara kandungku, untuk tahun ini kami tidak bisa pulang. Mama dan papa pun sedih, tadinya berharap bisa melepaskan rasa rindu pada anak, menantu dan cucu. Namun, semua tertunda.

Masih terbayang suasana hari pertama lebaran. Berkumpul sambil makan lontong aceh buatan mama, kue timphan, belum lagi kue aceh yang lengkap dengan berbagai jenisnya. Tidak ketinggalan kue-kue kering yang menemani minum sirup cap patung sepanjang perbincangan.

Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari masalah sekolah suamiku, aku dan anak-anak. Semua terangkum indah dalam suasana yang fitri. Kami pun meninggalkan jejak dengan foto bersama keluarga. Jalan-jalan ke mesium tsunami, pantai dan masih banyak lagi.

Semakin aku mengenang momen itu, semakin aku rindu untuk mudik ke Aceh. Sebagai rasa untuk mengobati kesedihan itu, aku dan suami memasak makanan berbuka ala Aceh, memutar lagu-lagu bernafaskan Aceh dan melihat foto kenangan kami selama di Aceh.

Banyak hikmah yang bisa kami dapatkan dari mudik yang tertunda ini. Di antaranya, aku dan suami lebih fokus pada keluarga, lebih bisa fokus ibadah, meski hanya di rumah, namun setidaknya salat berjamaah antar kami ada. Uang tabungan juga bisa digunakan untuk keperluan yang lain.

Kami percaya, semua ini adalah yang terbaik untuk kami. Mudik yang tertunda bukan berarti Allah tidak sayang pada kami, tapi membuat kami selalu belajar untuk bersyukur. Bahwa masih banyak yang memiliki masalah yang sama selain kami.

#ChallangeBPN_25

Sabtu, 16 Mei 2020

5 Alasan Kampung Halaman Selalu Dirindukan Saat Lebaran

5 Alasan Kampung Halaman Selalu Dirindukan Saat Lebaran

5 Alasan Kampung Halaman Selalu Dirindukan 
Saat Lebaran

Posted by ana_susan, 16 Mei 2020

Foto: Dokumen Pribadi, bertemu keluarga saat lebaran

“Sejauh apapun kaki ini melangkah, kampung halaman tetaplah menjadi idola setiap tahunnya untuk dikunjungi”


Sebagai anak rantau yang telah berkeluarga, aku masih merindukan kampung halaman. Keharusan mengikuti suami yang telah bekerja di pulau seberang membuat rasa rindu di hati menggebu-gebu saat lebaran kian mendekat.

Tabungan pun telah disiapkan dari bulan-bulan sebelumnya. Oleh-oleh yang disiapkan sebelum beberapa hari keberangkatan telah rapi di dalam beberapa kotak untuk dibagikan di sana.

Tidak lupa amplop angpao yang masih kosong masuk dalam tas kecilku. Semua telah lengkap dan siap berangkat menuju tanah rencong. Tanah kelahiranku, tempat suka dan dukaku serta tempat berkumpulnya sanak saudara.

Namun sangat disayangkan, untuk tahun ini, kami harus tetap di negeri perantauan. Berdiam diri di rumah, melakukan aktivitas di rumah belanja dari rumah dan tetap menjaga kesehatan.

Rasa sedih berita yang diterima oleh kedua orang membuatku merasa kasihan. Namun, perlahan kuberi pengertian bahwa semua suasana ini akan segera berubah sepeerti sediakala jika Allah telah berkehendak.

Banyak alasan yang membuatku diburu rasa rindu saat ke kampung halaman. Seperti takbira, salat idul fitri berjamaah di lapangan, menikmati kudapan khas lebaran. Kumpul bersama keluarga dan silaturahmi ke teman dan keuarga besar.

1.Takbiran

Takbiran di Aceh dilakukan saat malam lebaran tiba. Suara takbir yang keras terdengar dari setiap mesjid. Ada lagi mobil yang berisi anak-anak dan remaja plus orang dewasa untuk melakukan takbir keliling setiap kampung. Semua itu terlihat meriah sekali.

2.Salat Idul Fitri

Di pagi harinya, yakni hari pertama lebaran, semua masyarakat Aceh berbondong-bondong ke lapangan untuk melakukan salat idul fitri. Jika hujan salat beralih ke mesjid. Bagiku ada kesan tersendiri saat salat di lapangan seperti ini. Aku berkhayal seolah sedang berkumpul di padang mahsyar dengan pakaian serba putih.

3.Menikmati Kuliner Khas Lebaran Aceh

Aceh dikenal dengan kuliner rempahnya. Jadi masakan lebaran di Aceh tidak jauh dari aroma-aroma rempah yang biasa tersaji di meja makan. Makanan khas lebaran di Aceh adalah, lontong sayur plus daging, timphan, wajik, air timun yang dicampur dengan sirup cap patung, dan masih banyak lagi.

Untuk kue keringnya seperti, seupet kuwet, bolu bhoi, keukarah, bungong kayee dan beberapa kue kering lainnya. Semua tersaji dengan lengkap.

4.Kumpul Bersama Keluarga

Momen yang paling mengharukan buatku pribadi adalah momen bermaafan dengan kedua orang tua dan saudara kandung. Setelah bertahun-tahun bersama, pasti ada kata yang khilaf yang telah menyinggung perasaan kedua orang tua. Tanpa disengaja maupun tidak. Semua itu akan terobati manakala kita telah meminta maaf terlebih dahulu pada mereka.

5.Silaturahim

Hal yang dirindukan saat lebaran tiba lainnya adalah silaturahim ke keluarga besar dan teman. Tradisi ini aku lakukan untuk mempererat tali persaudaraan dan untuk bertemu teman yang telah jauh merantau di mana-mana. Kadang ajang ini aku anggap dengan reuni.

Itulah lima alasan yang membuatku selalu merindukan kampung halaman saat lebaran tiba. Aku yakin kalian juga memiliki hal yang sama. Apalagi sebagai perantau. Yuk share di kolom komentar apa yang kamu rindukan saat lebaran tiba.

#ChallangeBPN_24
3 Makanan Khas Aceh Saat Lebaran Tiba

3 Makanan Khas Aceh Saat Lebaran Tiba

Perbarui Hati Setelah Baju

Perbarui Hati Setelah Baju


Selalu Banyak Harapan di Tiap Ramadan

Selalu Banyak Harapan di Tiap Ramadan

Minggu, 10 Mei 2020

5 Dampak Positif yang Muncul Saat Pandemi Covid-19 di Bulan Puasa

5 Dampak Positif yang Muncul Saat Pandemi Covid-19 di Bulan Puasa

5 Dampak Positif yang Muncul Saat Pandemi Covid-19 di Bulan Puasa

Posted by ana_susan 10 Mei 2020


Foto : pexels.com



Sejak pemerintah memutuskan untuk lockdown, semua masyarakat terkejut. Apalagi keputusan tersebut berdasarkan dua kasus pertama di Indonesia yang kemudian meningkat di awal Maret.

Tidak hanya nyawa yang terenggut, pekerjaan pun tidak ketinggalan. Banyak orang-orang di PHK, sehingga mereka bingung untuk mencukupi keluarganya. Semua itu sangat menyakitkan, sehingga mau tidak mau mereka dituntut memutar otaknya untuk beralih ke pekerjaan lain.

Namun demikian, ada dampak positif yang bisa kita rasakan. Setidaknya sebagai sebuah hikmah dari sang Pencipta. Lima dampak positif tersebut adalah

1. Peduli Kesehatan

Secara tidak langsung, ternyata kita terbawa untuk selalu bersih dan bersih. Baik diri,pakaian maupun lingkungan. Semua dilakukan demi menjaga diri dan keluarga dari tertularnya virus Corona.

Dulu mungkin, kita tidak begitu sensitif dengan yang namanya cuci tangan, cucinya hanya sekedar cuci saja atau tidak memakai masker saat keluar rumah. Namun sekarang, cuci tangan harus menggunakan sabun, membawa hand sanitazer dan memakai masker saat keluar rumah. Belum lagi setiap lingkungan sekitar sering disemprotkan dengan desinfektan.

2. Udara Lebih Bersih

Dengan penghentian aktivitas manusia untuk sementara waktu, ternyata membawa dampak yang sangat besar bagi lingkungan. Udara kotor yang biasanya dipenuhi dengan polusi uadara, baik yang berasal dari pabrik, asap kendaraan berubah menjadi bersih, seingga terlihat langit yang cerah di beberapa kota besar.

Tidak itu saja, air sungai, danau pun menjadi jernih, karena tidak adanya aktivitas pabrik dan manusia sekitar. Sehingga ikan yang biasanya tidak terlihat, kini bisa dinikmati oleh mata kita.

3. Lebih Sering Kumpul Sesama Keluarga

Aktivitas yang sibuk antar anggota keluarga kadang tidak sempat bertemu untuk sekedar berdiskusi. Pertemuan hanya dengan sapaan saja. Namun setelah pandemi berlangsung, ikatan antar keluarga jadi semakin dekat. Orang tua dan anak-anak memiliki hubungan yang begitu erat.

4.Lebih Empati

Munculnya kekurangan ekonomi di beberapa daerah, bahkan tetangga kita sendiri, memunculkan rasa empati untuk saling membantu antar sesama. Karena musibah ini dirasakan bersama, setidaknya, segala kebutuhan orang-orang yang membutuhkan pun layak untuk diprioritaskan.

5. Munculnya Kegiatan Positif

Sejak, merebaknya pandemi Covid-19, banyak kegiatan harus dilakukan di rumah saja. Jika hanya bergelut dengan smartphone tentu bosan juga kan. Namun kadang, ide kreatif muncul untuk mengisi waktu luang tersebut.

Ada yang suka merajut tapi karena waktu yang tidak cukup akhirnya terabaikan. Namun saat pandemi semua muncul. Belum lagi yang hobi melukis, menggambar atau yang lainnya, semua muncul tanpa disengaja. Sehingga kegiatan positif ini menjadi dampak yang positif harus disyukuri oleh kita.

Inilah lima dampak positif yang muncul saat pandemi Covid-19 di bulan puasa. Semoga ada manfaatnya. Yakinlah apapun yang telah Allah tetapkan pada kita merupakan yang terbaik untuk kita. Jangan pernah putus asa dan tetap semangat.


#ChallangeBPN_20

Sumber :


Bakpau dan Donat dengan Bahan Dasar Sama Camilan Praktis Saat Berbuka Puasa

Bakpau dan Donat dengan Bahan Dasar Sama Camilan Praktis Saat Berbuka Puasa

Bakpau dan Donat dengan Bahan Dasar Sama Camilan Praktis Saat Berbuka Puasa

Posted by ana_susan 10 Mei 2020


Foto : Dokumen Pribadi


Siapa sih yang tidak suka camilan? Jangankan anak kecil, orang dewasa sampai yang sudah tua pasti sangat menyukai camilan. Camilan tradisional apalagi. Di sampaing rasanya unik, tentu memberi kesan tersendiri bagi si pembuat maupun yang memakannya.

Camilan ada banyak ragamnya. Ada camilan basah dan ada pula yang kering. Camilan basah seperti puding, agar, dan sejenisnya. Sedangkan camilan kering seperti kue-kue kering yang tersaji saat lebaran tiba.

Untuk camilan bakpau dan donat, semua orang pasti suka. Makanan favorit di kalangan anak-anak ini kerap disediakan oleh orang tua mereka saat ke sekolah. Pembuatannya juga terbilang mudah dan sederhana. Untuk bahannya juga relatif murah. Memang sih ada beberapa resep donat atau bakpau dengan bahan yang mahal dan komplit. Tentu harganya juga premium.

Namun, aku ingin memperkenalkan dua kue dengan bahan dasar sama, hanya pematangannya berbeda kalian akan menghasilkan dua jenis camilan sekaligus. Bahannya juga mudah ditemukan di warung terdekat. Apa sajakah bahan untuk bakpau dan donat tersebut?

Bahan Dasar Bakpau  dan Donat

Bahan Adonan Dasar :

Terigu 1 kg
Ragi 1 sdm
Gula Pasir secukupnya
Minyak Goreng secukupnya
Air hangat secukupnya (Untuk Donat tanpa penambahan gula di adonannya)

Cara Pembuatannya:

1. Buat biang adonan: campurkan sedikitnya terigu dan ragi dengan air hangat. Diamkan sampai              muncul bintik-bintik berupa gelembung udara sebagai tanda ragi telah aktiif.


Biang adonan, Foto: Dokumen Pribadi


2. Siapkan terigu, minyak goreng, lalu masukkan air hangat.


Terigu, minyak goreng, air hangat dan biang adonan dicampurkan, Foto : Dokumen Pribadi


3. Masukkan biang adonan kedalam campuran tadi. Tambahkan air hangat sedikit demi sedikit. Uleni      hingga kalis (tidak lengket di tangan).


Adonan yang telah kalis (tidak lengket), Foto : Dokumen Pribadi


4. Jika telah kalis, bagi adonan menjadi dua bagian. Adonan pertama untuk bakpau dan adonan                kedua  untuk donat.


Adonan bakpau dan donatbyang telah dibagi dua, Foto : Dokumen Pribadi


5. Adonan bakpau harus ditambahkan gula sesuai tingkat kemanisan kita masing-masing. Uleni lagi        hingga tercampur sempurna.

 6. Setelah itu adonan bakpau dimasukkan isinya sesuai selera. Kalau aku biasanya dengan selai coklat/strawberry/blueberry/abon/kacang hijau/kornet.

7. Diamkan kedua adonan. Jika telah mengembang, adonan bakpau dikukus. Sedangkan adonan donat digoreng.

8. Untuk bakpau siap disajikan. Sedangkan untuk donat bisa kita maniskan dengan gula pasir yang digongseng dengan sedikit air atau dengan topping sesuai selera. Misalnya dengan dicelupkan ke dalam coklat cair, atau ditaburi dengan meses.

10. Sekarang bakpau dan donat siap disantap oleh seluruh anggota keluarga.


Donat dan bakpau yang siap disantap, Foto : Dokumen pribadi


Itulah camilan praktis dariku dengan bahan dasar yang sama dapat menciptakan dua jenis camilan sekaligus. Ini bisa disantap saat berbuka puasa maupun untuk camilan anak sehari-hari.

Alhamdulillah, jenis camilan ini sangat digandrungi anak-anakku dan anak-anak tetanggaku. Semoga bermanfaat ya. Yuk share resep camilanmu di kolom komentar ya.

#ChallangeBPN_19